Senin, 18 Mei 2026

Imlek 2025

Makna Warna Merah pada Perayaan Tahun Baru Imlek

Warna merah dianggap sebagai lambang kemakmuran begitu pun dengan artinya dalam bahasa mandarin yang disebut Hong.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: fitriadi
Bangkapos.com/Sela Agustika
Konsumen saat melihat aneka pernak-pernik Imlek di toko pernak-pernik Imlek di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung, Selasa (14/1/2025). Warna merah dianggap sebagai lambang kemakmuran begitu pun dengan artinya dalam bahasa mandarin yang disebut Hong. 

BANGKAPOS.COM - Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan warna merah.

Warna merah selalu menghiasi pernak pernik saat warga Tionghoa merayakan Imlek.

Dekorasi lampion, bunga, ornamen bahkan kertas angpao hingga baju yang digunakan pun berwarna merah.

Ternyata ada alasan kenapa warna merah menonjol saat perayaan Imlek.

Dilansir dari Kompas.TV, Minggu (19/1/2025), dalam mitologi masyarakat Tionghoa, api dan cahaya dianggap sebagai sumber kehidupan serta bisa membawa nasib baik.

Warna merah dipercaya bisa mengusai hewan buas bernama nian yang muncul setiap Imlek untuk menganggu manusia.

Warna merah dianggap sebagai lambang kemakmuran begitu pun dengan artinya dalam bahasa mandarin yang disebut Hong.

Baca juga: 9 Tradisi Warga Tionghoa saat Merayakan Tahun Baru Imlek

Tak cukup sampai di situ, warna merah dalam perayaan Imlek juga melambangkan kehidupan yang baru.

"Semuanya berwarna merah karena tanda api melambangkan kehidupan baru dan kemakmuran," ujar peneliti wanita Asia-Amerika, Giannina Ong dikutip dari Kompas.com.

Warna merah juga diyakini membuat Nian takut.

Hingga akhirnya dalam budaya China, banyak orang menggantung lentera dan kertas merah bertuliskan karakter fu yang berarti nasib baik.

Karakter itu dituliskan terbalik untuk mendatangkan keberuntungan.

Hal ini juga yang jadi awal mula melatarbelakangi orang China rutin menggantungkan benda-benda berwarna merah di rumahnya.

Warna merah selain memberikan keberuntungan juga dipercaya orang Tionghoa bisa melawan roh jahat dan kesialan.

Ditambah lagi, dalam budaya China banyak masyarakat yang percaya adanya orang dalam zodiak tertentu akan mengalami sial di suatu tahun.

Alhasil, untuk mencegah hal itu, mereka menggunakan benda-benda berwarna merah di awal tahun yang biasanya dipakai pada pakaian, dekorasi, dan benda-benda lainnya.

9 Tradisi Merayakan Imlek

Imlek merupakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga, menghormati leluhur, dan menyambut keberuntungan baru.

Setiap tahun Imlek dikaitkan dengan satu dari dua belas hewan dalam zodiak Tionghoa, yang berputar dalam siklus selama dua belas tahun.

Masing-masing hewan tersebut memiliki sifat dan makna tertentu yang diyakini mempengaruhi kehidupan selama tahun tersebut.

Tahun baru Imlek diwarnai dengan berbagai tradisi dan kebiasaan, seperti memberikan amplop merah dengan uang (angpao) kepada anggota keluarga yang lebih muda, membersihkan rumah untuk menyingkirkan energi negatif, dan menyajikan hidangan khas.

Berikut beberapa tradisi yang kerap dilakukan warga Tionghoa saat merayakan Imlek:

1. Tutup rumah di atas jam 00.00 pada malam Imlek

Pada malam pergantian Tahun Baru Cina, umumnya masyarakat Tionghoa melakukan tradisi sembahyang leluhur.

Sembahyang leluhur dilakukan di rumah masing-masing atau sambil berziarah ke makam keluarga yang sudah meninggal.

Karena harus berdoa saat ritual sembahyang, masyarakat Tionghoa baru menutup rumah atau pintu gerbang di atas jam 12 malam.

Pada malam Imlek, warga Tionghoa memanjatkan doa kepada dewa rezeki.

2. Menyapu rumah dari luar ke dalam

Sehari sebelum Imlek, masyarakat Tionghoa biasanya bersih-bersih rumah. 

Namun, bersih-bersih, dilarang dilakukan selama perayaan Imlek.

Jadi, jika harus menyapu rumah, debu itu harus dibiarkan dulu di dalam rumah.

Maknanya, tidak membuang rezeki yang datang ke penghuni rumah tersebut.

Debu hasil menyapu tersebut baru dibuang paling tidak satu hari setelah Imlek.

3. Makan Malam Bersama Keluarga

Tradisi ini melibatkan keluarga yang berkumpul untuk merayakan malam tahun baru bersama-sama.

Saat malam Imlek, keluarga biasanya mengadakan makan malam bersama yang disebut "Nian Ye Fan" atau "makanan tahun baru."

Menu makanan khas Imlek sering kali dipilih dengan cermat karena memiliki makna simbolis terkait dengan keberuntungan dan keberhasilan.

Makanan yang umumnya disajikan termasuk ikan (yang melambangkan kekayaan), mi panjang (yang melambangkan umur panjang), dan sayuran hijau (yang melambangkan pertumbuhan dan keberuntungan).

4. Tiga lauk wajib

Menyediakan makanan yang nikmat juga merupakan tradisi saat Imlek.

Di antara jenis makanan tersebut adalah santapan untuk lauk.

Ada tiga jenis lauk yang wajib tersedia saat Imlek, yaitu ikan, daging dan ayam.

Ikan, terutama bandeng, maknanya adalah sumber keberkahan, keuangan karena sisiknya mengilap seperti berlian.

Daging dan ayam kurang lebih sama, lambang kesuburan. Makanan ini kan dianggap mewah. Artinya setidaknya setahun sekali kita bisa makan enak.

Selain lauk, kue lapis juga menjadi penganan yang wajib disediakan saat Imlek.

Kue lapis atau kue apapun yang berlapis-lapis itu wajib. Maknanya adalah berharap rezeki bertumpuk atau berlapis-lapis.

5. Baju baru

Mengenakan pakaian baru juga dianggap keharusan saat merayakan Imlek. Bahkan, pakaian dalam juga wajib baru.

Maknanya adalah, semua hal-hal jelek di tahun-tahun lalu sudah diganti jadi yang baru.

6. Pemujaan dewa-dewi dan tokoh mitologis

Pemujaan dewa-dewi dan tokoh-tokoh mitologis juga merupakan bagian integral dari perayaan Imlek.

Banyak keluarga yang memilih untuk mengunjungi kelenteng atau kuil pada malam Imlek untuk berdoa dan memberikan persembahan kepada dewa-dewi.

Dewa Kaisar Langit (Tian Gong) dan Guan Gong adalah dewa-dewi yang sering dipuja dalam rangkaian perayaan Imlek.

Pemujaan ini diharapkan dapat membawa keberuntungan, keselamatan, dan perlindungan pada tahun yang baru.

7. Tidak berbicara negatif

Selama perayaan Imlek tidak diperkenankan untuk berkata hal-hal buruk dan negatif.

Berkata harus yang baik seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika tak sengaja berbicara hal-hal negatif, orang tersebut harus langsung minta maaf kepada lawan bicaranya.

8.  Pertunjukan Barongsai

Imlek identik dengan pertunjukan barongsai.

Barongsai adalah tarian tradisional Tiongkok dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat Tionghoa, singa dianggap sebagai simbol keberanian, kekuatan, kebijakan dan keunggulan.

Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini dengan tujuan untuk mendatangkan keberuntungan, hal ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Qin sekitar abad ketiga sebelum masehi.

Tradisi barongsai selalu meramaikan setiap perayaan Tahun Baru China atau Imlek.

9. Memberikan Angpao

Memberikan amplop merah dengan uang (angpao) kepada anggota keluarga yang lebih muda.

Namun, siapapun boleh memberikan angpao, baik itu orang dewasa, anak muda yang masih lajang dan sudah bekerja, dan orang tua. 

Dalam tradisi Tionghoa, ada beberapa aturan khusus dalam pemberian angpao, di antaranya: Angpau harus berwarna merah, Angpau tidak boleh diisi dengan angka 4, Angpau tidak boleh diisi nomor ganjil, Angpao harus diberikan langsung kepada penerima. 

Memberikan angpao memiliki beberapa makna, di antaranya:

  1. Simbol peduli sesama

Angpao merupakan simbol kepedulian dan kegembiraan antar-sesama, terutama yang belum mampu. 

2. Ucapan syukur

Angpao merupakan wujud ucapan syukur atas rezeki yang didapat selama setahun terakhir. 

3. Harapan baik

Angpao diberikan sebagai tanda harapan baik selama acara-acara penting seperti Tahun Baru Imlek dan pernikahan. 

4. Simbol keberuntungan

Angpao dipercaya bisa membawa keberuntungan, kebahagiaan, dan keselamatan bagi yang menerimanya. 

5. Simbol energi baik

Warna merah pada angpao memiliki arti sebagai energi baik yang bisa membawa pencerahan dan perlindungan. 

(Bangkapos.com/Kompas.com/Intisari.grid.id)

Sumber: Grid.ID
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved