Tribunners

Makaseh, Nesi Setiani 

Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan dari identitas, sejarah, dan tradisi masyarakat setempat.

Editor: Suhendri
Istimewa/Dok. Rusmin Sopian
Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali 

Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali

"TADI, Nesi Setiani, siswa kami tampil hame-hame ken anak-anak lain e, tampil dalam pagelaran dongeng Nesia dan 3 Sahabat di Negeri Garuda," cerita Husna, guru SDN 5 Tukak Sadai, kepada penulis melalui pesan percakapan WhatsApp, Senin (26/5/2025) pagi.

Nesi Setiani adalah pelajar SDN 5 Tukak Sadai yang mewakili Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ikut dalam pagelaran Dongeng Nesia dan 3 Sahabat Negeri Garuda dalam acara Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat nasional tahun 2025. Dalam pagelaran ini, Nesi kebagian peran menjadi warga di wilayah Wansa Garuda Barat.

Sebelumnya, pelajar kelas 5 ini adalah juara pertama lomba dongeng tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam acara Festival Tunas Bahasa Ibu yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung beberapa waktu lalu.

Tampilnya Nesi Setiani tentunya merupakan prestasi besar bagi daerah ini, khususnya daerah Bangka Selatan.

Pada sisi lain, dalam acara Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat nasional, Pemerintah Daerah Bangka Selatan dianugerahi penghargaan sebagai daerah pelestarian bahasa daerah yang diterima Wakil Bupati Debby Vita Dewi.

Bahasa daerah adalah warisan budaya yang berharga dan memperkaya bangsa dengan keberagaman dan kekayaannya. Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan dari identitas, sejarah, dan tradisi masyarakat setempat.

Melalui bahasa, cerita rakyat, dongeng, dan pengetahuan genetik dapat dilestarikan. Dengan melestarikan bahasa daerah, sekaligus memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki akses terhadap pengetahuan dan kearifan lokal yang ada dalam bahasa tersebut.

Pelestarian bahasa daerah menjadi penting untuk memperkaya keragaman bahasa. Setiap bahasa memiliki cara unik untuk mengungkapkan pikiran, emosi, dan dunia di sekitar kita. 

Melalui pemeliharaan, pelestarian, dan pengembangan bahasa daerah, kita dapat memastikan bahwa kekayaan budaya ini tetap hidup dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita.

Salah satu cara agar bahasa daerah tetap terlestarikan dengan cara menjadikan bahasa daerah menjadi bagian penting dari kegiatan di instansi pemerintah dan sekolah.

Alangkah hebatnya, ketika ada pesan di Billboard yang menggunakan bahasa daerah. Dan alangkah pula indahnya saat perayaan hari jadi daerah kabupaten dan provinsi di daerah ini, sambutan pemimpin daerahnya menggunakan bahasa daerah.

Kita tentunya  harus bangga berbahasa daerah sebagaimana yang diungkapkan Husna, guru SDN 5 Tukak Sadai, yang menjadi pendamping Nesi Setiani dalam Festival Tunas Bahasa tingkat nasional tahun 2025.

"Berbahasa daerah itu keren. Jangan malu berbahasa daerah."  (Husna guru SDN 5 Tukak Sadai). (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved