Berita Pangkalpinang
Perjalanan Mardi, Petani Kopi yang Melawan Arus di Tanah Penghasil Lada dan Tambang Timah
Diawali dengan menanam kopi di sekitar rumah, Mardi kini telah mengelola 69.000 batang tanam kopi dari kelompok tani binaanya di Desa Petaling
Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra
BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Sore itu, mentari mulai condong ke barat, saat saya tiba di Desa Petaling, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kep. Bangka Belitung.
Jalanan kampung yang lengang membawa saya ke sebuah rumah sederhana. Di sekelilingnya deretan tanaman kopi tampak tumbuh subur.
Mardi sang pemilik rumah sudah menunggu kedatangan saya. Ia pun menyambut dengan senyum ramah.
Tampak secangkir kopi hangat dari hasil kebunnya sendiri sudah disiapkannya.
Tak banyak yang tahu, lelaki inilah sosok di balik lahirnya "Kapling" singkatan dari Kopi Asli Petaling, sebuah produk kopi lokal yang kini mulai dikenal di seantero Bangka Belitung.
Nama ini dipilih setelah sebelumnya "Kopling" (Kopi Petaling) gagal didaftarkan karena sudah lebih dulu digunakan.
Tapi tak mengapa. Baginya nama hanyalah label, rasa dan perjuanganlah yang utama.
"Awalnya saya tanam 260 batang saja, di pekarangan rumah ini. Itu tahun 2012. Dari situ saya ajak beberapa petani lain, kita bentuk kelompok tani, sampai akhirnya jadi koperasi," kisah Mardi saat ditemui Bangkapos.com, Jumat (16/5/2025) sore.
Kini, Mardi membina kelompok tani bernama Kopling Banjar Mandiri. Kelompok tani ini telah mengelola lebih dari 23 hektare lahan dari total 78 hektare yang telah dipersiapkan.
Total ada sekitar 69.000 batang kopi robusta yang tumbuh. Mardi dan kelompoknya menjadi pionir kopi lokal di daerah yang lebih akrab dengan komoditas lada dan kelapa sawit.
Ia hanya seorang pecinta kopi. Tapi kecintaannya bukan sekadar pada rasa, melainkan pada potensi.
Tapia ia sadar, masyarakat di Bangka Belitung setiap harinya mengonsumsi sekitar 3 ton biji kopi. Dan sebagian besar masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
"Sayang sekali, Bangka Belitung potensinya besar tapi bahan bakunya malah dari luar. Saya ingin tunjukkan kalau kopi bisa tumbuh di dataran rendah seperti Petaling ini." ujar Mardi.
Untuk menenam kopi, ia belajar sendiri. Ia bahkan mendatangi beberapa daerah penghasil kopi. Hal ini dilakukannya agar memahami soal proses mulai dari budidaya, panen, pengeringan, bahkan pengolahan pasca panen.
Semuanya dikerjakan sendiri di awal. Mulai dari penjemuran hingga meroasting biji kopi.
| Rektor UBB Ingatkan Seluruh Wisudawan agar Tidak Terlena dengan Selembar Ijazah |
|
|---|
| PKS Tak Ingin Tergesa-Gesa Tentukan Sikap soal Wacana Pilkada Langsung dan Tidak Langsung |
|
|---|
| Lulus dengan Nilai IPK 3,94 di UBB, Nur Faizza Bangga Bisa Berpidato Mewakili Para Wisudawan |
|
|---|
| Pasca Pengunduran Diri Tim Tujuh, Lurah Bukit Sari: Pendaftaran Calon Ketua RT Dibuka Ulang |
|
|---|
| Bank Sumsel Babel Hadirkan KSG Sertifikasi, Permudah Akses Pembiayaan bagi Guru Penerima TPG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Mardi-Petani-Kopi-Petaling.jpg)