Tribunners

Glorifikasi yang Meminimalisasi

Setiap usaha mestinya mendapatkan penghargaan yang hampir sama dengan yang mendapatkan prestasi.

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Andre Pranata
Andre Pranata - Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah 

Oleh: Andre Pranata - Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah

PRESTASI terbaik yang didapatkan oleh seseorang tentunya akan menimbulkan kebanggaan bagi orang terdekat. Kebanggaan tersebut berupa menjadi sorotan dan pembicaraan dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Seseorang yang berprestasi bisa jadi menandakan bahwa seseorang telah berusaha dengan sangat keras ditambah dengan doa-doa dari orang terdekat yang tidak pernah putus.

Jika prestasi didapatkan dari seseorang yang berasal dari kalangan bawah, maka nikmatnya akan lebih terasa dibanding orang kalangan atas. Alasannya mungkin karena orang kalangan atas sudah terbiasa dengan keberhasilan dan kesuksesan sehingga menyebabkan perayaan terhadap prestasi yang didapatkan berkurang.

Bagi Sebagian orang yang sering mendapatkan prestasi lebih cenderung biasa saja terhadap prestasi yang didapatnya. Apalagi jika taraf prestisius sebuah prestasi tidak lebih tinggi dibanding prestasi sebelumnya.

Beberapa orang mencoba  mendikotomikan prestasi. Namun, intinya adalah sebagai manusia harusnya selalu bersyukur dan tidak meletakkan harapan yang banyak terhadap sesuatu yang bukan berada dalam jangkauannya atau bisa disebut dengan takdir. 

Prestasi itu sendiri merupakan sebuah perayaan terhadap usaha dan doa yang sudah dilakukan. Dalam perayaannya, terkadang ada yang berlebihan dan ada pula yang tidak merayakan sama sekali. Tergantung dari pribadi yang mendapatkan prestasi tersebut. 

Prestasi yang didapatkan bisa juga bermuara pada perayaan syukuran mengadakan acara makan-makan untuk satu kampung. Ada juga yang tidak mampu untuk melakukan perayaan syukuran dan menganggap bahwa mengucapkan doa syukur tiap hari sudah lebih dari cukup. Tidak ada masalah dalam penerjemahan terhadap perayaan rasa syukur ketika mendapatkan prestasi. 

Yang menjadi masalah adalah ketika sebuah prestasi terlalu dibesar-besarkan sehingga mengecilkan usaha orang lain yang sudah berjuang sama kerasnya dengan orang yang berprestasi. Ada anggapan bahwa kekalahan merupakan aib dan manusia tidak boleh kalah. Coba tengok ke media sosial yang makin hari makin masif tingkat perundungan dan saling caci maki. 

Contohnya adalah ada sebuah tim sepak bola yang bermain dan menang selama 17 pertandingan dan di pertandingan ke-18 tim tersebut kalah, maka akan banyak sekali kata-kata kotor menghardik dan mulai mencari kambing hitam atas kekalahan tersebut. Sungguh miris sekali memang, banyak yang tidak paham dalam menghargai apa itu perjuangan. Itulah yang disebut dengan keagungan yang mengecilkan.

Kembali lagi ke sepak bola, hari ini si A mencetak 3 gol berkat umpan si B, namun yang menjadi sorotan dalam satu minggu penuh adalah si A tanpa melihat kontribusi si B tadi. Malah yang lebih parah masih mencari siapa yang tidak dalam performa terbaik dan menyerang akun pemain yang tidak dalam performa terbaik tersebut. Itulah mengapa media sosial kini menjadi sarangnya perundungan. 

Di dalam kehidupan berkeluarga, mengagungkan anak yang lebih berprestasi terjadi hampir di seluruh keluarga di negara ini. Anak yang menjadi pejabat akan mendapatkan perlakuan yang spesial dibanding anak yang tidak menjadi apa-apa. Dari perbedaan perlakuan tersebut, akan timbul iri pada anak. Kemudian juga akan mengikis sedikit demi sedikit keeratan dalam keluarga. Ibu dan ayah akan kehilangan kehormatannya di dalam hati anak yang tidak dispesialkan tersebut. Orang tua seharusnya memperlakukan hal yang sama kepada semua anaknya.

Contoh lainnya adalah misalkan ada anak tetangga yang berprestasi sangat baik di sekolah, sementara anaknya di rumah yang biasa-biasa saja akan dibandingkan dengan anak tetangga yang berprestasi. Jika ditinjau dari aspek motivasi, hal tersebut baik namun tidak tepat karena siapa tahu perbedaan daya tangkap setiap anak berbeda-beda. 

Yang harusnya dipertanyakan adalah orang tuanya, apakah semenjak kecil sudah diberikan makanan terbaik untuk perkembangan otak anak sehingga ketika anak belajar akan mudah menangkap pelajaran yang diajarkan atau yang dibaca. Belum lagi pemenuhan hak anak berupa kasih sayang yang menjadi faktor penentu dalam prestasi anak. Anak-anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua tentu saja akan kesulitan dalam belajar, berbeda dengan anak-anak yang hidupnya penuh kasih sayang.

Kalau semua sudah terpenuhi, maka orang tua bisa memotivasi anak dengan cara mendukung anak untuk terus belajar tanpa membandingkan prestasi. Muaranya sebenarnya ada di rumah, jika orang tua sudah maksimal dalam segala hal untuk anaknya mendapatkan prestasi, maka prestasi akan datang ke anaknya cepat atau lambat. 

Mengagungkan yang mengecilkan seharusnya tidak dilakukan. Setiap usaha mestinya mendapatkan penghargaan yang hampir sama dengan yang mendapatkan prestasi. Jangan sampai sifat iri dengki muncul karena salah tanggap terhadap keberhasilan. Akibat dari terlalu mengagungkan yang berprestasi bisa membuat daya juang melemah dan mengaku kalah di awal karena kurangnya support atau dukungan.

Usaha sekecil apa pun harus dihargai, sama seperti lampu yang memerlukan kabel dan arus listrik untuk terus terang, yang dilihat bukan terangnya saja, tetapi bagaimana rangkaian kabel yang kuat menahan arus Listrik tersebut sehingga mampu menerangi kegelapan. Mulailah berpikir bahwa setiap apa pun akan menjadi penting. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved