Kamis, 9 April 2026

Tribunners

Jalan Panjang Kemandirian Ekonomi Bangka Belitung

Dominasi ekspor komoditas mentah terutama timah, mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi yang belum terdiversifikasi.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Ridho Ilahi - Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Oleh: Ridho Ilahi - Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

PERTUMBUHAN ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 4,60 persen (y-on-y), tertinggi dalam lima tahun terakhir untuk periode yang sama. Sebuah capaian yang patut diapresiasi, terlebih jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 1,01 persen. 

Namun, di balik angka tersebut tersimpan persoalan struktural yang tidak bisa diabaikan, yakni ketergantungan yang tinggi terhadap sektor primer. Dominasi ekspor komoditas mentah terutama timah, mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi yang belum terdiversifikasi.

Meningkatnya kinerja ekonomi Babel ditopang oleh tiga lapangan usaha utama, yakni industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, serta administrasi pemerintahan. Industri pengolahan mencatat pertumbuhan impresif 10,16 persen dan pertambangan serta penggalian mampu tumbuh 12,22 persen. Pemicunya adalah disetujuinya rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pertambangan oleh Kementerian ESDM sejak Januari 2025 yang memungkinkan ekspor logam timah kembali berjalan.

Dampaknya sangat terasa. Ekspor Babel selama Januari–April 2025 melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni dari 296,89 juta dolar Amerika Serikat (AS) menjadi 602,86 juta dolar AS. Sebanyak 77,87 persen dari nilai tersebut berasal dari ekspor timah. Artinya, ekonomi Babel kembali bergantung sepenuhnya pada satu komoditas yang volatil dan rentan terhadap gejolak harga global.

Namun, ketergantungan yang begitu besar terhadap satu komoditas membuat fondasi ekonomi Babel tampak rapuh. Struktur ekonomi yang terlalu berat di sektor primer mengandung risiko sistemik, terutama jika pasar global terguncang atau terjadi pembatasan ekspor. Pertumbuhan berbasis ekstraksi sumber daya alam seperti ini memang cepat, tetapi mudah goyah ketika harga jatuh atau permintaan melemah.

Ketika kita mengamati struktur antarsektor dengan pendekatan input-output, tampak jelas bahwa efek pengganda ekonomi dari sektor pertambangan dan pengolahan logam masih terbatas. Ini disebabkan oleh lemahnya forward linkage ke sektor hilir. Produk timah  lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah atau setengah jadi. Kegiatan industri lanjutan seperti pembuatan solder, logam campuran, komponen elektronik, hingga baterai kendaraan listrik, belum terealisasi sama sekali di Babel. 

Kondisi tersebut menjadikan nilai tambah ekonomi justru lebih banyak dinikmati oleh daerah atau negara lain. Sementara itu, Babel hanya menjadi titik awal rantai pasok global tanpa peran berarti dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas atau inovasi teknologi. Tanpa percepatan hilirisasi, Babel akan terus terjebak dalam siklus ekonomi berbasis bahan mentah yang rentan dan tidak inklusif.

Masih rendahnya kontribusi sektor pertanian dan perikanan terhadap total PDRB mencerminkan belum maksimalnya pemanfaatan potensi sumber daya lokal. Padahal, subsektor perkebunan seperti komoditas kelapa sawit, karet, dan lada telah menyumbang lebih dari 9 persen PDRB, sementara itu perikanan menyumbang 7,44 persen. Ini seharusnya menjadi titik tumpu baru pembangunan ekonomi Babel yang berorientasi pada kemandirian pangan dan penguatan ekonomi rakyat. 

Sektor pertanian dan perikanan yang semestinya menjadi bantalan ekonomi masyarakat belum menunjukkan performa optimal. Nilai tukar petani (NTP) pada Mei 2025 tercatat sebesar 147,47, keempat tertinggi di Sumatra. Ironisnya, subsektor tanaman pangan dan budi daya ikan mencatat NTP di bawah 100. Artinya, pendapatan petani dan pembudi daya ikan tidak sebanding dengan pengeluaran mereka. Ini menjadi sinyal bahwa sektor ekonomi rakyat belum tersentuh oleh kebijakan transformasi struktural secara serius.

Tidak hanya itu, produksi beras lokal pada 2024 baru mampu memenuhi sekitar 30,5 persen dari total kebutuhan konsumsi. Sisanya masih mengandalkan impor dari luar provinsi. Ini merupakan paradoks bagi provinsi yang memiliki potensi lahan dan iklim yang mendukung produksi pangan. Tingginya ketergantungan pangan dari luar daerah menjadi celah yang berisiko menekan daya beli masyarakat apabila terjadi gangguan pasokan nasional.

Pariwisata juga menyimpan peluang besar. Pada April 2025, jumlah perjalanan wisatawan Nusantara mencapai lebih dari 507 ribu. Sayangnya, tingkat hunian hotel bintang hanya 25 persen. Ini menunjukkan bahwa potensi wisata belum dikelola secara maksimal. 

Sektor logistik dan infrastruktur juga menjadi kunci dalam menentukan keberlanjutan pertumbuhan. Volume angkutan laut mengalami peningkatan menjadi 1,46 juta ton yang mencerminkan pergerakan barang yang tinggi. Namun, volume bongkar muat angkutan udara justru mengalami penurunan tajam akibat turunnya aktivitas pengiriman komoditas e-commerce dan marine product seperti kepiting dan ikan. Penurunan ini menunjukkan bahwa konektivitas logistik belum berjalan optimal, khususnya untuk produk bernilai tinggi dan cepat rusak. 

Ketimpangan dan kualitas pertumbuhan

Di tengah catatan positif pertumbuhan ekonomi, Babel juga menghadapi tantangan dalam hal ketimpangan dan kualitas pertumbuhan. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) justru meningkat pada Februari 2025, dengan dominasi pengangguran dari kalangan sarjana dan diploma sebesar 12,43 persen. Ironisnya, di tengah meningkatnya produksi timah, sektor-sektor padat karya seperti pertanian dan pengolahan pangan belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja terdidik.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved