Tribunners
Kutukan dan Identitas Budaya
Derajat atas nilai dan sanksi atas kutukan pun mulai memudar. Anak-anak tak lagi takut dikutuk. Sumpah-sumpah berserakan, tak juga berarti.
Oleh: Bambang Haryo Suseno - Penggiat Komunitas Rindudendam Mentok
DALAM beberapa waktu belakangan ini, saya banyak membaca dan mengolah data objek kebudayaan di Pulau Bangka. Mulai dari manuskrip, tradisi lisan, adat istiadat, pengetahuan tradisional, bahasa, hingga peninggalan sejarah bersifat kebendaan. Perlahan mulai terlihat beberapa pola unik atas kebudayaan di pulau ini.
Misalnya, pada tradisi lisan sebagian objek budaya yang masih lestari menjadi kekuatan tutur masyarakat hingga saat ini. Sebaran cerita rakyat, legenda, dongeng, mitos, pantun, peribahasa, mantera, dan lainnya yang berkembang di pelosok Pulau Bangka adalah bukti produk budaya masa lalu ini pernah efektif menjadi pembentuk fondasi budaya.
Tradisi lisan rupanya berperan penting sebagai media utama untuk menyampaikan pengetahuan, nilai, sejarah, dan solusi masa lalu. Hal ini berdampak berfungsinya tradisi lisan atas pola pendidikan, penguat identitas sosial budaya, dan hiburan di masa lalu.
Kadang saya menangkap tradisi lisan di Pulau Bangka merupakan pesan atau kesaksian atas kejadian masa lalu yang berusaha diteruskan dari generasi ke generasi. Ketika tulisan belum mampu dan akrab digunakan sebagai media komunikasi efektif, pesan dan kesaksian berupa sejarah masa lalu, pengetahuan, hukum, sastra, bahkan hiburan, subur digenerasikan melalui tutur lisan (oral) dengan ragam bentuk dan keahlian penutur dalam memilih daya guna terbaik untuk pengungkapannya. Ada yang berbentuk mantra, dongeng sebelum tidur, diceritakan pada saat panen raya, diselipkan di acara ritual, dan lain sebagainya.
Daya manfaat tradisi lisan di masa lalu yang efektif, juga cenderung digunakan oleh pemegang kekuasaan komunal untuk menyampaikan pesan berupa berita atau opini masa lalu yang berusaha menjaga kelestarian nilai yang dianut (sebagai solusi hidup di masa lalu) untuk tetap bertahan dan harus diterapkan untuk generasi berikutnya.
Terlalu dini bagi saya untuk membuat analisis akademis atau sebuah kesimpulan ilmiah. Urusan kebudayaan di Pulau Bangka ini masih berbenturan dengan upaya repositori yang belum kunjung selesai. Berdampak kepada lemahnya kajian, pengayaan, publikasi, serta pemanfaatan objek budaya bagi pembangunan hari ini. Tulisan ini sekadar memaknai kekuatan tradisi lisan sebagai sumber sejarah dan pengetahuan masa lalu untuk dikenali lalu membacanya kembali sebagai fondasi mengenali identitas budaya.
Dari puluhan tradisi lisan yang saya temukan, konten atas objek yang mengisahkan tentang permasalahan manusia cukup banyak. Tema tentang kedurhakaan, kesombongan, pelanggaran atas hukum menjadi pesan utama cerita. Klasik sekali. Misalnya cerita Batu Balai di Mentok (yang mirip dengan Malin Kundang dari Minangkabau), Batu Belah Batu Betangkup dari Simpang Teritip, Panglima Angin dari Bangka Barat, menjadi cerita terkenal tentang tradisi lisan di Pulau Bangka yang dapat kita ulas untuk tema itu.
Jika opini dan pengetahuan yang menjadi pesan utama dalam cerita adalah tentang kedurhakaan, kesombongan, atau pelanggaran etika sosial, bukankah pesan itu menggambarkan kondisi atau kejadian di masa lalu yang dianggap penting dan perlu diteruskan sebagai pengingat bagi generasi berikutnya? Sebuah upaya pewarisan nilai yang dianggap sebagai pelajaran (solusi) untuk tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.
Ungkapan sanksi yang kuat atas tindakan kedurhakaan, kesombongan, dan pelanggaran atas larangan digambarkan dengan sanksi yang khas: kutukan. Dikutuk menjadi batu, menjelma menjadi binatang, raib, dan lainnya. Kutukan sebagai sanksi hukum yang dibangun, memberikan gambaran atas kondisi masyarakat saat itu. Bahwa perlu sebuah aturan secara sosial untuk tidak melanggar, tidak berperilaku yang durhaka atau tidak jemawa.
Hari ini masyarakat Pulau Bangka masih membutuhkan itu? Budaya itu terwariskan. Setiap orang yang tumbuh dalam lingkungan komunal menyerap pengetahuan dan cara hidup sesuai dengan alamnya, termasuk aturan dan nilai sosial. Bahkan manusia Indonesia yang sudah terlalu lama dijajah secara genetik mewarisi mental inferior sebagai bangsa terjajah. Kita selalu silau dan takjub dengan modernitas dari Barat hingga saat ini. Seperti mentalitas inferior, jangan-jangan hal yang tersirat dalam cerita rakyat juga begitu.
Watak orang Bangka itu secara genetika memang dominan terwariskan. Orang Bangka jangan-jangan memang secara genetik adalah berwatak durhaka, sombong, dan suka melanggar aturan. Kutukan sebagai sanksi di masa lalu adalah upaya untuk mewariskan nilai luhur untuk mengingat dan menghindari perilaku itu. Mungkin di masa lalu kutukan adalah sanksi tegas dan tipe hukuman tertinggi yang mengancam. Efektif dan memberikan efek jera yang sangat ditakuti supaya tak ada manusia Bangka yang berani durhaka kepada ibunya kalau tidak mau bernasib seperti Dompu Awang yang dikutuk menjadi batu.
Tetapi itu dulu. Hari ini kekuatan tradisi lisan bergeser. Cenderung menjadi media hiburan dan identitas budaya bersifat dekoratif. Sebagai sumber pengetahuan dan sejarah pun masih minim. Paling tinggi ia diintegrasikan sebagai media pendidikan bagi pembelajaran moral pada sekolah dasar.
Derajat atas nilai dan sanksi atas kutukan pun mulai memudar. Anak-anak tak lagi takut dikutuk. Sumpah-sumpah berserakan, tak juga berarti. Seperti sumpah pejabat yang sering dilanggar. Tradisi lisan sebagai media pembangun norma gagal, digantikan mekanisme lain yang juga rupanya tidak begitu efektif.
Saya pernah hidup di luar Pulau Bangka dan bersentuhan dengan tradisi lisan di tempat lain. Mengenali tutur lisan bermuatan kepahlawanan, ketokohan yang teladan, kepiawaian berpikir, atau tipe cerita jenaka namun menyiratkan kecerdikan seperti cerita Abu Nawas. Saya sadar, peradabannya ternyata berbeda. Di daerah yang memiliki tingkat pendidikan dan pengetahuan yang lebih tinggi, nilai yang diwariskannya pun berbeda. Lagi-lagi budaya menjadi potret atas tingkat peradaban sebuah bangsa. Menjadi pertanyaan besar kita; bagaimana membangun Bangka menjadi peradaban yang mencerdaskan, mendamaikan, dan menyejahterakan dengan kondisi Bangka saat ini?
Dari Mentok hingga Toboali mengenal ungkapan; “dak kawa nyusah”. Kira-kira ini adalah apa? Apakah ada pelajaran dari tradisi lisan untuk menangkis perilaku ini? Ketika kutukan dalam tradisi lisan sudah tidak lagi menakutkan, lalu berbuat zalim dan dosa juga sudah tidak menjadi sebuah kesalahan di hati kita masing-masing, saya khawatir kita akan hidup di tengah kebobrokan. (*)
| Masa Tunggu Pemuatan Karya Sastra adalah Masa Kesabaran dalam Berkarya |
|
|---|
| Hari Lahir Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia |
|
|---|
| Refleksi Teologis-Pedagogis Manasik Haji Kelas Tinggi |
|
|---|
| Inovasi SAKIP: Dari Ortala Setempoh hingga Lempah |
|
|---|
| Euforia Sate dan Gulai: Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Iduladha? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250427_Bambang-Haryo-Suseno.jpg)