Tim PKM Dikti Fakultas Ekonomi UBB Gelar Pelatihan Digital Marketing untuk UMKM dan Petani Kakao

Hilirisasi pangan, termasuk kakao, lebih berkelanjutan dibandingkan hilirisasi mineral karena langsung menyentuh kehidupan petani

Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Penyerahan bibit kakao berserta pupuk dan mesin pengolahan coklat oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) DIKTI 2025 kepada para petani dan UMKM, di Puri 56 Hotel & Resto, Jumat (29/8/2025). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi menggelar pelatihan strategi pemasaran berbasis digital bagi pelaku UMKM dan petani kakao. 

Kegiatan yang merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) DIKTI 2025 itu berlangsung di Puri 56 Hotel & Resto, Jumat (29/8/2025).

Pelatihan menghadirkan Merinda Haris, Ketua Komunitas Kovertur Bangka (KOKOA) sekaligus pemilik brand Cokelat CandU, sebagai narasumber utama. Ia berbagi strategi pemasaran digital yang dapat diadopsi oleh UMKM dan petani kakao agar produk mereka memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.

"Senang sekali rasanya karena ternyata akademisi di UBB juga peduli terhadap industri cokelat di Bangka Belitung. Kepedulian itu diwujudkan dalam aksi nyata, mulai dari pelatihan, pemberian mesin pengolahan cokelat, bibit, hingga pupuk bagi komunitas," ujar Merinda kepada awak media, Jumat (29/8/2025).

Merinda menambahkan, saat ini KOKOA sudah memiliki sekitar 40 anggota, terdiri dari petani dan pelaku UMKM yang kian bertambah setiap harinya. Ia berharap semakin banyak pihak, baik akademisi maupun instansi lain, yang ikut mendorong pengembangan kakao Bangka Belitung.

Sebagai bentuk dukungan, tim pengabdi DIKTI yang diketuai oleh Dr. Reniati bersama Dr. Devi Valeriani dan Dr. Rostiar Sitorus menyerahkan bantuan berupa mesin pengolahan cokelat kepada Cokelat CandU. Selain itu, sebanyak 300 bibit kakao dan pupuk juga dibagikan kepada petani kakao yang hadir dalam pelatihan.

Menurut Reniati, langkah ini penting sebagai upaya diversifikasi ekonomi di Bangka Belitung yang selama ini terlalu bergantung pada komoditas timah. Ia menilai kakao dapat menjadi salah satu komoditas unggulan baru.

"Struktur ekonomi kita saat ini masih didominasi oleh timah. Namun ketika tata kelola timah bermasalah, terbukti ekonomi kita ikut melambat. Karena itu, kita harus menebarkan peluang pada komoditas lain, salah satunya kakao," jelas Reniati.

Ia menekankan bahwa hilirisasi pangan, termasuk kakao lebih berkelanjutan dibandingkan hilirisasi mineral karena langsung menyentuh kehidupan petani. 

"Cokelat memiliki nilai tambah tinggi, disukai berbagai kalangan, dan punya manfaat kesehatan. Produk artisan lokal seperti yang dikembangkan Mbak Merinda bisa menjadi ikon baru Bangka Belitung kedepan," katanya.

Dengan dukungan akademisi, komunitas dan petani, Dia berharap industri kakao Bangka Belitung dapat berkembang tidak hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai produk unggulan yang memiliki nilai jual tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Sumber: bangkapos
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved