Tribunners
Sadar Beragama
Marilah kita beragama, sadar beragama, beragama sesadar-sadarnya dan beragama dengan penuh kesadaran.
Oleh: Rusydi Sulaiman - Guru Besar Bidang Pengkajian Islam (Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
SECARA etimologis, kata "agama" berasal dari huruf "a" (tidak) dan kata"gama" (rusak atau hancur) dalam bahasa Sansekerta, berarti tidak rusak, tidak hancur atau teratur dan terarah. Bila agama dipahami sebagai sebuah keyakinan, maka sudah ada sejak munculnya manusia (Adam as), karena orang bijak tersebut sudah mentauhidkan Tuhan, Allah Swt.
Namun, bila agama dimaknai dalam bentuk pemberlakuan norma-norma agama, maka agama-agama tertentu sudah ada sejak kehadiran orang-orang bijak sekelas nabi yang masa supremasinya di abad ke-6 SM +The Axis time. Berikutnya agama menjadi terstruktur, tidak sebatas sistem peribadatan (system of worship), (system of belief) melainkan sebagai sistem hubungan sosial (system of social relation), termasuk agama Islam (divine religion) yang diamanatkan kepada Muhammad Saw, Nabi akhir zaman (QS. Al-Maidah (5): 3). Artinya agama memiliki semangat memberlangsungkan peradaban manusia.
Sangat disayangkan, statement positif tentang agama bergeser dan mungkin dibiaskan. Belakangan beberapa fakta yang bertolak belakang dengan hakikat dan tujuan agama bermunculan.
Miris bila hal negatif tersebut terjadi pada orang-orang yang diapresiasi memiliki otoritas keagamaan. Masihkah seseorang disebut beragama bila ia tidak mematuhi ajaran agama; bila ia senang berbuat dosa; bila ia merendahkan orang yang taat beragama; bila ia merasa paling religius dan selalu menyalahkan orang lain; bila ia mengedepankan dirinya untuk tugas keagamaan padahal ia tidak kompeten atau bahkan tidak memahami ajaran agama; bila ia melakukan hal-hal tertentu di luar akal sehat dan prinsip agama serta sikap-sikap semacamnya?
Agama yang semestinya bertumpu pada titik kesadaran berubah menjadi sensitif dan sangat emosional disebabkan oleh pemahaman dan sikap partikularistik beragama penganutnya. Stigma tertentu muncul terhadap agama dan penganut agama. Terkadang agama dinilai simbolnya bukan substansi dan nilai-nilai terkandung didalamnya. Na'uudzubillah bila agama dimanipulasi untuk tujuan pragmatis keduniaan (maadiyah dunyaawiyah).
Pastinya tidak demikian yang diinginkan. Beragama diawali dari keyakinan (tashdiiqun bil-Qalbi), lalu penegasan dengan lisan (al-Iqraar bil-Lisaan) dan pemenuhan norma-norma agama (al-A'maal bil-Arkaan) apakah atas dasar pengalaman spiritual (spiritual experience) dan atau lembaga (institutionalization).
Ketika agama sebagai sebuah anugerah (taken for granted) sejak lahir bagi kebanyakan, maka nilai-nilai agama mesti dioptimalkan. Maksudnya, beragama dengan penuh kesadaran (religious consciousness). Mengakui adanya agama-agama lain dan menghormati para penganutnya tidak juga mengurangi kadar keyakinan kita terhadap agama sendiri.
Bila demikian, maka makna positif tentang agama tetap terjaga, dan berikutnya hubungan antarumat beragama terjalin harmonis. Kepulauan Bangka Belitung adalah salah satu provinsi yang merepresentasi wujud ideal tersebut.
Marilah kita beragama, sadar beragama, beragama sesadar-sadarnya dan beragama dengan penuh kesadaran. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250410_Rusydi-Sulaiman.jpg)