Minggu, 10 Mei 2026

Profil Tokoh

Profil Meutya Hafid Eks Jurnalis Sebut 70 Persen Wartawan Belum Memiliki Rumah yang Layak

Meutya Hafid eks Jurnalis sekaligus Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut 70 persen wartawan di Indonesia belum memiliki rumah yang layak.

Tayang:
Penulis: Widodo | Editor: M Zulkodri
DOK. Dpr.go.id
MENTERI KOMDIGI - Meutya Hafid eks Jurnalis sekaligus Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut 70 persen wartawan di Indonesia belum memiliki rumah yang layak. 

BANGKAPOS.COM -- Simak profil Meutya Hafid mantan Jurnalis yang menyebut 70 persen wartawan di Indonesia belum memiliki rumah yang layak.

Hal itu diungkapkannya dalam program rumah untuk karyawan industri media yang diselenggarakan oleh Bank BTN, atau PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk di Perumahan Grand Harmoni Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (6/05/2025) sore hari.

"Sebanyak 70 persen dari total kurang lebih 100.000 wartawan di Indonesia belum mempunyai rumah yang layak," sebut Meutya dalam sambutannya.

Dengan itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebutkan bahwa ini merupakan program peduli dengan insan media.

"Perhatian pemerintah memberikan rumah yang harganya terjangkau dan layak," ujar wanita yang sempat menjadi wartawan.

"Tugas wartawan bukan hanya tentang meliput, menulis, tugas insan media menjaga demokrasi yang sering mengorbankan kepentingan pribadinya," katanya.

"Selamat bagi wartawan yang mendapatkan manfaat program rumah karyawan industri media gelombang pertama," pungkasnya. 

Lantas siapa sosok Meutya Hafid?

Melansir TribunJabar.id, perempuan bernama lengkap Meutya Viada Hafid ini merupakan politikus Partai Golkar kelahiran Bandung, 3 Mei 1978.

Sepanjang perjalanan kariernya, Meutya Hafid dikenal sebagai jurnalis hingga politikus.

Dirinya mengawalai karier sebagai jurnalis dan presenter berita Metro TV.

Salah satu momen yang melambungkan namanya adalah ketika ia dan juru kamera Metro TV, disandera oleh kelompok bersenjata di Irak saat sedang bertugas tahun 2005 lalu. 

Kala itu, Meutya Hafid dan rekannya disandera selama tiga hari hingga akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005.

Pengalaman tersbeut diceritakan Meutya Hafid melalui bukunya yang berjudul 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak (2007).

Pada 2007, Meutya Hafid juga teprilih sebagai pemenang Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill dari pemerintah Australia

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved