Tribunners

Menulis Dimulai dari Mana?

Menulis merupakan sebuah keterampilan yang memiliki daya kritis. Daya kritis dalam hal ini adalah menggagas hal yang tak jauh darinya

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Ridwan Mahendra, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia di SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta 

Oleh: Ridwan Mahendra, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia di SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta

ADA yang menarik saat saya membaca tulisan karya Rusmin Sopian penulis asal Toboali yang termuat dalam rubrik Tribunners Bangka Pos berjudul Pelajar Penulis dari Negeri Junjung Behaoh (Kamis, 26 Desember 2024). Tulisan tersebut memiliki makna yang mendalam dengan kalimat, "Di era milenial tentunya harus mengambil peran di garda depan untuk selalu produktif dan ikut serta dalam memecahkan problem kebangsaan yang kian hari makin menantang."

Saya meyakini benar adanya dan sejalan dengan kalimat yang selalu ditanyakan kepada saya oleh beberapa orang, kalimat tersebut berbunyi, "Menulis dari mana?" 

Itulah kalimat yang muncul saat saya ditanya oleh beberapa orang yang tertarik pada dunia kepenulisan. Untuk menjawab hal tersebut, tentu menulis dimulai dari "keinginan" seseorang untuk memulai dan membuat karya dalam bentuk tulisan.

Menulis sendiri merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dalam menuangkan karya dalam bentuk kata demi kata. Kata demi kata tentu harus memiliki makna di dalamnya. Menulis merupakan sebuah keterampilan yang memiliki daya kritis. Daya kritis dalam hal ini adalah menggagas hal yang tak jauh darinya.

Menulis dari Nol

Menulis berbeda dengan berbicara ataupun berdebat. Menulis memiliki kecenderungan dalam mengolah kata agar diterima di khalayak. Memang tidak mudah, perlu berlatih lebih tekun untuk mencapai itu semua. 

Berdasarkan pengalaman penulis, menulis dapat diibaratkan sebagai senjata dalam mengemukakan gagasannya. Untuk mencapai gagasan dan diterima khalayak, seorang penulis harus memahami pembaca yang dituju. Menulis di kolom seperti Bangka Pos misalnya, sebelum memulai menulis, seorang penulis harus memahami gaya bahasa (selingkung) yang disajikan dalam rubrik Bangka Pos tersebut. 

Pertama, seorang penulis harus rajin membaca. Membaca apa saja yang tersaji dalam media tersebut. Misal saya ingin menulis opini khas Bangka Pos, hal utama yang saya baca tentu opini-opini dari penulis yang tersaji di dalam rubrik kolom opini Bangka Pos.

Dengan membaca kolom yang ingin dituju, jelas harus membaca gaya selingkung khas media tersebut. Mustahil seseorang bisa menulis tanpa sebelumnya membaca.

Kedua, keresahan. Apabila seseorang memiliki keresahan yang berkaitan dengan dirinya, tentu akan mudah dalam menuangkan keresahannya dalam bentuk tulisan. 

Misal saya sering memiliki keresahan dalam dunia pendidikan, maka yang ingin saya tuju tentu tentang pendidikan. Untuk siapa sih pendidikan itu? Untuk kebaikan seluruh akademisi yang tergolong di dalamnya.

Ketiga, mengaktualisasikan diri. Dengan menulis dapat mengaktualisasikan diri dan bukan popularitas semata. Tulisan yang baik didasari atas kecintaan dalam dunia kepenulisan.

Kecintaan dalam "dunia pena" secara tidak langsung dapat mengaktualisasikan serta mem-branding diri seseorang dan bukan sekadar dikenal, tetapi juga menjadi fondasi seseorang dalam berkarya.

Keempat, pemecahan masalah. Menulis bukan sekadar menuangkan tulisan. Menuangkan tulisan yang baik tentu harus menjawab suatu permasalahan, sebagai contoh saya menulis pencegahan judi daring di kalangan pelajar misalnya. Tentu dalam tulisan saya tersebut harus menawarkan solusi dan harapannya dapat mengentaskan permasalahan yang terjadi khususnya dalam maraknya judi daring di kalangan pelajar.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved