Tribunners

Titik Tengah Ketegasan

Akibat dari kegagalan mendefinisikan berdiri di tengah-tengah ketegasan adalah perceraian, korupsi, indisipliner, kecurangan, kedurhakaan

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Andre Pranata - Tenaga Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Bangka Tengah 

Oleh: Andre Pranata - Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah

TEGAK di antara dua hal yang kontradiktif merupakan bumbu-bumbu kehidupan yang terjadi di dunia ini. Ada kubu kiri dan kubu kanan. Tidak masalah tegak di kubu kiri maupun kanan. Yang salah adalah ketika terang-terangan menyalahkan bahwa satu kubu lebih buruk daripada kubu yang lain. Tetapi, yang paling sulit adalah tegak di antara dua kutub yang berlawanan arah. Yang terjadi sekarang ini justru banyak yang berdiri di ke arah pihak yang paling menguntungkan.

Objektivitas adalah hal yang mahal saat ini. Mayoritas manusia tidak suka di pihak yang salah dan yang kalah. Menempel di inang yang paling kuat sehingga salah bisa menjadi benar karena subjektivitas kebenaran sudah berubah ke arah siapa yang memiliki sumber daya paling berlimpah.

Kurangnya integritas dan lemahnya keimanan merupakan kiamat dini bagi seseorang. Contohnya adalah bagaimana seseorang menentukan hal-hal yang memerlukan ketegasan dan mana yang tidak memerlukan ketegasan. Ketegasan merupakan representatif dari penegakan peraturan baku yang benar.

Namun, banyak yang menjadi malaikat jika sudah benar. Padahal tugas manusia itu harus menjadi benar. Misalkan di kehidupan berumah tangga, seorang kepala keluarga yang terlalu full power sehingga menerapkan sistem patriarki seperti ketegasan terus-menerus dan selalu mendominasi dalam keadaan apa pun akan menemui titik jenuhnya, yaitu membuat pasangannya menderita sehingga rumah tangga bisa bubar di tengah jalan. Kemudian dalam dunia pekerjaan, jika terlalu banyak toleransi terhadap setiap pelanggaran peraturan, maka akan mengganggu sirkulasi pelayanan di suatu instansi dan dianggap remeh oleh rekan kerja lainnya.

Terlalu overpower dan terlalu banyak toleransi merupakan lambang dari kubu kanan dan kubu kiri. Terlalu overpower akan menimbulkan ketakutan dan dianggap sebagai orang yang sangat tidak berberperikemanusiaan dan banyak pembenci. 

Sementara terlalu banyak toleransi merupakan salah satu contoh orang yang acapkali disebut sebagai orang yang kurang ketegasannya. Kurang ketegasan akan menimbulkan kurangnya rasa hormat dari orang lain. Akan timbul sikap gampangan dari rekan kerja yang statusnya di bawah tanggung jawabnya sebagai pemimpin.

Dalam rumah tangga, jika dalam rumah tangga suami terlalu lembek dan terlalu banyak toleransi, maka akan menjatuhkan harga diri sebagai laki-laki yang ditakdirkan di dalam agama sebagai pemimpin dalam rumah tangga. 

Sekarang, tugas manusia yang sedang dalam ambang kebingungan dalam menentukan orientasi kehidupannya adalah bagaimana berdiri di mana hal ketegasan tersebut sedang dibutuhkan dan di mana toleransi dimunculkan. Banyak yang gagal dalam mengambil keputusan harus tegas dan harus toleransi dalam hal apa saja. 

Ciri kematangan manusia dewasa adalah bisa menentukan hal yang disebutkan pada kalimat sebelum ini. Dibutuhkan integritas, akuntabilitas, keimanan yang kuat serta kontrol diri yang baik agar bisa berdiri di tengah-tengah hal tersebut. Akibat dari kegagalan mendefinisikan berdiri di tengah-tengah ketegasan adalah perceraian, korupsi, indisipliner, kecurangan, kedurhakaan, dan masih banyak lagi. Pilihannya ada pada masing-masing manusia, mau terus di kubu kiri atau kanan? Atau berusaha objektif sesuai dengan norma benar atau salah dan menyeimbangkannya dengan realitas yang ada? (*) 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved