Akhirnya Agam Rinjani Dapat Donasi Rp1,5 M Setelah Sempat Dibatalkan VOAA karena Dihujat Netizen

Akhirnya Agam Rinjani, dipastikan dapat donasi setelah sempat dibatalkan oleh VOAA. Donasi sempat dibatalkan karena VOAA dihujat netizen Brazil.

Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: Dedy Qurniawan
Youtube GAKKUM KEHUTANAN
DAPAT DONASI - Akhirnya Agam Rinjani, dipastikan dapat donasi setelah sempat dibatalkan oleh VOAA. Donasi sempat dibatalkan karena VOAA dihujat netizen Brazil. 

BANGKAPOS.COM - Akhirnya Agam Rinjani, dipastikan dapat donasi setelah sempat dibatalkan oleh VOAA.

Donasi sempat dibatalkan karena VOAA dihujat netizen Brazil.

Hujatan itu datang seiring sorotan terhadap besarnya pemotongan donasi oleh platform penggalangan dana tersebut.

Hanya berselang sehari setelah pembatalan yang diumumkan pada Senin (30/6/2025), sehari kemudian VOAA kembali mengumumkan bahwa donasi jadi diberikan dan akan diterima utuh oleh Agam RInjani.

Dikutip dari CNN Brasil, Selasa (1/7/2025), VOAA  menarik pernyatannya dan kembali mengumumkan bahwa dana sekitar Rp 1,5 miliar itu sepenuhnya akan ditransfer ke Agam Rinjani tanpa potongan biaya.

 Sebelumnya dana itu terkumpul Rp 1,3 miliar namun jumlahnya terus bertambang menjadi Rp 1,5 miliar.

Pengumuman ini disampaikan oleh Vicente Carvalho, pendiri platform Razões Para Acreditar, yang bertanggung jawab atas penggalangan dana itu.

Awalnya, penggalangan dana tersebut dibatalkan setelah mendapat kritik atas biaya administrasi sebesar 20 persen.

Kini, menurut Vicente, keputusan itu direvisi setelah banyak permintaan agar jumlah itu diberikan kepada Agam Rinjani.

Awalnya, VOAA menyebut bahwa kampanye donasi ini awalnya dilandasi oleh niat tulus. 

Namun, mereka mengakui bahwa diskusi seputar vaquinha (istilah lokal untuk penggalangan dana) telah memicu berbagai ujaran kebencian untuk platform. 

“Kami memutuskan untuk segera membatalkan kampanye ini, serta mengembalikan seluruh donasi secara otomatis dan utuh kepada para donatur,” tulis VOAA, dilansir dari Tribunnews.com.

Salah satu pemicu pembatalan donasi adalah pertanyaan publik terkait biaya administrasi sebesar 20 persen yang diterapkan oleh VOAA.  

Meski informasi ini telah disampaikan sejak awal di situs resmi mereka, sejumlah pihak mengaku keberatan dan menganggap transparansi dana kurang memadai.

VOAA menjelaskan, biaya tersebut digunakan untuk menutupi berbagai layanan di luar sekadar penyediaan platform, termasuk proses kurasi, verifikasi cerita, produksi konten, komunikasi strategis, pengelolaan hukum dan keuangan, hingga pendampingan penuh selama kampanye berlangsung. 

Hal-hal tersebut, menurut VOAA, dijalankan oleh tim profesional dengan biaya tetap yang tidak sedikit. 

“Ini bukan semata-mata soal perantara donasi, tapi layanan yang komprehensif, aman, dan transparan,” jelas pihak VOAA

Baca juga: Sosok Rio Pratama, Anggota SAR Sindir Agam Rinjani Cari Panggung Terima Donasi usai Evakuasi Juliana

Mereka juga memastikan bahwa pengembalian dana akan dilakukan secara otomatis ke metode pembayaran awal mulai Senin (30/6/2025), tanpa memerlukan tindakan lanjutan dari para donatur. 

Meski kampanye donasi dibatalkan, VOAA menegaskan bahwa mereka tetap teguh menjalankan misinya, membantu sesama. 

Mereka juga menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun yang merasa tidak nyaman, bingung, atau merasa kurang dihargai akibat polemik yang terjadi. 

Agam Rinjani menjadi sosok viral di Brasil setelah aksinya menahan tubuh Juliana Marins agar tidak tergelincir lebih jauh dari jurang Rinjani disiarkan langsung di media sosial.

Berkat aksi heroiknya, ia dijuluki "pahlawan" hingga "malaikat" oleh publik Brasil.

Masyarakat Brasil lalu mendesak agar dibuatkan penggalangan dana untuk membantu Agam.

Agam Tak Sentuh Donasi

Di balik hujatan hingga pro kontra Relawan evakuasi Gunung Rinjani, Agam Rinjani menerima donasi sebesar Rp1,3 miliar dari warga Brasil, ada fakta memilukan.

Agam Rinjani ternyata rela berutang ke kerabatnya lantaran sudah habis untuk membeli tiket dari Jakarta ke Rinjani demi menyelamatkan Juliana Marins.

Agam Rinjani sehari-harinya bekerja sebagai guide di Gunung Rinjani.

Bahkan Agam Rinjani tak segan mengeluarkan uang pribadinya untuk keperluan penyelamatan.

Pada saat kejadian Juliana Marins jatuh, Agam sedang berada di Jakarta untuk persiapan acara pelatihan guide di Gunung Rinjani bersama Tyo Survival.

 Berdasarkan jadwal, Agam baru akan pulang ke Lombok pada tanggal 26 Juni 2025.

Namun Agam harus mempercepat kepulangannya karena Juliana Marins jatuh pada tanggal 21 Juni 2025.

Agam pun akhirnya memutuskan pulang ke Lombok pada tanggal 23 Juni 2025 dini hari, karena tidak kebagian penerbangan di tanggal 22 Juni 2025.

"Ketika ada yang hilang, merasa bersalah saya kalau tidak bantu cari. Karena itu yang bisa saya lakukan," kata Agam dikutip dari Youtube Consina TV, Senin (29/5/2025).

Bukan karena dirinya hapal semua jalur di Rinjani, tapi paling tidak ia memiliki pengetahuan tentang itu.

"Di mana dia hilang, kenapa bisa pisah, tenagaku bisa terpakai untuk menyelamatkan orang yang lagi susah. Kadang rescue pakai uang pribadi," tutur Agam.

Bahkan saat hendak mengevakuasi Juliana, uang Agam pun langsung habis untuk membeli tiket.

Ia kemudian menghubungi rekannya, Disyon, yang selalu mendukung dirinya saat evakuasi.

"Saya telepon Bang Disyon, saya mau berangkat. Uangku sudah gak ada, rescue teakhir saja saya masih ada utang," jelasnya.

Setelah acara talkshow dengan Consina, Agam bahkan sempat meminta uang lagi pada Disyon.

Ia mengaku sudah kehabisan uang untuk membeli rokok.

Hal ini membuktikan kalau Agam tidak mau menggunakan uang donasi, bahkan untuk mengganti biaya tiket yang ia pakai menggunakan uang pribadinya.

"Katanya dapat miliaran, tadi malam Agam minta duit buat beli rokok, duit saya habis buat beli tiket," tulis Disyon di akun Instagramnya @disyon_toba.

Tak hanya itu, Agam juga mengaku grogi saat bicara di depan banyak orang.

"Terus saya grogi bang. Dia boleh jago di gunung, di stage ternyata merinding," tulis Disyon dengan emoticon tertawa.

Agam tidak memiliki uang karena selama evakuasi dirinya tidak membawa tamu, sehingga tak memiliki penghasilan.

Agam membantu mengevakuasi korban secara sukarela, dan tidak pernah mau dibayar sepeserpun.

"Jadi kalau menyelamatkan drone, baru Agam mau dibayar. Kalau nyelamatin orang, Agam gak mau dibayar," kata Disyon lagi.

Setibanya di Lombok, ia langsung mendaki Gunung Rinjani bersama Tyo Survival dan bergabung dengan Tim SAR untuk mengevakuasi Juliana Marins.

Agam jadi sosok yang paling disorot karena sejak awal selalu mengabarkan ke netizen di Brasil soal update proses evakuasi.

Netizen Brasil pun berterima kasih pada Agam dan meminta nomor rekening.

Mereka lalu menggalang donasi untuk Agam Rinjani dan tim yang membantu evakuasi Juliana Marins.

Donasi yang terkumpul ada sekitar Rp 1,3 miliar.

Rupanya hal itu disayangkan oleh Tim SAR, apalagi tidak ada koordinasi dari Agam.

Bahkan ada Tim SAR yang kecewa karena hanya Agam yang disorot oleh netizen Brasil.

Padahal kata dia, tanpa bantuan Tim SAR yang lain, Agam tidak akan bisa mengevakuasi jenazah Juliana Marins seorang diri.

Agam dituding menikmati popularitasnya seorang diri dan memafaatkan untuk menggalang donasi.

Rupanya uang donasi miliaran itu tidak disentuh sama sekali oleh Agam untuk keperluan pribadinya.

Uang itu nantinya akan digunakan oleh Agam untuk kebutuhan di Gunung Rinjani.

Dikutip dari kompas.com, Agam juga akan menggunakan dana tersebut untuk melakukan reboisasi terhadap gunung-gunung yang dilaluinya di Indonesia.

Profil Biodata Agam Rinjani

DAPAT DONASI - Agam Rinjani pengevakuasi Juliana Marins mendapat donasi hingga Rp 1,5 miliar
DAPAT DONASI - Agam Rinjani pengevakuasi Juliana Marins mendapat donasi hingga Rp 1,5 miliar (Instagram @agam_rinjani)

Nama Agam Rinjani jadi sorotan di tengah tewasnya pendaki asal Brazil, Juliana Marins karena terjatuh ke jurang Gunung Rinjani.

Adapun jenazah Juliana berhasil dievakuasi pada Rabu (25/6/2025).

Agam Rinjani adalah rescuer yang melakukan evakuasi jasad Juliana Marins dan dianggap pahlawan oleh netizen Brasil.

Nama asli Agam Rinjani adalah Abdul Haris Agam.

Dilihat dari bio di akun Instagramnya, Agam berprofesi sebagai guide di gunung dan pantai.

Ia memiliki travel bernama Etnoshop Adventure.

Selain itu Agam juga ahli dalam cave dan vertical rescue.

Agam merupakan pemandu di Gunung Rinjani yang menarik perhatian dalam evakuasi ini setelah membagikan video saat dirinya mengevakuasi jenazah Juliana dari jurang dengan kedalaman 600 meter. 

Melalui akun Instagram-nya, @agam_rinjani, ia sempat memposting story yang mengungkapkan bagaimana ia menginap di pinggir tebing saat proses evakuasi. 

"Kami menginap di pinggir tebing yang curam 590 meter bersama Juliana 1 malam dengan memasang ancor supaya tidak ikut meluncur lagi 300 meter," tulisnya, Kamis (26/6/2025).

Ia juga membagikan momen saat ia dan rekannya bermalam di tebing bersama Juliana yang tengah dievakuasi melalui postingan akun Instagram-nya. 

"Setelah memastikan kondisi korban telah meninggal kami gabungan team relawan menjaga korban dan bermalam di tebing vertical yang curam dan kondisi bebatuan yang labil berjarak 3 meter dari korban, sambil menunggu team yang lain untuk mengangkat korban dari atas," ceritanya melalui postingan akun Instagram-nya, Kamis (26/6). 

Di kolom komentar postingan tersebut, Agam mendapatkan banyak dukungan dan pujian dari warganet. 

"Pahlawan kita tidak memakai mantel, dia memakai ransel raksasa dan mengisap rokok (emot love dan bendera Brasil)," tulis salah seorang warganet Brasil dengan akun @bru****. 

"Mereka satu-satunya yang peduli, mereka mempertaruhkan diri untuk orang asing dari negara lain. Orang-orang ini pantas mendapat tepuk tangan," tulis warganet lain dengan akun @annabeat********. 

"Para pahlawan, terima kasih atas usaha yang telah kalian lakukan, seluruh Brasil bersyukur (emot bendera Brasil)," tambah warganet lain dengan akun @carolyn******.

Media asing juga turut memberitakan sosok Agam, salah satunya di Globo.com. Mereka memberitakan sosok Agam yang mengevakuasi Juliana Marins dari kedalaman jurang 600 m.

Cerita Agam Evakuasi Jasad Juliana Marins

WNA asal Brasil, Juliana Marins telah dibawa ke Bali untuk menjalani autopsi.

Ia tewas setelah terjatuh ke jurang saat mendaki Gunung Rinjani pada Sabtu (21/6/2025) dan terjebak selama beberapa hari.

Jasadnya pun baru berhasil dievakuasi oleh tim relawan pada Rabu (25/6/2025).

Salah satu tim relawan, Agam menceritakan kondisi terakhir Juliana Marins saat ditemukan. 

Dalam keterangannya, Agam menyebut jika Juliana tak memungkinkan untuk hidup di jurang dengan kedalaman 600 meter gunung yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat itu.

Hal tersebut karena kondisi Juliana Marins yang sangat memprihatinkan seusai terjatuh ke jurang di Gunung Rinjani.

"Kondisi korban juga parah banget, patah-patah," kata Agam saat live Instagram.

Keadaan luka yang dialami menurut Agam tidak memungkinkan Juliana bisa bertahan hidup.

"Jadi tidak memungkinkan bisa hidup," ucap Agam.

Ia merinci, Juliana mengalami luka di bagian kepala hingga kaki.

"Karena posisi kepala retak, terus kaki patah, pinggang semuanya," kata Agam.

Agam bercerita kondisi tempat Juliana berada memiliki kemiringan ekstrim.

"Lihat video di drone itu posisinya datar, tapi kondisi di lapangan itu miring sampai 70 derajat. Ada yang vertical posisi miringnya," kata Agam.

Kondisi medan membuat langkah yang dilakukan justru membuat celaka

"Jadi ketika Juliana bergerak dua langkah, langsung meluncur ke bawah, turun sampai 200 (meter)," jelasnya.

Memang, oroses evakuasi pendaki Brazil Juliana Marins di Gunung Rinjani menyisakan sejumlah cerita perjuangan dari para tim penyelamat.

Seperti disebut sebelumnya seperti diungkapkan oleh Agam, relawan yang terlibat mengevakuasi jenazah Juliana dengan cara vertical evacuaation ini

Agam juga membagikan kisah perjuangannya bermalam di tebing kedalaman 590 meter.

Lewat akun Instagramnya @agam_rinjani, Agam mengungkapkan proses evakuasi itu tidaklah mudah.

Medan yang curam, berpasir dan mudah longsor membuat tim SAR harus hati-hati.

Agam dan tim bahkan harus menginap dengan sistem Flying Camp atau camp secara menggantung di tebing.

Ia terus menjaga jenazah Juliana agar tidak meluncur ke bawah lagi.

"Kami menginap di pinggir tebing yang curam 590 meter bersama Juliana 1 malam dengan memasang ancor supaya tidak ikut meluncur lagi 300 meter," tulis Agam di Insta Story Instagramnya @agam_rinjani pada Kamis (26/6/2025).

Agam juga membagikan beberapa video saat dirinya berada di jurang.

Tampak sebuah tali yang terhubung ke tubuhnya. Kondisi sekitarnya juga penuh dengan kabut.

Perjuangan Agam ini menuai banyak pujian dari warganet Indonesia dan Brazil.

Namun, viralnya Agam Ranjani tidak hanya karena aksi heroiknya saja.

Meski telah berhasil mengevakuasi Juliana, Agam tetap merasa bersalah.

Pasalnya, dia tidak bisa menyelamatkan Juliana dalam kondisi hidup setelah terjatuh.

Hal itu membuat Agam Rinjani pun meminta maaf kepada warga Brasil yang turut menyoroti peristiwa tragis yang menimpa Juliana tersebut.

Adapun permintaan maaf Agam Ranjani tersebut dilakukannya saat melakukan live di akun Tiktok miliknya dan diunggah oleh akun X, @aingriwehuy.

Dalam video tersebut, Agam tengah melakukan siaran langsung bersama dengan seorang wanita yang diduga keluarga Juliana.

Agam mengatakan alasan tidak bisa menyelamatkan Juliana karena medan yang berat.

"Saya minta maaf tidak bisa membawa pulang dengan selamat karena kondisi medan yang berat dan terlalu jauh ke bawah," katanya dalam video tersebut.

Dia juga mengungkapkan, berdasarkan pengalamannya, memang kesempatan untuk bisa hidup ketika jatuh ke jurang di Gunung Rinjani sangatlah kecil.

"Sudah banyak kasus di Rinjani, memang susah hidup ketika jatuh di lubang-lubang itu karena terlalu curam," tuturnya.

(Tribun Sumsel/ Bangkapos.com)

Artikel ini telah tayang di TribunSumsel.com dengan judul Nasib Donasi Rp1,3 Miliar untuk Agam Rinjani Sempat Dibatalkan, Kini akan Dilanjutkan Tanpa Potongan, https://sumsel.tribunnews.com/2025/07/01/nasib-donasi-rp13-miliar-untuk-agam-rinjani-sempat-dibatalkan-kini-akan-dilanjutkan-tanpa-potongan?page=all#goog_rewarded.
Penulis: Aggi Suzatri | Editor: Weni Wahyuny

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved