Tribunners

Buku Masih Perlu Dibaca

Kegemaran membaca buku di Indonesia bersifat fluktuatif sehingga perlu rangsangan yang kuat agar kegemaran membaca buku dapat stabil grafiknya

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Syamsul Bahri
Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali 

Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali

BANYAK ungkapan yang sering kita dengar tentang buku. Salah satu ungkapan yang paling populer menyebutkan “buku adalah jendela dunia”. Artinya dengan membaca buku, kita akan mendapatkan beragam pengetahuan yang belum kita ketahui sehingga wawasan kita pun kian bertambah. Makna tersebut menggambarkan betapa pentingnya buku karena memberikan banyak pengetahuan kepada manusia.

Ungkapan yang sering kita jumpai di beberapa perpustakaan itu mengingatkan kita akan pentingnya membaca sebagai salah satu cara untuk memperluas ilmu pengetahuan dan wawasan. Di era modern ini, buku tetap harus menjadi sumber inspirasi yang tak tergantikan baik untuk pengembangan pribadi maupun untuk menciptakan masyarakat yang lebih berwawasan. Membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi juga perjalanan tanpa batas menuju dunia yang lebih luas.

Kegemaran membaca buku tentunya juga akan berpengaruh pada sikap dan ilmu pengetahuan seseorang, karena membaca buku tidak hanya untuk menambah wawasan maupun pengetahuan, tetapi juga untuk menjaga kesehatan otak, bahkan kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, mulailah untuk meluangkan waktu membaca dan ajaklah seluruh anggota keluarga melakukan kegiatan ini sebagai kebiasaan. Jika dibiasakan sejak kecil, membaca bisa menjadi salah satu hobi yang menyenangkan dan bermanfaat. Tidak hanya untuk memperkaya pengetahuan, manfaat membaca juga bisa meningkatkan kesehatan fisik serta mental. (Alodokter.com)

Namun, untuk membiasakan gemar membaca buku terkadang sangat sulit dan banyak tantangannya sehingga ketika hendak membaca buku terkadang muncul rasa malas. Menurut Zulfan Efendi, dkk, dalam Student Scientific Creativity Journal (SSCJ) rendahnya minat baca masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan hingga saat ini. Berbagai program telah dilakukan untuk menemukan solusi terbaik. Hal ini disebabkan minat membaca tidak selalu berada pada level yang tinggi. Berbagai situasi turut memberi pengaruh. Memberikan buku yang tidak sesuai dengan usia anak atau memaksakan anak membaca buku yang tidak diminati, secara langsung dapat berpengaruh terhadap suasana hati anak tersebut. Kondisi ini akan makin kurang menguntungkan apabila ditinjau dari tuntutan dan tanggung jawab untuk menjadikan buku sebagai bagian dari proses kebutuhan belajar di sekolah.  

Dari data survei World’s Most Literate Nations (WMLN) pada 2016, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal literasi membaca. Ironisnya, meski minat baca rendah, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penggunaan media digital sangat tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat lebih memilih konsumsi informasi instan melalui media sosial dibandingkan membaca buku.

Begitu juga dengan survei yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 20 persen pelajar di Indonesia yang membaca buku secara rutin, sementara 60 persen lebih memilih untuk menghabiskan waktu di media sosial atau menonton video. Ini menunjukkan bahwa minat baca tidak hanya rendah, tetapi juga teralihkan oleh bentuk hiburan lain yang lebih mudah.

Walaupun, di tahun 2022, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melaporkan, nilai budaya literasi Indonesia mengalami kenaikan sebesar 57,4 poin, naik 5,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, nilai ini masih dinilai minim untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. (narasipost.com)

Data terbaru dari majalah CEOWORLD melakukan survei terhadap 6,5 juta orang di 102 negara pada tahun 2024, untuk mencari tahu frekuensi membaca buku responden per tahunnya. Dari hasil survei menunjukkan penduduk di Amerika Serikat menduduki posisi teratas. Mereka rata-rata membaca 17 buku dalam satu tahun. Lalu, disusul oleh India dengan rata-rata buku yang dibaca masyarakatnya sebanyak 16 buku. Indonesia menurut data CEOWORLD Magazine ini masuk 40 besar, tepatnya di posisi ke-31, dengan rata-rata buku yang dibaca per tahun adalah 5,91. (detik,com)

Jika melihat data dari dalam negeri (Perpusnas RI) melalui Publikasi Hasil Kajian Perpustakaan Nasional pada bulan Desember 2024, masyarakat Indonesia menunjukkan tren positif dalam hal kegemaran membaca. Menurut Direktur PT Indikstat Konsultan Indonesia, Ary Santoso, nilai tingkat gemar membaca mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yakni dari 66,70 menjadi 72,44. Peningkatan kegemaran membaca masyarakat Indonesia naik seiring dengan naiknya indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM).

Dari data-data di atas, terlihat kegemaran membaca buku di Indonesia bersifat fluktuatif sehingga perlu rangsangan yang kuat agar kegemaran membaca buku dapat stabil grafiknya. Di dalam Alodokter.com dibagikan beberapa tip yang dapat dilakukan agar kegemaran membaca buku selalu ada dalam diri kita. Tip-tip tersebut yaitu (1) pilihlah buku yang disukai dan mulailah dengan bacaan yang ringan, misal cerpen atau novel bergambar, (2) nikmati waktu ketika membaca, (3) pilihlah tempat yang tenang dan nyaman untuk membaca, (4) untuk anak-anak, pilihlah buku yang menarik perhatian, misal buku yang berwarna dan bergambar.

Akhirnya mari terus kita budayakan gemar membaca buku. Karena membaca buku  bukanlah hal yang sulit, apalagi di zaman serba modern seperti saat ini, sumber bacaan tersedia dalam banyak bentuk, baik bentuk cetak maupun yang digital. Selamat membaca buku. (*)

 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved