Sabtu, 25 April 2026

Berita Pangkalpinang

Perjalanan Mardi, Petani Kopi yang Melawan Arus di Tanah Penghasil Lada dan Tambang Timah

Diawali dengan menanam kopi di sekitar rumah, Mardi kini telah mengelola 69.000 batang tanam kopi dari kelompok tani binaanya di Desa Petaling

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)
PETANI KOPI PETALING - Mardi berdiri di antara rimbun pohon kopi robusta yang ia tanam sejak 2012 di pekarangan rumahnya di Desa Petaling, Bangka, Jumat (16/5/2025). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Sore itu, mentari mulai condong ke barat, saat saya tiba di Desa Petaling, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kep. Bangka Belitung.

Jalanan kampung yang lengang membawa saya ke sebuah rumah sederhana. Di sekelilingnya deretan tanaman kopi tampak tumbuh subur.

Mardi sang pemilik rumah sudah menunggu kedatangan saya. Ia pun menyambut dengan senyum ramah.

Tampak secangkir kopi hangat dari hasil kebunnya sendiri sudah disiapkannya.

PENJEMURAN BIJI KOPI - Mardi memeriksa biji kopi yang sedang dalam proses penjemuran, di pekarangan rumahnya di Desa Petaling, Bangka, Jumat (16/5/2025).
PENJEMURAN BIJI KOPI - Mardi memeriksa biji kopi yang sedang dalam proses penjemuran, di pekarangan rumahnya di Desa Petaling, Bangka, Jumat (16/5/2025). ((Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah))

Tak banyak yang tahu, lelaki inilah sosok di balik lahirnya "Kapling" singkatan dari Kopi Asli Petaling, sebuah produk kopi lokal yang kini mulai dikenal di seantero Bangka Belitung.

Nama ini dipilih setelah sebelumnya "Kopling" (Kopi Petaling) gagal didaftarkan karena sudah lebih dulu digunakan.

Tapi tak mengapa. Baginya nama hanyalah label, rasa dan perjuanganlah yang utama.

"Awalnya saya tanam 260 batang saja, di pekarangan rumah ini. Itu tahun 2012. Dari situ saya ajak beberapa petani lain, kita bentuk kelompok tani, sampai akhirnya jadi koperasi," kisah Mardi saat ditemui Bangkapos.com, Jumat (16/5/2025) sore.

Kini, Mardi membina kelompok tani bernama Kopling Banjar Mandiri. Kelompok tani ini telah mengelola lebih dari 23 hektare lahan dari total 78 hektare yang telah dipersiapkan. 

Total ada sekitar 69.000 batang kopi robusta yang tumbuh. Mardi dan kelompoknya menjadi pionir kopi lokal di daerah yang lebih akrab dengan komoditas lada dan kelapa sawit.

Ia hanya seorang pecinta kopi. Tapi kecintaannya bukan sekadar pada rasa, melainkan pada potensi.

Tapia ia sadar, masyarakat di Bangka Belitung setiap harinya mengonsumsi sekitar 3 ton biji kopi. Dan sebagian besar masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

PENCUCIAN BIJI KOPI - Kopi Petaling yang telah dipanen dibersihkan dengan cara dicuci sebelum dijemur
PENCUCIAN BIJI KOPI - Kopi Petaling yang telah dipanen dibersihkan dengan cara dicuci sebelum dijemur ((Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah))

"Sayang sekali, Bangka Belitung potensinya besar tapi bahan bakunya malah dari luar. Saya ingin tunjukkan kalau kopi bisa tumbuh di dataran rendah seperti Petaling ini." ujar Mardi. 

Untuk menenam kopi, ia belajar sendiri. Ia bahkan mendatangi beberapa daerah penghasil kopi. Hal ini dilakukannya agar memahami soal proses mulai dari budidaya, panen, pengeringan, bahkan pengolahan pasca panen. 

Semuanya dikerjakan sendiri di awal. Mulai dari penjemuran hingga meroasting biji kopi.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved