Rabu, 6 Mei 2026

Tribunners

Adiksi HP Berisiko Mengancam Kesehatan Anak

Daripada memberikan anak HP, lebih baik orang tua memberikan waktunya untuk mengajak berbicara anak-anaknya

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Chairul Aprizal - Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku UPT Puskesmas Airbara 

Oleh: Chairul Aprizal - Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku UPT Puskesmas Airbara

KEMAJUAN pesat teknologi dan informasi memengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Kemajuan ini disebut sebagai era modernisasi yang membuat segala aktivitas kehidupan menjadi lebih mudah dan tanpa batas dengan kehadirannya. Termasuk juga pengaruh modernisasi terhadap dunia kesehatan dan parenting. Salah satu yang melekat dari era ini adalah kehadiran teknologi informasi yang makin maju dengan memanfaatkan handphone (HP).

Fenomena menarik melihat anak-anak sekarang yang bercengkerama dengan gawai (HP) hanya untuk bermain game, media sosial, atau menonton video. Orang tua sengaja memberikan HP sebagai cara membuat anaknya menjadi tidak rewel saat berada dalam masa pengasuhan (parenting). Padahal, memberikan anak HP sebagai salah satu bentuk parenting di zaman modern adalah sebuah ancaman yang dapat merenggut kesehatannya. 

Perangkat digital (HP) sering dijadikan sebagai media untuk mengasuh si kecil. Bahkan banyak orang tua di era modern ini sudah memperkenalkan HP kepada buah hatinya sejak pertama lahir (newborn) dan paling sering ditemukan ketika MPASI (6 bulan ke atas). Anak diberikan beberapa tontonan dari HP seperti Pinkfong, Cocomelon, dan sebagainya yang katanya membuat si kecil makan jadi lahap. Padahal HP membuat anak tidak sadar dengan apa yang dimakannya. Konsentrasinya untuk menikmati setiap kunyahan makanan dimulut menjadi teralihkan dengan tontonan HP. Tentu hal ini dapat berdampak pada tumbuh kembangnya.

Salah satu di antara yang terhambat akibat pengasuhan dengan HP adalah saraf oromotornya. Oromotor ini adalah saraf motorik oral yang bisa didapat dengan dilatih karena tidak didapat secara instan. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan, apabila tidak dilatih dapat menyebabkan air liur berlebih, kesulitan mengisap/mengunyah/menelan, dan berbicara.

Kebiasaan bayi diberikan HP dengan tontonan ini sering terjadi di era modern (sekarang). Orang tua yang menerapkan cara keliru ini sering kali beralasan agar anaknya tidak rewel dan dapat tenang dengan mudah. Orang tua biasa mempraktikkannya ketika bayi/anak menangis atau rewel, ketika sedang di perjalanan, ketika sedang makan, dan lain sebagainya. Kegiatan pengasuhan yang dipraktikkan kebablasan menjadikan orang tua malas untuk memberikan pengasuhan terhadap anaknya. Akhirnya anak disodorkan HP terus-menerus apa pun aktivitas si kecil. 

Era modernisasi telah menjadikan manusia harus hidup berdampingan dengan gadget. Rasanya tidak ada satu pun orang yang mampu melepaskan diri dari gadget selama masih melakukan interaksi dalam setiap kebutuhan hidupnya. Tetapi penggunaan gadget tetap tidak boleh disalahgunakan dengan menjadikannya sebagai media pengasuh si kecil. 

Ketika anak makan sambil menonton, para ahli berpendapat bahwa dampaknya adalah mindless eating yaitu kondisi di mana anak tidak menyadari kapan anak kenyang, membuat anak menjadi obesitas, mengganggu konsentrasi, dan tidak terstimulasi cara makan yang baik. Radiasi pada HP juga sangat berbahaya bagi perkembangan saraf dan penglihatannya.

Fenomena HP juga bukan hanya tidak boleh terjadi pada pengasuhan anak bayi, tetapi juga anak usia sekolah dasar (SD). Dekatnya teknologi modern dengan kehidupan manusia membuatnya tidak dibatasi usia. Anak-anak SD saat ini juga banyak yang sudah menggunakan HP, baik itu untuk membantu proses belajar di sekolah ataupun bermain. Kebanyakan dari anak-anak yang sudah diberikan HP akan berdampak pada kecanduan atau ketergantungannya dengan HP. Anak-anak yang sudah menggunakan HP akan sulit sekali lepas dari HP-nya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), 33,44 persen anak usia dini di Indonesia sudah bisa menggunakan ponsel pada tahun 2022. Rinciannya, 25,5 persen anak berusia 0-4 tahun dan 52,76 persen anak berusia 5-6 tahun. 
Selain itu, berdasarkan survei terhadap anak-anak dari 34 provinsi di Indonesia, lebih dari 19 persen remaja di Indonesia mengalami kecanduan gadget. Yang dikhawatirkan dari kecanduan terhadap HP adalah merusak kesehatan anak itu sendiri baik kesehatan fisik maupun mental dan sosialnya.

Anak-anak yang sering kali menghabiskan waktunya setiap hari dengan gadget dapat berdampak pada kesehatannya. Salah satu yang berdampak pada kesehatan fisik adalah merusak penglihatan anak akibat paparan cahaya layar HP. Anak-anak yang ketergantungan/kecanduan (adiksi) HP bisa jadi nafsu makannya kurang atau lebih sehingga menyebabkan obesitas. Mengutip dari jurnal Ilham Kamaruddin, dkk (2023), bahwa kesehatan mental dan motivasi belajarnya akan terganggu akibat kecanduan HP. Membuat siswa menjadi susah tidur sehingga menyebabkannya kelelahan di pagi hari.

Dengan keseringan bermain HP membuat siswa berisiko tinggi kecemasan, stres, depresi. Hal ini disebabkan karena pengaruh HP dan isi di dalamnya. Misal gadget digunakan untuk bermain game berlebihan membuatnya terfokus pada target-target yang harus dikejar di dalam game tersebut sehingga membuatnya stres, cemas, atau depresi. Bisa juga anak-anak yang menggunakan HP untuk mengakses media sosial terkena cyberbullying, hoaks, ujaran kebencian, atau intimidasi lainnya sehingga membuatnya stres, cemas, dan/atau depresi.

Anak-anak memang tidak disarankan untuk bersentuhan dengan HP. Bahkan seorang pendiri Microsoft yaitu William Henry Gates III atau akrab disapa Bill Gates melarang dan membatasi anak-anak dalam menggunakan HP. Mengutip dari CNBC (25/09/2024), Dalam wawancara terbaru dengan Mirror, sang maestro teknologi ini mengungkapkan anak-anaknya tidak diizinkan memiliki HP sampai pada usia 14 tahun. 

Dikutip dari Kompas.com (30/08/2023), beberapa negara di belahan dunia ini juga mempunyai aturan yang ketat mengenai penggunaan HP bagi anak-anak. Seperti Malaysia, memberikan hak kepada guru untuk merampas HP siswa yang berada di lingkungan sekolah. Belanda juga menerapkan hal yang sama untuk melarang penggunaan HP di sekolah. 

China juga melarang siswa menggunakan HP sejak tahun 2018 kecuali ada izin tertulis dari orang tua. UNESCO ikut mengimbau seluruh negara di dunia untuk melarang penggunaan teknologi termasuk HP. Dari semua aturan ini sama dengan banyaknya penelitian yang dilakukan oleh para ahli bahwa penggunaan HP di sekolah dapat berpotensi pelanggaran disiplin dan mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. 

Bahwa anak-anak yang kecanduan HP baik masih dalam MPASI atau usia sekolah dasar akan mengurangi interaksi sosialnya. Kecanduan HP ini juga berdampak terganggunya interaksi sosial pada orang dewasa. Anak-anak yang terganggu interaksi sosialnya akan menjadi anak-anak yang mudah marah, kurang berkomunikasi, penyendiri, dan sering melamun.

Anak-anak yang kerjaannya bermain HP seharian mengurangi kesempatannya untuk berinteraksi sosial dengan orang-orang terdekatnya. Padahal, interaksi sosial itu penting untuk meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan dan sosial masyarakat. Jurnal Azivah Zahrianis, dkk (2024) membuktikan kalau anak-anak yang tinggal di kompleks sepi dan jarang berinteraksi sosial menjadikannya anak yang introvert, pendiam, susah bergaul, dan kurang peduli. 

Pola pengasuhan terbaik untuk mencegah anak bermain HP adalah memberikan waktu bersama orang tuanya untuk berkomunikasi. Berkomunikasi dengan orang tua mampu mencegah anaknya bermain HP. Komunikasi antara orang tua dan anak terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak. 

Dalam jurnal Salma Rozana, dkk (2019),  menjelaskan perkembangan kognitif anak usia dini dipengaruhi oleh faktor hereditas dan lingkungan. Pada faktor lingkungan salah satu yang dapat meningkatkan perkembangan kognitif adalah hubungan sehat antara orang tua dan anak. Hubungan yang dibangun lewat komunikasi atau interaksi dapat membangun kepekaan anak untuk membentuk karakternya menjadi manusia yang peka dan dapat berinteraksi sosial dengan baik kepada siapa pun nantinya.

Daripada memberikan anak HP, lebih baik orang tua memberikan waktunya untuk mengajak berbicara anak-anaknya atau sekadar mengajaknya bermain bersama. Hilangkan rasa malas untuk hal instan yang diberikan kepada anak, cobalah untuk lebih mengorbankan dan melibatkan diri sendiri supaya dapat berperan sebagai orang tua. 

Memberikan HP kepada anak jangan jadi jalan ninja dalam mengasuh anak. Apalagi anak-anak yang diberikan HP, tidak diberikan bekal literasi yang cukup untuk anak. Literasi yang dimaksud adalah literasi digital yang membuat anaknya memahami penggunaan HP tidak boleh berlebihan atau disalahgunakan.

Bagi anak yang sudah kecanduan (adiksi) HP kadang sulit sekali untuk melarangnya berhenti bermain HP. Caranya adalah dengan membatasi waktunya bermain HP. Batasi waktu anak menggunakan HP jangan melebihi waktu aktivitas hariannya. Banyak dokter dan ahli merekomendasikan anak-anak hanya boleh bermain HP 1 sampai 2 jam saja sehari tidak lebih. Pentingnya peran orang tua untuk bisa memberikan waktunya untuk bermain, belajar, dan berkumpul bersama anak dalam setiap harinya. 

Lebih baik mencegahnya sekarang daripada anak tumbuh tidak terarah tanpa pengasuhan orang tua yang baik. HP tidak pernah jadi solusi untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan anak. HP hanya menjadi media atau alat untuk membantu manusia mendapatkan informasi lebih cepat dan mudah, bukan sebagai media pengasuhan. Adiksi HP dapat mengancam kesehatan anak, baik kesehatan fisik maupun mental. Lebih jauh dari itu HP dapat mengurangi kemampuannya untuk berinteraksi sosial. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved