Rabu, 29 April 2026

Tribunners

Kebangkitan Pariwisata Berkelanjutan Bangka Belitung

Pemberdayaan masyarakat lokal menjadi faktor utama dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Editor: Suhendri
Istimewa/Dok. Juhari
Dr. Juhari, S.E., M.M. - Kaprodi Magister Manajemen FEB Universitas Pertiba 

Oleh: Dr. Juhari, S.E., M.M. - Kaprodi Magister Manajemen FEB Universitas Pertiba

PARIWISATA di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini tengah menghadapi tantangan serius yang tercermin dari penurunan signifikan jumlah kunjungan wisatawan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung menunjukkan bahwa pada Februari 2025, jumlah wisatawan yang menginap di hotel berbintang turun sebesar 21,55 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dengan total kunjungan hanya 27.876 orang.

Penurunan tersebut terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota, dengan Kabupaten Bangka mencatat penurunan tertinggi sebesar 37,34 persen. Dominasi wisatawan domestik tetap kuat, mencapai 98,58 persen dari total kunjungan, namun baik wisatawan domestik maupun asing sama-sama mengalami penurunan jumlah kunjungan.

Meski jumlah kunjungan menurun, rata-rata lama menginap wisatawan di hotel berbintang justru mengalami sedikit peningkatan, dari 1,61 malam pada Januari menjadi 1,63 malam pada Februari 2025. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan yang datang cenderung menghabiskan waktu lebih lama, meskipun jumlahnya berkurang. Namun, tren penurunan ini menjadi sinyal penting bahwa sektor pariwisata Babel perlu segera mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Penurunan kunjungan ini tidak hanya berdampak pada pendapatan sektor pariwisata, tetapi juga berimplikasi luas pada ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada aktivitas wisata. Kondisi ini diperparah oleh tantangan aksesibilitas yang terbatas, kurangnya promosi efektif, serta dampak ekonomi dari kasus tata niaga timah yang menekan daya beli masyarakat dan investasi di sektor lain.

Dalam konteks fenomena di atas, penting untuk membahas bagaimana Babel dapat menggeliatkan kembali pariwisatanya dengan memanfaatkan potensi alam dan budaya yang melimpah, sekaligus mengatasi berbagai kendala yang ada. Artikel ini akan mengupas tantangan, peluang, harapan dan berkelanjutan dalam mengembalikan dan meningkatkan kejayaan pariwisata Babel sebagai salah satu destinasi unggulan di Indonesia.

Tantangan

Tantangan terbesar dalam menghidupkan kembali pariwisata di Bangka Belitung (Babel) sangat kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Salah satu hambatannya adalah dampak pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Pandemi ini menyebabkan penurunan drastis jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sehingga sektor pariwisata mengalami pelemahan signifikan. Banyak pelaku usaha harus beradaptasi dengan kondisi baru di tengah menurunnya daya beli masyarakat dan perlambatan aktivitas ekonomi secara umum.

Selain itu, aksesibilitas yang terbatas menjadi kendala serius. Sarana transportasi yang kurang memadai, terutama frekuensi penerbangan yang rendah, menyulitkan wisatawan untuk menjangkau destinasi di Babel. Kondisi ini membuat biaya perjalanan menjadi mahal dan mengurangi daya saing Babel dibandingkan destinasi lain yang lebih mudah diakses.

Promosi wisata yang terintegrasi juga belum optimal sehingga menjadi faktor penghambat. Strategi pemasaran yang kurang masif dan inovatif membuat potensi wisata Babel belum dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional. Akibatnya, jumlah kunjungan wisatawan belum mencapai target yang diharapkan untuk menggerakkan roda ekonomi lokal.

Keterbatasan anggaran pengembangan pariwisata juga memperburuk situasi. Dana pemerintah daerah yang terbatas membatasi kemampuan untuk membangun dan memperbaiki fasilitas wisata, menyelenggarakan event-event strategis, serta melakukan promosi secara efektif. Hal ini turut berdampak pada pelaku usaha perhotelan, agen perjalanan, dan pelaku usaha wisata lainnya yang harus mencari cara kreatif agar tetap bertahan, seperti mengalihkan fokus ke pasar swasta dan menawarkan paket-paket baru yang lebih inovatif dan harga yang terjangkau.

Ketergantungan ekonomi Babel pada sektor pertambangan timah yang tengah menghadapi berbagai permasalahan tata niaga timah merupakan tantangan struktural yang tidak bisa diabaikan. Ketergantungan ini menghambat investasi dan pengembangan sektor pariwisata sebagai alternatif penggerak ekonomi yang lebih berkelanjutan. Oleh karena itu, diversifikasi ekonomi dan penguatan sektor pariwisata menjadi kebutuhan mendesak.

Terakhir, kurangnya sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, media, akademisi, dan masyarakat juga menjadi penghambat signifikan. Pengembangan pariwisata yang efektif membutuhkan kerja sama yang erat dan terintegrasi dari seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah Kabupaten Belitung, misalnya, telah membentuk tim percepatan pembangunan pariwisata yang fokus pada berbagai aspek seperti retribusi dan promosi, sebagai upaya mengatasi tantangan ini dengan pendekatan manajemen terbuka dan kolaborasi bersama.

Secara keseluruhan, untuk mengembalikan kejayaan pariwisata Bangka Belitung, diperlukan upaya terpadu yang mencakup penanganan dampak pandemi, perbaikan aksesibilitas dan infrastruktur, peningkatan promosi yang inovatif, pengelolaan anggaran yang efisien, pengurangan ketergantungan pada sektor pertambangan, serta penguatan sinergi antar-pemangku kepentingan. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, pariwisata Babel berpotensi bangkit kembali dan menjadi tulang punggung perekonomian daerah yang berkelanjutan.

Peluang ekonomi lokal dalam pengembangan pariwisata Babel

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved