Tribunners
Ramadan Memperkuat Indonesia sebagai Negara Paling Dermawan
Sejak 2017, Indonesia konsisten menempati peringkat tertinggi dalam World Giving Index (WGI), sebuah penilaian global terhadap tingkat kedermawanan
Oleh: Fathurozi - Pegawai Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang
BULAN Ramadan bukan sekadar momen untuk meningkatkan ibadah dan spiritualitas, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk memperbanyak amal dan kedermawanan. Tradisi berbagi yang telah mengakar dalam budaya Indonesia makin nyata dalam berbagai bentuk kepedulian sosial selama bulan suci ini. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang mempererat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah (ZIS).
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang makin individualistis, Ramadan menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama. Banyak orang berlomba-lomba dalam kebaikan, mulai dari pembagian makanan berbuka puasa, santunan bagi kaum duafa, hingga penggalangan dana untuk pembangunan sarana ibadah dan pendidikan.
Peningkatan ZIS selama Ramadan bukan hanya bentuk kewajiban agama, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Dana yang terkumpul melalui berbagai lembaga sosial dapat membantu mengurangi kesenjangan ekonomi serta mendorong pertumbuhan berbasis gotong royong.
Namun, di balik semangat berbagi yang tinggi, penting untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan tepat sasaran dan berkelanjutan. Amal yang dilakukan sebaiknya tidak hanya bersifat seremonial tahunan, tetapi juga mampu menciptakan dampak jangka panjang bagi penerima manfaat.
Optimalisasi zakat
Salah satu aspek utama kedermawanan di bulan Ramadan adalah zakat, terutama zakat fitrah, yang diwajibkan bagi setiap muslim menjelang Idulfitri. Zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan harta dan memastikan bahwa mereka yang kurang mampu dapat merayakan Idulfitri dengan layak. Selain itu, zakat mal atau zakat harta juga mengalami peningkatan signifikan selama Ramadan, seiring dengan berkembangnya berbagai lembaga amil zakat, seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat.
Menurut data dari Buku Outlook Zakat Indonesia 2024 yang diterbitkan oleh Pusat Kajian Strategis Baznas, tren pengumpulan zakat nasional terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2022, total zakat yang terhimpun mencapai Rp22,475 triliun dan telah disalurkan kepada 33,9 juta mustahik. Dari jumlah tersebut, 463.154 jiwa berhasil keluar dari kemiskinan, sementara 194.543 jiwa masih tergolong dalam kategori miskin ekstrem.
Badan Amil Zakat Nasional RI terus menjalankan program-program strategis untuk mengentaskan kemiskinan dan memberdayakan masyarakat. Kepercayaan publik terhadap lembaga pemerintah nonstruktural ini turut berkontribusi pada pencapaian target pengumpulan zakat sebesar Rp1 triliun (di luar dana titipan) pada triwulan ketiga tahun 2024, meningkat dari Rp882 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ketua Baznas RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, M.A., menyatakan bahwa pencapaian ini menjadi motivasi bagi Baznas serta organisasi pengelola zakat lainnya di seluruh Indonesia untuk mencapai target penggalangan dana sebesar Rp41 triliun. Adapun pada tahun 2025, target pengumpulan zakat ditingkatkan menjadi Rp50 triliun. Keberhasilan ini makin memperkuat distribusi zakat kepada mereka yang berhak menerimanya (baznas.go.id, 1/11/2024).
Namun, optimalisasi distribusi zakat masih menghadapi tantangan agar manfaatnya lebih luas dan efektif. Transparansi dalam pengelolaan dana zakat menjadi isu penting guna menjaga kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, integrasi zakat dalam kebijakan ekonomi nasional dapat menjadi strategi efektif dalam mempercepat pengentasan kemiskinan.
Selain itu, pendekatan produktif dalam penyaluran zakat makin diutamakan. Kini, mustahik tidak hanya menerima bantuan konsumtif, tetapi juga mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan usaha dan mencapai kemandirian ekonomi. Program zakat produktif, seperti pemberian modal usaha, pelatihan keterampilan, dan akses pasar, telah terbukti memberikan dampak positif bagi kesejahteraan penerima.
Negara paling dermawan
Sejak 2017, Indonesia secara konsisten menempati peringkat tertinggi dalam World Giving Index (WGI), sebuah penilaian global terhadap tingkat kedermawanan. Salah satu faktor utama yang mendukung pencapaian ini adalah zakat. World Giving Index sendiri merupakan laporan tahunan yang diterbitkan oleh Charities Aid Foundation (CAF) berdasarkan survei global yang melibatkan 147 ribu responden dari berbagai negara.
Menariknya, di bawah Indonesia terdapat beberapa negara dengan kondisi ekonomi kurang stabil, tetapi tetap menunjukkan tingkat kedermawanan yang tinggi, seperti Kenya dan Liberia di Afrika. Sementara itu, Amerika Serikat berada di posisi kelima, sedangkan Kuwait, yang dikenal sebagai negara kaya, menempati peringkat ketujuh dengan skor 57. WGI yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) menilai tingkat kedermawanan berdasarkan tiga indikator utama: donasi uang, bantuan kepada orang asing, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kedermawanan masyarakat Indonesia bukan sekadar kebiasaan sesaat, melainkan telah menjadi bagian dari warisan budaya yang terus berlanjut. Selama bulan Ramadan, semangat berbagi meningkat secara signifikan, dengan banyak individu dan komunitas aktif dalam berbagai kegiatan sosial, seperti membagikan makanan berbuka puasa, berdonasi ke masjid, serta membantu tetangga yang kurang mampu.
Bentuk kedermawanan tidak terbatas pada donasi uang atau barang, tetapi juga terwujud dalam beragam proyek sosial. Banyak organisasi dan komunitas menggalang dana untuk membangun rumah ibadah, sekolah, atau fasilitas umum lainnya. Gerakan "Bayar Makanan untuk Orang Lain," yang makin marak di warung makan, mencerminkan tingginya rasa kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Selain itu, kegiatan sahur on the road makin sering dilakukan, di mana masyarakat berbagi makanan sahur dengan pekerja malam, tunawisma, dan kaum duafa. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud nyata kepedulian sosial, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.
Dalam Islam, berbagi makanan untuk berbuka puasa merupakan amalan yang dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa memberikan makanan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga." (HR. Tirmidzi).
Namun, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memastikan semangat berbagi ini tidak hanya terfokus pada bulan Ramadan. Pemerintah, lembaga sosial, dan tokoh agama perlu terus mendorong kesadaran akan pentingnya filantropi sepanjang tahun. Indonesia tidak hanya menjadi negara paling dermawan di dunia dalam angka statistik, tetapi juga dalam praktik nyata yang berkelanjutan untuk kesejahteraan bersama.
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga bulan berbagi. Dengan perpaduan nilai-nilai agama, budaya gotong royong, dan dukungan teknologi, Indonesia terus membuktikan bahwa kedermawanan bukan hanya kewajiban, tetapi juga bagian dari identitas bangsa. Ke depan, semangat berbagi ini diharapkan terus berkembang, tidak terbatas pada bulan Ramadan saja, melainkan sepanjang tahun, demi mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan harmonis. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250305_Fathurozi.jpg)