Tribunners
Tahun Baru Islam: Peradaban Baru
Hijrah tidak sekadar pindah dalam pengertian fisik, tetapi hakikatnya adalah mengubah diri menuju situasi yang lebih baik
Oleh: Rusydi Sulaiman - Direktur Madania Center, Guru Besar dalam Kepakaran Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
BUNYI-bunyian terus mengusik; gema terompet, warna-warni kembang api yang mengilap meletus keras di langit disertai sorak manusia di jalanan dan pinggiran kota, bahkan kampung, terutama kerumunan orang di lapangan luas, persis jam 00.00 antara ujung malam dan menuju dini hari; menandakan berakhir tahun Masehi lama ke tahun baru Masehi. Fakta itu dipastikan ada di setiap menjelang awal tahun baru. Rasa-rasanya ketinggalan zaman (out of date) bila tidak bergabung malam itu.
Tahun Baru Masehi selalu saja baru bahkan berlebih-lebihan. Berbeda dengan Tahun Baru Hijriah (Islam), sunyi senyap, umat Islam bergeming, tak tergerak, tak tersentuh atau (mereka) sengaja lakukan hal itu. Mengapa demikian?
Dirayakan atau tidak sebenarnya tidak juga masalah. Dalam agama, hal semacam itu tidaklah penting, apalagi disikapi secara berlebihan sehingga mengabaikan hal yang lebih utama. Agama membutuhkan ketaatan dan kesadaran tinggi dalam beragama.
Hanya saja sebagai muslim setidaknya tersentuh pada nuansa bertahun baru, yaitu Tahun Baru Islam (1 Muharam)! Walaupun tidak terlalu bereuforia, diharapkan ada suasana berbeda menuju yang baru sebagai pijakan menuju situasi yang lebih baik; menjadi baru.
Baru, berarti belum pernah ada sebelumnya, bersifat baru atau awal, menjadi baharu; pembaharu (orang yang ciptakan sesuatu yang baru atau mengubah sesuatu menjadi baru, berbeda dengan kondisi sebelumnya). Adapun kata pembaharuan lebih diartikan sebagai bentuk baru atau wujud apa yang diperbarui.
Kata,"baru" bila dilekatkan pada sesuatu dipastikan menggoda hampir setiap orang; Handphone baru; baju baru; mobil baru apalagi pengantin baru. Jiwa ini tergiring ke bentuk dan atau situasi tertentu yang belum ada sebelumnya, berharap adanya perubahan terlebih di Tahun Baru Islam saat ini, 1 Muharram 1447 Hijriah.
Dalam sejarah Islam, hijrah berawal dari perjalanan Nabi Muhammad beserta sahabat dari Makkah (Ka'batul-Qushshad) menuju Yatsrib (Madinah) pada tahun 622 M untuk tujuan peradaban; intensifikasi Islam (the intensification of Islam), dalam QS. Al-Anbiya' (21): 107, artinya: "Tidaklah Kami utus Engkau, kecuali sebagai pembawa rahmat bagi semua umat".
Ketika tujuannya Madinah, maka negeri tersebut diasumsi lebih strategis apalagi telah nyata dukungan penduduknya kepada nabi melalui perjanjian (Bai'ah 'Aqobah 1 dan 2) dan beberapa faktor pendukung hijrah tersebut. Diambil dari kata dalam bahasa Arab, yaitu: "tamaddana-yatamaddanu- tamaddun, berarti peradaban (civilization), kemudian menjadi "Madinah" adalah kota (pusat peradaban), dan penduduknya disebut, "madaniy".
Istilah berikutnya, "civil society" atau masyarakat Madani. Dua terma lain melekat adalah al-Hadhaarah dan ta"diib, identik dengan warga menetap yang berperadaban.
Al-Farabi menyebutnya sebagai "al-Madiinah al-Faadhilah" Hal- hal yang melegitimasi kewarganegaraan penduduknya, disebut Piagam Madinah". Ini merupakan teladan yang dicontohkan Muhammad Saw dalam membuat yang baru; maksudnya lakukan pembaruan. Selain perintah Allah Swt, hijrah pastinya disebabkan oleh faktor tertentu dan tujuan strategis. Muhammad Saw tidak sekadar kepala agama, melainkan juga seorang kepala negara.
Hijrah tidak sekadar pindah dalam pengertian fisik, tetapi hakikatnya adalah mengubah diri menuju situasi yang lebih baik; melangkah pasti, lakukan perubahan signifikan, berbuat terbaik dan aktualisasi diri di tengah masyarakat sehingga dapatkan pengajuan (social-recognition) setelah kita lakukan sesuatu yang baru berupa pembaruan.
Tahun baru adalah peradaban baru, lebih spesifik Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1447 H. Mari kita melangkah pasti hingga ke bulan-bulan berikutnya, sepanjang tahun, dalam QS.At-Taubah (9): 36). (*)
| Mengapa Pasir Tailing Timah Layak Dipertimbangkan untuk Beton Non-Struktural? |
|
|---|
| Selesai Membuat Pantun Otentik Sebelum Enam Puluh Detik |
|
|---|
| Imunitas Karya Jurnalistik Pasca-putusan MK No. 145/2025 |
|
|---|
| Isra Mikraj 1447 H: Momentum Meningkatkan Spiritual dan Moral Peserta Didik |
|
|---|
| Menyoal Pilkada Langsung dan Atau Tak Langsung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250612_Rusydi-Sulaiman.jpg)