Rabu, 15 April 2026

Tribunners

Pulau Belitung Jadi Pionir Pulau Bebas Karbon di Indonesia

Keinginan menjadikan Pulau Belitung sebagai pulau bebas karbon akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan aktivitas pariwisata dan ekonomi

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Ir. Wahri Sunanda, S.T., M.Eng., IPM., AseanEng. - Dosen Teknik Elektro Universitas Bangka Belitung 

Oleh: Ir. Wahri Sunanda, S.T., M.Eng., IPM., AseanEng. - Dosen Teknik Elektro Universitas Bangka Belitung

KEINGINAN dan cita-cita Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk menjadikan Pulau Belitung sebagai Carbon Free Island (CFI)/pulau bebas karbon tentunya menjadi salah satu langkah progresif untuk mendukung target Indonesia mencapai net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. 

Hingga tahun 2023, emisi karbondioksida di Indonesia telah mencapai 733,22 juta ton, dengan sektor energi menjadi salah satu kontributor terbesar, yang di dalamnya termasuk ketenagalistrikan dan transportasi. Tentunya ini menjadi persoalan utama yang harus ditetapkan langkah penanganannya seiring bertambahnya jumlah penduduk dan aktivitas di berbagai sektor. 

Melalui penerapan berbagai kebijakan termasuk di antaranya menetapkan Pulau Belitung sebagai pionir pulau bebas karbon di Indonesia, hal ini akan berkontribusi positif terhadap mitigasi peningkatan emisi karbondioksida pada tahun 2030, yang menjadi targetan antara pencapaian emisi nol bersih Indonesia. 

Namun, rencana itu perlu didukung dengan perencanaan yang matang, agar cita-cita Pulau Belitung menjadi CFI seperti Pulau Jeju di Korea Selatan benar-benar dapat direalisasikan. Perlu dilakukan segera tahapan menjadikan Pulau Belitung sebagai pulau bebas karbon melalui penetapan secara resmi Pulau Belitung menjadi CFI, lalu diikuti dengan penetapan peta jalan pencapaian pulau bebas karbon. 

Sektor ketenagalistrikan dan sektor transportasi menjadi salah satu fokus utama untuk mendukung pencapaian visi Pulau Belitung menjadi CFI. Hingga akhir tahun 2023, 117 unit pembangkit yang dioperasikan Unit Induk Wilayah PLN Bangka Belitung dengan kapasitas terpasang mencapai 346,78 MW, lebih dari 90 persennya merupakan pembangkit berbasis fosil. Sementara itu, kapasitas terpasang PLT Surya dan PLT Biomassa hanya mencapai 0,35 MW. Tentunya ini menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam mendukung Pulau Belitung menjadi CFI.

Pengembangan energi surya, biomassa, angin, bahkan hidrogen sebagai sumber energi listrik menjadi bagian dari peta jalan yang harus dilakukan, selain juga pensiun dini pembangkit berbasis fosil yang saat ini ada atau penggunaan teknologi carbon capture and storage. Penggunaan electric vehicle secara masif bahkan nantinya menggantikan sepenuhnya transportasi berbasis fosil juga tidak kalah luput dari bagian peta jalan yang harus dipersiapkan secara matang. 

Keinginan menjadikan Pulau Belitung sebagai pulau bebas karbon tentunya akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan aktivitas pariwisata dan ekonomi, melengkapi Belitung Geopark sebagai Global Geopark oleh UNESCO, dan yang utamanya menjadikan Pulau Belitung menuju masa depan yang netral karbon dengan memanfaatkan teknologi canggih pada energi terbarukan, smart grid, dan electric vehicle. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved