Tribunners
Deep Learning, Etika, dan Moral Generasi
Banyaknya persoalan yang didasarkan pada etika dan moral di lingkup pendidikan harus menjadi fokus utama.
Oleh: Ridwan Mahendra, S.Pd. - Guru SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta
DEEP learning. Itulah kata yang sering terucap di dunia pendidikan saat ini. Bukan hanya di lingkup sekolah, pendekatan deep learning ini dibicarakan di berbagai forum. Bulan lalu, Rabu (26/2/2025), ketika saya menghadiri seminar untuk Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMA/SMK sederajat se-Solo dan Sukoharjo, deep learning menjadi pokok pembahasan. Tampaknya dunia pendidikan memang tak lepas dengan istilah-istilah yang silih berganti ketika ganti menteri.
Sebagai seorang pendidik, saya beranggapan bahwa istilah yang silih berganti di dunia pendidikan dapat menjadi bumerang tersendiri. Meskipun saya menyadari bahwa dalam dunia pendidikan dari waktu ke waktu memerlukan perubahan ke arah yang lebih baik. Akan tetapi, apabila istilah yang digunakan terus berganti, tentu akan makin rumit bagi pendidik itu sendiri, terlebih bagi guru yang dapat dikatakan "senior".
Menyangkal
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyangkal deep learning sebagai kurikulum, meski bukan sebagai kurikulum dan hanya sebagai pendekatan, tetapi istilah tersebut tentu memperbarui atau bahkan mengganti konsep dari diferensiasi itu sendiri.
Di berbagai diskusi pengembangan kurikulum, penamaan konsep deep learning tersebut identik dengan konsep diferensiasi. Artinya, apabila penamaan tersebut "sekadar" mengganti istilah, lebih baik tetap menggunakan dan menyempurnakan konsep lama, tetapi tetap mempertahankan esensi yang telah berjalan.
Saya memahami bahwa deep learning yang digagas oleh Mendikdasmen tersebut merupakan konsep sebagai pembaruan di dunia pendidikan. Konsep tersebut berisi tiga pendekatan yang meliputi mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning.
Pertama, mindful learning. Konsep yang digagas merupakan pendekatan dengan berkesadaran, diartikan pendidik dengan kesadaran penuh dapat memahami setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Oleh karenanya, guru sebagai pendidik dapat memahami akan konsep tersebut.
Menurut saya, konsep mindful learning tersebut identik dengan konsep diferensiasi konten yang dilakukan melalui profil belajar peserta didik. Profil belajar siswa yang salah satunya bersifat proaktif. Artinya, pendidik merencanakan pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Kedua, pendekatan dengan konsep meaningful learning. Meaningful learning sama halnya dengan pendekatan penuh makna, artinya pembelajaran yang efektif dengan berfokus pada pengembangan disertai dengan makna mendalam yang dipelajari peserta didik. Konsep ini identik dengan pendekatan diferensiasi yang sama-sama meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Ketiga, joyful learning. Pendekatan joyful learning sama halnya dengan pembelajaran menggembirakan. Pembelajaran menggembirakan dalam konsep deep learning ini identik dengan diferensiasi yang berfokus pada pengembangan minat, bakat, dan motivasi peserta didik. Artinya, konsep deep learning ini tak jauh berbeda dengan konsep diferensiasi dalam memotivasi siswa untuk terus belajar dengan lingkungan yang mendukung dengan disertai keterampilan yang relevan.
Dampak, etika, dan moral
Sebagai seorang pendidik yang sekaligus pengembang kurikulum di sekolah, saya berpendapat bahwa penamaan-penamaan di lingkup pendidikan dapat diminimalisasi, sebab persoalan pendidikan kita bukan sekadar berfokus pada kurikulum semata, jauh lebih dari itu pendidikan kita masih banyak belajar dari hal-hal yang tak kalah penting, etika dan moral generasi khususnya.
Etika dan moral anak di era saat ini harus menjadi perhatian lebih. Banyaknya persoalan yang didasarkan pada etika dan moral di lingkup pendidikan harus menjadi fokus utama. Selanjutnya, dengan etika dan moral yang dikedepankan oleh pendidik di lingkup sekolah, harapannya generasi dapat mengambil keputusan yang tepat dan membangun suatu masyarakat yang lebih baik. Selain itu, dengan etika dan moral yang baik, generasi memiliki kemampuan kritis yang didasarkan pada nilai-nilai etis di dalamnya.
Semoga pendekatan belajar bukan sekadar penamaan semata, tetapi adanya implementasi dan dampak yang signifikan dalam dunia pendidikan. Sesungguhnya problematika pendidikan kita bukan sekadar gonta-ganti penamaan, melainkan bagaimana memecahkan persoalan kompleks di lingkup pendidikan, utamanya moral dan etika generasi yang makin hari—memprihatinkan—yang tentunya merupakan tugas kita bersama selaku pendidik sebagai ujung tombak suksesnya pendidikan di masa mendatang. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250315_Ridwan-Mahendra.jpg)