Rabu, 3 Juni 2026

Bangka Pos Hari Ini

Bulog Bangka Pastikan Beras yang Didistribusikan Aman Dikonsumsi, Bebas dari Oplosan

Perum Bulog Cabang Bangka memastikan seluruh produk beras yang mereka distribusikan, baik jenis medium, SPHP, maupun premium aman dikonsumsi

Tayang:
Penulis: Hendra CC | Editor: Hendra
Bangkapos.com/Sela Agustika
Pimpinan Cabang Perum Bulog Bangka, Akhmad Fahmi Yasin 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Perum Bulog Cabang Bangka memastikan seluruh produk beras yang mereka distribusikan, baik jenis medium, SPHP, maupun premium, telah sesuai dengan ketentuan dan aman dikonsumsi masyarakat.

Hal itu disampaikan Pimpinan Cabang Perum Bulog Bangka, Akhmad Fahmi Yasin, menyusul adanya temuan 212 merek beras yang diduga dioplos dan melanggar mutu.

“Untuk beras dari Bulog tidak ada yang masuk ke dalam list (daftar) 212 merek tersebut, baik kelas medium, SPHP, maupun premium. Jadi, masyarakat bisa aman membeli beras dari Bulog,” kata Fahmi, Selasa (15/7).

Selain menjamin kualitas, Bulog Bangka juga menegaskan bahwa harga jual beras masih berada di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Harga beras medium maksimal Rp13.100 per kilogram, sedangkan beras premium dijual dengan harga paling tinggi Rp15.400 per kilogram.

“Untuk harga masih di bawah HET, dan kami terus menjaga agar harga tetap terjangkau, sesuai dengan misi Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” ujar Fahmi.

Dia juga memastikan stok beras di gudang Bulog Bangka saat ini dalam kondisi aman, yakni sekitar 2.100 ton. “Minggu depan baru akan berkurang karena kami mulai penyaluran bantuan pangan,” ucap Fahmi.

Berpotensi Merugikan Masyarakat

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, hasil investigasi bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Satgas Pangan Polri menemukan sedikitnya 212 merek yang tidak memenuhi standar mutu.

Masalah yang ditemukan mencakup berat kemasan yang kurang dari seharusnya hingga label premium yang tidak sesuai kualitas isi.

“Contoh, ada volume yang mengatakan 5 kilogram, padahal 4,5 kg. Kemudian ada yang 86 persen mengatakan bahwa ini premium, padahal itu adalah beras biasa. Artinya apa? Satu kilo bisa selisih Rp2.000 sampai Rp3.000 per kilogram,” kata Amran, seperti dilansir Kompas.com, 15 Juli 2025.

Ia menambahkan, praktik ini berpotensi merugikan masyarakat hingga Rp99 triliun per tahun. (T3)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved