Tribunners

Deep Learning Solusi Pendidikan Modern

Deep learning menawarkan solusi dengan menekankan pemahaman yang mendalam, berpikir kritis, dan aplikasi ilmu dalam kehidupan nyata

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Rohani
Rohani, M.Pd. - Pengawas Kementerian Agama Kota Pangkalpinang 

Oleh: Rohani, M.Pd. - Pengawas Kementerian Agama Kota Pangkalpinang

PENDIDIKAN di era digital menghadapi tantangan besar dalam menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan zaman. Banyak sistem pendidikan masih menerapkan metode konvensional berbasis hafalan, yang kurang efektif dalam membentuk pemahaman mendalam dan keterampilan berpikir kritis siswa. Hal ini diperparah dengan kurikulum yang terlalu padat sehingga siswa lebih fokus mengejar nilai daripada memahami konsep secara esensial.

Menurut Piaget (1952), proses belajar seharusnya memungkinkan peserta didik membangun pemahaman sendiri melalui interaksi aktif dengan lingkungan. Namun, dalam praktiknya, banyak sekolah masih menerapkan metode pasif, di mana siswa hanya menerima informasi tanpa benar-benar memprosesnya. Selain itu, teori konstruktivisme yang dikembangkan oleh Vygotsky (1978) menekankan bahwa pembelajaran lebih efektif terjadi dalam konteks sosial, di mana siswa terlibat dalam diskusi dan pemecahan masalah.

Era digital makin mempercepat arus informasi, tetapi ironisnya, banyak siswa kesulitan memilah dan memahami informasi yang mereka terima. Kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah menjadi sangat penting di era ini, tetapi sistem pendidikan saat ini belum sepenuhnya memfasilitasi pengembangan keterampilan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan baru dalam dunia pendidikan, salah satunya dengan menerapkan deep learning, yaitu metode pembelajaran yang berfokus pada pemahaman mendalam, keterhubungan antarkonsep, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Sistem pembelajaran konvensional di banyak sekolah masih menghadapi beberapa kendala utama yang menghambat efektivitas belajar siswa. Pertama, metode pembelajaran yang masih menitikberatkan pada hafalan menyebabkan siswa hanya mengingat informasi dalam jangka pendek tanpa benar-benar memahami konsepnya. Bloom (1956) dalam taksonominya menjelaskan bahwa pembelajaran yang efektif harus mencakup pemahaman, analisis, dan evaluasi, bukan sekadar menghafal. Sayangnya, banyak sekolah masih terjebak dalam paradigma lama yang hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik tanpa memperhatikan pemahaman mendalam.

Kedua, sistem pendidikan yang masih berorientasi pada ujian menyebabkan siswa lebih fokus pada jawaban yang benar atau salah tanpa diberikan ruang untuk mengeksplorasi dan mengembangkan pemikiran kritis. Padahal, dalam dunia nyata, tidak semua masalah memiliki jawaban yang pasti, dan keberhasilan sering kali ditentukan oleh kemampuan berpikir kreatif serta pemecahan masalah.

Ketiga, kurangnya keterkaitan antarmateri menjadi masalah lain yang dihadapi dalam sistem pendidikan saat ini. Ilmu dalam dunia nyata bersifat interdisipliner, tetapi di sekolah, mata pelajaran diajarkan secara terpisah tanpa koneksi yang jelas antarbidang ilmu. Akibatnya, siswa kesulitan menghubungkan konsep-konsep yang telah dipelajari dan cenderung melihat pembelajaran sebagai sesuatu yang terkotak-kotak.

Terakhir, perubahan cara belajar di era digital juga menjadi tantangan tersendiri. Siswa saat ini lebih banyak mengakses informasi melalui internet dan media digital, tetapi tanpa keterampilan berpikir kritis, mereka rentan terhadap misinformasi. Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran yang tidak hanya mentransfer informasi, tetapi juga melatih siswa dalam menganalisis, mengevaluasi, dan menghubungkan informasi secara mendalam.

Deep learning dalam pendidikan bukan sekadar konsep dalam kecerdasan buatan, tetapi juga pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam dan aplikasi ilmu dalam berbagai konteks. Menurut Marton & Säljö (1976), pembelajaran yang mendalam terjadi ketika siswa menghubungkan konsep baru dengan pengalaman sebelumnya dan memahami maknanya secara esensial, bukan sekadar menghafal fakta.

Salah satu ciri utama pembelajaran berbasis deep learning adalah pemecahan masalah nyata. Siswa belajar melalui studi kasus, diskusi, dan proyek yang mendorong mereka untuk menganalisis dan menemukan solusi terhadap berbagai permasalahan yang relevan dengan kehidupan mereka. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterampilan berpikir kritis, tetapi juga membangun kemampuan analitis yang diperlukan di dunia kerja.

Selain itu, deep learning mendorong kolaborasi dan diskusi sebagai bagian dari proses belajar. Vygotsky dalam teori zone of proximal development menyatakan bahwa siswa belajar lebih efektif ketika mereka bekerja sama dengan teman sebaya atau mendapatkan bimbingan dari orang yang lebih ahli. Dengan menerapkan metode pembelajaran berbasis kolaborasi, siswa dapat memahami konsep dengan lebih baik dan memperkaya wawasan mereka melalui interaksi sosial.

Pemanfaatan teknologi juga menjadi elemen penting dalam deep learning. Dengan integrasi teknologi digital, siswa dapat mengeksplorasi materi secara lebih mendalam melalui simulasi, visualisasi, dan pembelajaran berbasis proyek. Teknologi memungkinkan pembelajaran yang lebih fleksibel dan interaktif sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar masing-masing.

Selain itu, deep learning mendorong refleksi dan evaluasi mandiri, di mana siswa diberi kesempatan untuk mengevaluasi proses belajar mereka sendiri. Dengan cara ini, mereka dapat memahami kekuatan dan kelemahan mereka serta mengembangkan strategi belajar yang lebih efektif.

Menghadapi tantangan pendidikan di era digital, sistem pembelajaran harus mengalami revolusi. Deep learning menawarkan solusi dengan menekankan pemahaman yang mendalam, berpikir kritis, dan aplikasi ilmu dalam kehidupan nyata. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. 

Peran guru dalam transformasi pendidikan tersebut sangatlah krusial. Guru dewasa ini harus terus memperbaiki metode pembelajaran agar sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan siswa. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi, melainkan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan secara lebih mendalam. Dengan demikian, guru harus mengembangkan keterampilan dalam menerapkan metode pembelajaran yang inovatif, termasuk integrasi teknologi dan pembelajaran berbasis proyek.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved