Rabu, 22 April 2026

Mengapa Hilirisasi Timah Dibangun di Batam Bukan di Bangka Belitung?

Mengapa Hilirisasi Timah Dibangun di Batam Bukan di Bangka Belitung? Begini Penjelasannya

Penulis: Evan Saputra CC | Editor: Evan Saputra
(Istimewa )
Ilustrasi Dua pekerja tambang timah saat sedang menambang di kawasan perkebunan kelapa sawit di Desa Airbara, Kecamatan Airgegas, Kamis (12/12/2024) kemarin. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia memulai komitmen pemerintah dalam mendorong hilirisasi berbagai komoditas mineral strategis di Indonesia, termasuk Batam, Kepulauan Riau.

Satu di antara program hilirisasi ini dihadirkan melalui investasi sebesar Rp1 triliun yaitu timah.

Pemerintah menggandeng PT Batam Timah Sinergi (BTS) sebagai pabrik hilirisasi timah di Batam.

Pabrik ini nantinya akan melakukan pengolahan logam timah yang menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.

"Kita ingin fokus pada hilirisasi dan pemerintah siap mendukung agar kita bisa memperoleh manfaat yang maksimal dari sumber daya alam yang kita miliki," ujar Wamen Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI, Todotua Pasaribu, dalam kunjungan ke perusahaan yang berada di kawasan industri Sei Lekop, Jumat (24/1/2025).

Program hilirisasi ini didukung dengan 28 komoditas unggulan, termasuk timah dan nikel, yang siap untuk didorong dalam proses hilirisasi.

Lantas Mengapa di Batam bukan di Bangka Belitung?

Menurut Todotua, Batam memiliki posisi strategis karena dekat dengan Selat Malaka dan Singapura, menjadikannya lokasi ideal untuk investasi di sektor industri manufaktur dan teknologi.

"Batam, saat ini juga sedang dalam proses pengembangan untuk menjadi pusat industri semikonduktor dan pusat data center," jelasnya.

Perusahaan ini nantinya akan menghasilkan beberapa produk yang meliputi produksi Stannic Chloride dari timah ingot dan klorin. Selanjutnya, proses kedua melibatkan produksi Dimethyl Tin Dichloride (DMTCL) dari timah ingot, methyl chloride, dan Stannic Chloride.

Tahap terakhir adalah produksi Methyl Tin Mercaptide melalui reaksi DMTCL dengan 2-Ethylhexyl Thioglycolate (2EHTG) dan amonia, dengan total kapasitas produksi diperkirakan mencapai 16.000 metrik ton per tahun, menjadikannya sebagai produsen terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

 "Pabrik ini diperkirakan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2026 mendatang," ujarnya.

Proyek tersebut tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan di Batam dan memperkuat posisi Indonesia di kancah industri hilirisasi timah secara universal.

Pemilihan Batam sebagai lokasi pembangunan disebut akibat penawaran sejumlah keunggulan, mulai dari infrastruktur yang memadai, ketersediaan energi listrik yang stabil, tenaga kerja berkualitas, hingga status kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ) yang memungkinkan 90 persen hasil produksi diekspor ke berbagai negara. Direktur Utama PT BTS, Bambang Triadi Gunawan, membeberkan tujuan utama pembangunan pabrik ini.

Perusahaan ingin mengurangi ketergantungan Indonesia pada ekspor bahan mentah. Saat ini, PT BTS disebut telah mendapatkan 93 persen Letter of Intent (LOI), atau surat pernyataan minat dari target produksi bulanan mereka.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved