Senin, 20 April 2026

Malam 1 Suro, Ini Pantangan Bagi Weton Tulang Wangi, Kamu Termasuk?

Dalam budaya masyarakat Jawa, malam 1 Suro dianggap sebagai malam penuh energi spiritual dan mistik.

Penulis: Agis Priyani | Editor: fitriadi
Tribun Kaltim
SATU SURO -- Dalam budaya Jawa, malam Satu Suro dianggap sebagai malam penuh energi spiritual dan mistik. Banyak yang meyakini bahwa malam ini membawa aura sakral, bahkan beberapa mengaitkannya dengan potensi kesialan atau hal-hal buruk, terutama bagi mereka yang memiliki "aura kuat" seperti pemilik weton tulang wangi. 

BANGKAPOS.COM - Malam 1 Suro akan jatuh pada hari ini, Kamis (26/6/2025) bertepatan dengan 1 Muharram.

Malam 1 Suro adalah malam pertama dalam bulan Suro, yang merupakan bulan pertama dalam penanggalan Jawa.

Malam ini bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah, dan pada tahun 2025, malam Satu Suro jatuh pada tanggal 27 Juni 2025.

Baca juga: Apa Perbedaan Malam 1 Suro dan Muharram? Simak Penjelasan dan Sejarahnya

Dalam budaya Jawa, malam Satu Suro dianggap sebagai malam penuh energi spiritual dan mistik.

Banyak yang meyakini bahwa malam ini membawa aura sakral, bahkan beberapa mengaitkannya dengan potensi kesialan atau hal-hal buruk, terutama bagi mereka yang memiliki "aura kuat" seperti pemilik weton tulang wangi.

Istilah Suro berasal dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab, yang berarti "sepuluh", merujuk pada sepuluh Muharam.

Namun dalam tradisi Jawa, peringatan malam 1 Suro biasanya dilaksanakan sejak malam hari setelah Magrib, karena menurut penanggalan Jawa, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam.

Dalam tradisi Jawa, weton atau hari kelahiran menurut penanggalan Jawa dipercaya membawa karakter dan pengaruh tersendiri dalam kehidupan seseorang.

Salah satu jenis weton yang dianggap memiliki kekuatan mistis adalah weton tulang wangi.

Dikutip dari Kompas.com, Selasa (24/6/2025), weton tulang wangi adalah bentuk kepercayaan masyarakat dalam menyambut 1 Suro atau 1 Muharram.

Kepala Pusat Unggulan Iptek Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Sahid Teguh Widodo, menerangkan, munculnya weton tulang wangi merupakan bentuk self-cultivation.

Adapun, self-cultivation atau budaya diri untuk menapaki sesuatu yang baru, dalam hal ini untuk menyambut Tahun Baru Islam.

Sahid mengatakan, keyakinan akan weton tulang wangi muncul karena budaya Jawa tidak bersifat antropologi, tetapi lebih ke kosmologi.

Artinya, orang Jawa meyakini bahwa dirinya bagian dari semesta alam.

Pantangan Weton Tulang Wangi

Bagi pemilik weton ini, terdapat beberapa pantangan yang perlu diperhatikan, terutama saat memasuki malam 1 Suro, malam yang sangat sakral dalam budaya Jawa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved