Bangka Pos Hari Ini
Satu Kali Isi 400 Liter Solar, Tiga Hari Nelayan Tak Melaut karena BBM
Amang mengaku tak mendapatkan BBM untuk melaut sejak penindakan dugaan penyelewengan yang terjadi SPBUN PPI Ketapang belum lama ini
BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pria 30 tahun itu termenung sembari melihat bangunan tidak jauh dari tempatnya duduk. Sesekali dia melihat lalu lalang di dekat deretan jeriken yang juga tidak jauh darinya.
Setidaknya aktivitas itu sudah dilakukan selama tiga hari sejak Sabtu (15/2). Dia tak begitu bersemangat karena penantiannya belum membuahkan hasilnya.
“Lah tiga hari ini kami di sini, luntang-lantung gitulah nunggu minyak (solar-red) belum ada, ada juga,” kata Amang, seorang nelayan yang biasa mengisi BBM di Suasana
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) PPI Ketapang, Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (17/2).
Amang mengaku tak mendapatkan BBM untuk melaut sejak penindakan dugaan penyelewengan yang terjadi SPBUN PPI Ketapang belum lama ini. Dia pun belum berani melaut karena BBM yang tersisa di perahunya dinilai kurang.
“Sejak SPBN ditutup, kami jadi bingung nak kemana nyari solar, karena selama ni tahunya kami kalo ngambil solar ke situ. Nah, kalo dak ade solar macam sekarang, otomatis kapal kami dak bisa jalan bang, minyaknya dikit,” katanya.
“Akhirnya duduk merenung macam ini lah gawi e. Nak nyari solar ke tempat lain serba susah juga, karena pakai minyak kita banyak, sedangkan di tempat lain juga antre,” lanjut Amang.
Dikatakan Amang, biasanya dia mengisi BBM di SPBUN PPI Ketapang sebelum pergi melaut. Satu kali mengisi,
setidaknya mereka menampung 400 liter solar untuk sekali isi. Ia bersama nelayan lainnya bisa membeli sekitar 400 liter solar untuk kebutuhan selama 3-4 hari di laut.
“Sedangkan sekarang ni dak sampai 400 liter solar kami, paling setengah dari itu. Jadi stop dulu kami ngelaut, karena kalo dipaksa bisa berhenti di tengah jalan kapal kami, karena habis minyak. Kami pun dak berani ambil risiko bang,” ujar Amang.
Pernah disegel
Serupa disampaikan Bahar, nelayan lainnya yang ditemui Bangkapos.com di dekat SPBUN PPI Ketapang, Pangkalpinang, Senin (17/2).
“Kayak nih lah gawe, SPBN ditutup nih kami jadi nyari solar kemana-mana,” kata Bahar.
SPBUN dengan nomor 28.001.09 itu memang terpantau sepi dan tidak ada aktivitas. Bahkan gerbang masuk dan keluarnya pun ditutup. Kata Bahar, SPBUN tersebut ditutup sejak beberapa waktu terakhir lantaran adanya kasus penyelewengan solar subsidi oleh salah satu oknum pegawai.
“Gini lah jadinya, satu orang yang berbuat, ratusan orang yang kena (imbasnya-red),” ungkap Bahar.
Penutupan ini membuat aktivitas melaut nelayan setempat menjadi terganggu. Kata Bahar, setidaknya ada kurang lebih 400 kapal nelayan yang bergantung di SPBUN Ketapang tersebut.
| Wawancara Eksklusif Kapolres Babar: Dari Cita-cita hingga Bongkar Penyelundupan Timah |
|
|---|
| Nelayan Sungailiat Hilang di Perairan Karang Kering, Kapal Ditemukan Kosong |
|
|---|
| MBG di Pangkalpinang Disorot, Dua SPPG Dinonaktifkan akibat Masalah Kualitas Makanan |
|
|---|
| Indonesia U17 Tersandung Malaysia, Nasib Garuda Muda Ditentukan Vietnam |
|
|---|
| Warga Delas Diduga Diterkam Buaya, Doli Hilang Saat Memancing di Sungai Nyireh Basel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250219-Bangka-Pos-Rabu.jpg)