Jumat, 10 April 2026

Tribunners

Menjadikan Ramadan sebagai Lompatan Spiritual dan Mental

Perlulah kita merenungi diri ini, berhenti dan menekan hawa nafsu diri dari segala kepongahan duniawi untuk menuju kenikmatan ukhrawi

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Subri Hasan
Dr. Subri Hasan, M.S.I. - Wakil Dekan I Fakultas tarbiyah IAIN SAS Bangka Belitung 

Oleh: Dr. Subri Hasan, M.S.I. - Wakil Dekan I Fakultas tarbiyah IAIN SAS Bangka Belitung

MENGUTIP pernyataan Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi dalam kitabnya Risalah Tauhid Tasawuf & Tauhid Shufi, tanda amalan diterima Allah yaitu amalan yang berbuah. Buah pengalaman adalah lezat dalam melakukan taat, manis di dalam munajah, berjinak-jinak hati dengan muraqqabah, gembira roh dengan bermusyahadah dan sir dengan bermukamalah/berkata-kata dengan Allah. 

Bilamana kita dapat melakukan amal sebagaimana yang tersebut di atas, itu sebagai pertanda/dalil diterima Allah Swt. Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Athaillah; “Barang siapa yang memperoleh buah amalnya sekarang, itu tanda/dalil diterima amalnya masa akan datang”.

Maka kelezatan taat itu dicapai dengan mencintai orang yang memerintahkan taat, kemanisan lezat dapat diperoleh dengan kita merasa dekat, tajalli sifat-Nya di dalam batin kita, berjinak-jinak hati dengan senantiasa kita memandang wujud-Nya, gembira roh dengan musyahadah karena telah dapat kita kembalikan roh pada asalnya yaitu zat semata-mata dan dapat berkata-kata dengan-Nya dilakukan oleh sir kita, setelah kita bersama Allah dan keberadaan kita dengan-Nya.

Momentum Ramadan 1446 H tahun ini menjadi tonggak sejarah awal bagi kita dan siapa pun yang memulai ingin melompat aspek spiritual dan mentalnya untuk mengerjakan ibadah, “mengejar pahala tertundanya”. Menimbun kebaikan dan menumpuk kebajikan berbungkus spiritual serta membiasakan diri dan hati dengan mentalitas kepedulian sosial selama Ramadan ini. 

Apa yang harus kita lakukan di bulan Ramadan, Jalaluddin Rakhmat memberi jalan bagi kita dengan “Meraih Cinta Ilahi”, yakni meninggalkan hawa nafsu menuju Tuhan; Hawa nafsu artinya keinginan-keinginan diri. Nafsu diterjemahkan sebagai egoisme, kecenderungan kita untuk mencapai keinginan-keinginan diri. Keinginan untuk mencapai kenikmatan sensual, kesenangan jasmaniah, keinginan untuk makan dan minum, bersenang-senang, keinginan untuk diperhatikan, diistimewakan dan dianggap sebagai orang yang paling penting atau kepongahan atau arogansi. 

Semuanya itu termasuk hawa nafsu. Sesungguhnya Tuhan tidak bisa didekati bila hawa nafsu kita masih berdiri sebagai gunung. Maka taklukkanlah segala hawa nafsu tersebut dengan berpuasa Ramadan.

Paling tidak ada tiga tingkatan hawa nafsu dalam diri kita, 1). Hawa nafsu quwwatun bahimiyyah; kekuatan kebinatangan. Unsur kekuatan inilah yang mendorong kita untuk mencari kepuasan lahiriah atau kenikmatan sensual. 

2). Quwwatun sab’iyyah; kekuatan binatang buas. Unsur kekuatan ini mendorong kita untuk menyerang orang lain, memakan hak orang lain, membenci, menghancurkan, menghasut dan iri dengki. 

3). Quwwatun syaithaniyyah; kekuatan yang mendorong kita untuk membenarkan segala kejahatan yang dilakukan. Seperti mengambil hak orang lain dan membisikkan dalam hati kita bahwa apa yang dilakukan itu tidak bersalah/korupsi.

Ketiga kekuatan tersebut berasal dari hawa nafsu dalam diri. Namun di sisi lain, Tuhan menyimpan dalam diri kita sebagai bagian terpenting dari kepribadian kita. Satu kekuatan dari percikan cahaya Tuhan, inilah yang dinamakan quwwatun rabbaniyyah. 

Kekuatan tersebut terletak pada akal sehat. Maka akal akan membimbing kita untuk menempuh perjalanan rohani menuju Tuhan. Tugas akal adalah mengendalikan hawa nafsu sehingga kita dapat bertaqarrub kepada Allah Swt. 

Dan orang yang hanya merindukan Allah Swt dengan merobohkan batu bata hawa nafsunya satu demi satu. Maka makin sering dia merobohkan hawa nafsunya, makin tampak kepadanya keindahan Tuhan, makin besar kerinduannya kepada-Nya dan makin dekat dia di sisi Tuhannya. 

Puasa dari syariat ke tarekat

Kata “puasa” dalam berbagai derivasinya, disebut 13 kali dalam Al-Qur’an; tetapi kata shaum disebut satu kali; shaum di situ berbeda sama sekali dengan shiyam, yang merujuk pada puasa seperti yang lazim kita lakukan. Dalam bahasa sufistik, shaum mengacu pada tarekat.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved