Selasa, 28 April 2026

Uang Palsu UIN Alauddin Makassar Justru Dibuat Saat Kampus Ramai, Andi Ibrahim Modif Perpusnya

Alih-alih dibuat dalam keadaan sepi, pembuatan uang palsu di UIN Alauddin Makassar justru dibuaat pada siang hari ketika kampus ramai.

Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: M Zulkodri
tribun
Sosok Andi Ibrahim, Kepala Perpustakaan UIN Makassar - Uang Palsu UIN Alauddin Makassar Justru Dibuat Saat Kampus Ramai, Andi Ibrahim Modif Perpusnya 

BANGKAPOS.COM - Alih-alih dibuat dalam keadaan sepi, pembuatan uang palsu di UIN Alauddin Makassar justru dibuaat pada siang hari ketika kampus ramai.

Cara tersangka Andi Ibrahim selaku Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar ini dilakukan untuk mengelabuhi warga kampus seperti satpam, mahasiswa hingga rektor.

Andi Ibrahim dan komplotannya bahkan mencetak uang palsu itu pada siang hari ketika ada jadwal perkuliahan.

Cara itu relatif sukses karena bisa beroperasi di kampus UIN Alauddin Makassar selama sekitar 2 tahun.

Adalah Syahruna, operator mesin cetak uang palsu yang ia ditugasinya untuk bekerja pada siang hari.

Sebagai informasi, di kampus, Andi Ibrahim menjabat Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar.

Selain mencetak uang palsu di siang hari agar tak ada yang curiga, Andi Ibrahim cs juga melengkapi ruangan mereka bekerja dengan peredam.

Karena jabatannya sebagai pimpinan di sana, ruang perpustakaan yang dijadikan sebagai tempat percetakan uang palsu pun di modifikasi.

Hal itu dibongkar oleh Syahruna, seorang tersangka kasus pabrik uang palsu di UIN Alauddin Makassar.

"Dikasih peredam agar nggak kedengeran. Jendela semua ditutup," kata Syahruna, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Selasa (31/12/2024).

Syahruna menceritakan, ada 19 tahapan yang harus dilewati agar uang palsu siap untuk diedarkan.

Satu saja tahapan tidak lolos, maka uang palsu akan cacat dan terpaksa dibuang.

"Ada 19 tahapan, kalau ada salah satu tahapan rusak, maka gagal dan dibuang."

"Dari 19 tahapan itu harus lulus semua," urai Syahruna, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Selasa (31/12/2024).

Syahruna lantas menguraikan secara garis besar tahapan produksi uang palsu.

Semua dimulai dari tahapan mencetak benang pengaman dan tanda air.

Pembuatan kedua item itu menggunakan mesin sablon.

"Setelah itu cetak UV-nya dan magnetik agar lolos dari mesin (cek uang palsu)," tambahnya.

Syahruna menceritakan, di awal pembuatan uang palsu, ia dan kawan-kawan tidak memproduksi banyak.

Awalnya hanya ada satu rim atau 500 lembar uang palsu.

"Sedikit dulu karena itu butuh proses," katanya.

Syahruna mengaku dari 200 lembar komplotannya mampu memproduksi uang palsu sebanyak Rp 100 juta.

Sedangkan bahan-bahan sebelumnya sudah disimpan digudang.

Lokasinya berada di lantai dua gedung perpustakaan.

Syahruna menjelaskan, semua bahan berasal dari China.

"Pesan di China semua," tambahnya.

Baca juga: Modus Pria Ponorogo ini Gasak Ratusan Rokok dan Uang di Toko, Pura-Pura Tunggu Penumpang

Bagi tugas

Syahruna dalam kasus ini berperan sebagai operator mesin pecetak uang.

Ia dibantu tersangka lain bernama Ibrahim.

"Ibrahim dia koordinator tempat dan situasi," ujar Syahruna.

Syahruna juga mengaku pabrik uang palsu berada di perpustakaan UIN Makassar.

"Dikasih peredam agar nggak kedengeran. Jendela semua ditutup," timpalnya.

Syahruna menguraikan, produksi uang palsu dimulai dari jam 11.00 menjelang siang hingga 17.00 sore.

Seminggu sebelum terbongkar, pabrik semakin menggenjot produksinya.

Bahkan, Syahruna harus lembur hingga pagi.

Para pencetak uang palsu ini diperintahkan agar bekerja sesuai jam kantor.

Mereka takut ketahuan karena ada sekuriti yang patroli secara rutin.

Ditambah, saat produksi mesin mengeluarkan suara sehingga bisa menimbulkan kecurigaan.

Baca juga: 5 Fakta Kasus Pabrik Uang Palsu di UIN Alauddin, Polres Gowa Sudah Tetapkan 15 Orang Tersangka

Gunakan mesin cetak khusus

Belakangan terungkap, mesin pencetak uang palsu di UIN Makassar berasal dari China.

Mesin dibeli dengan harga Rp 600 juta.

Syahruna menyebut, mesin memiliki tingkat presisi yang tinggi dibandingkan mesin cetak pada umumnya.

"Tingkat presisi lebih tinggi, lebih akurat. Cuma sayangnya saya belum sempat mahir untuk mempergunakan," sesalnya.

Ada pesanan untuk Pilkada 2024

Syahruna bisa mengoperasikan mesin pencetak uang palsu secara otodidak.

Ia diminta belajar sendiri oleh bosnya, Annar Sampetoding Dalang alias ASS.

Syahruna menyebut tidak ada rencana pabrik ini memproduksi uang asing.

Hanya saja, dirinya sempat mendapatkan orderan uang palsu untuk Pilkada 2024.

"Ada pesanan katanya berapa miliar untuk Pilkada. Saya tidak menanggapi begitu serius," akunya.

Di akhir pengakuannya, Syahruna bersedia bergabung karena dijanjikan mendapatkan bagian uang palsu.

Setiap 10 lembar uang yang diproduksi, dirinya mendapatkan 1 bagian.

"Dijanjikan juga dibelikan tanah dan rumah oleh (tersangka) Ibrahim," tandasnya. (Tribun jatim/ Bangkapos.com)

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved