Senin, 13 April 2026

Tribunners

Mengelola Stres dan Meningkatkan Produktivitas Guru 

Guru yang sehat secara mental dan produktif adalah kunci bagi pendidikan yang berkualitas

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dr. Kartika Sari, M.Pd.I. - Pengawas Madya Kementerian Agama Kota Pangkalpinang 

Oleh: Dr. Kartika Sari, M.Pd.I. - Pengawas Madya Kementerian Agama Kota Pangkalpinang

GURU adalah pilar utama dalam dunia pendidikan. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing, motivator, dan teladan bagi siswa. Di tengah tuntutan zaman, peran guru makin kompleks. Kurikulum yang dinamis, target akademik yang tinggi, serta harapan untuk memberikan layanan pendidikan yang berkualitas menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak guru menghadapi tekanan yang beragam, mulai dari beban administratif yang menumpuk, kurangnya dukungan fasilitas, hingga tantangan psikologis dalam mendampingi siswa dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Tekanan ini makin diperparah dengan adanya isu-isu krusial seperti kurangnya kesejahteraan guru, ketimpangan distribusi guru antarwilayah, dan seringnya perubahan kebijakan pendidikan yang tidak dibarengi pelatihan yang memadai. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebenarnya telah mengamanatkan pengembangan profesionalisme guru, tetapi implementasinya masih menghadapi banyak kendala di lapangan.

Kelas Gemuk: Tantangan Berat Guru

Salah satu persoalan yang makin menjadi sorotan adalah tantangan mengelola kelas gemuk, yaitu kondisi di mana jumlah siswa dalam satu kelas melebihi kapasitas ideal. Di beberapa sekolah khususnya tingkat sekolah dasar dan menengah pertama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung misalnya, kelas gemuk menjadi kenyataan yang sulit dihindari. Idealnya, jumlah siswa dalam satu kelas adalah 28 hingga 32 orang sesuai standar nasional. Namun, banyak kelas di wilayah ini dihuni lebih dari 40 siswa. 
S

ituasi tersebut memperumit tugas guru dalam memberikan perhatian yang merata kepada setiap siswa, menghambat proses pembelajaran yang efektif, serta menambah beban kerja secara signifikan. Dalam kondisi seperti ini, guru sering merasa tertekan, tidak dihargai, dan kehilangan semangat untuk berkarya.

Kondisi kelas gemuk juga berdampak pada keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka, yang seharusnya menekankan pembelajaran personalisasi dan berbasis proyek. Dalam praktiknya, guru sulit mengelola siswa secara individu di tengah jumlah siswa yang terlalu banyak. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana menyebutkan pentingnya pengaturan ruang kelas yang mendukung pembelajaran, tetapi pelaksanaannya di daerah masih belum optimal.

Pergeseran etika dan moral siswa

Salah satu isu krusial yang menambah tekanan bagi guru adalah pergeseran etika dan moral siswa. Guru dihadapkan pada realitas siswa yang makin sulit diatur, kurang menghormati otoritas, dan sering kali terpengaruh budaya populer yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan. Di era digital ini, siswa memiliki akses luas ke media sosial yang sering kali menjadi sumber perilaku negatif, seperti berbicara kasar, perilaku agresif, atau kurangnya empati terhadap sesama.

Guru yang seharusnya menjadi figur otoritas sering kali kehilangan wibawa di hadapan siswa yang tidak lagi melihat mereka sebagai panutan. Hal ini menciptakan stres tambahan bagi guru, terutama ketika harus menghabiskan waktu dan energi untuk menangani masalah perilaku dibandingkan fokus pada pembelajaran. Pergeseran ini juga menciptakan dilema moral bagi guru, karena mereka harus menjaga keseimbangan antara memberikan disiplin dan tetap menjalin hubungan yang baik dengan siswa.

Regulasi seperti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan di Satuan Pendidikan menegaskan pentingnya lingkungan belajar yang aman dan beretika. Namun, implementasi peraturan ini sering kali tidak efektif tanpa dukungan dari keluarga siswa dan masyarakat luas.

Beban administratif dan kurangnya dukungan psikososial

Beban kerja yang tinggi, baik dari sisi administratif maupun akademik, sering kali tidak diimbangi dengan dukungan emosional dan penghargaan yang memadai. Guru tidak hanya diharuskan mengajar, tetapi juga mengisi dokumen, laporan, dan data yang sering kali menjadi prioritas dibandingkan inovasi pengajaran. Situasi ini menciptakan kelelahan fisik dan emosional. Kurangnya fasilitas seperti ruang guru yang layak dan akses ke konseling psikologis makin memperburuk kondisi ini.

Di sisi lain, guru juga menghadapi ekspektasi masyarakat yang tinggi tanpa dukungan nyata dari lingkungan sekitarnya. Ketika siswa tidak mencapai hasil yang diharapkan, guru sering kali menjadi pihak yang disalahkan. Padahal, tantangan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks, termasuk masalah siswa dengan latar belakang keluarga yang kurang mendukung hingga keterbatasan sarana belajar di sekolah.

Era digital membawa peluang sekaligus tantangan bagi guru. Teknologi menjadi alat penting dalam pembelajaran, tetapi tidak semua guru memiliki kompetensi atau fasilitas untuk menggunakannya secara optimal. Program-program pemerintah seperti Guru Penggerak dan pelatihan teknologi pendidikan sebenarnya dirancang untuk membantu guru, tetapi distribusinya belum merata. Banyak guru di daerah seperti di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang masih menghadapi kesulitan dalam mengakses pelatihan tersebut.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved