Resonansi

Akal Imitasi

Akal imitasi telah mengubah banyak aspek hidup manusia. Inovasi akal imitasi terus berkembang.

Penulis: Ade Mayasanto | Editor: fitriadi
Dok. Ade Mayasanto
Ade Mayasanto, Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung. 

Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.

Editor in Chief 
Bangka Pos/Pos Belitung

Kamis, 17 Juli 2025, jelang makan siang, tetiba Chief Executive Officer (CEO) Tribun Network, Dahlan Dahi mengajak diskusi serius perihal akal imitasi yang mengobrak-abrik distribusi produk jurnalistik di Tribun Network. Padahal, sudah 90 menit pembahasan soal akal imitasi berlangsung di ruang rapat hotel di Kawasan Bandungan, Semarang, Jawa Tengah.

Ada tiga pemimpin redaksi dan satu General Manager (GM) yang dilibatkan saat itu. Mereka mewakili redaksi di Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

"Saya ingin ada pilot project," ucap Dahlan membuka diskusi di meja bundar.

Permintaan itu sontak mengagetkan. Sebab, selama 90 menit pembicaraan akal imitasi sama sekali tidak membahas strategi bisnis berlandas akal imitasi.

Namun, belum juga kaget itu hilang, kawan dari Jakarta menimpali permintaan CEO sekaligus Chief Digital Officer (CDO) Kompas Gramedia ini.

"Saya lebih paham di hari ini, bang. Lebih sederhana dan mudah dipahami bila dibanding hari-hari sebelumnya," ucapnya.

Rupanya, sejak hari Senin, CEO membagikan konsep akal imitasi ke tiap pemimpin redaksi yang dijumpai di Semarang. Dan kawan dari Jakarta ini kebetulan mengikuti pembahasan akal imitasi sejak hari Senin tersebut. 

Dan bukan kebetulan pula bila di hari keempat, kawan Jakarta ini mulai paham soal akal imitasi yang berdampak ke Tribun Network. 

Sejak saat itu diskusi kembali dibuka. Rencana makan siang tertunda. Kepulan asap rokok justru yang datang sebagai kawan di hidung dan tenggorokan. Kali ini diskusi tanpa cemilan, atau kopi hitam di atas meja bundar.

Saya tidak membuka rinci soal pembahasan tersebut. Hanya saja, saya ingin menggambarkan bahwa kecerdasan buatan tidak lagi jauh dari kehidupan sehari-hari. Dari bangun tidur, teknologi ini seolah menjadi kawan. Apalagi, bentuknya tidak lagi menyeramkan seperti di film Terminator ala Skynet atau T-101. 

Tengok saja ketika jutaan orang menggunakan asisten virtual di ponsel dan computer. Mulai dari Siri, Alexa, Google Aisstant hingga copilot. Mereka adalah bagian dari bentuk akal imitasi.

Bahkan, sebagian computer Apple dilengkapi tombol siri di papan ketiknya. Sementara Microsoft akan menambahkan tombol copilot di computer windows.

Aplikasi ini mempelajari dan pola perilaku pengguna ponsel dan computer. Asisten virtual ini kemudian bisa saja merekomendasikan berbagai hal. Bentuknya bisa lagu, film, produk yang ingin dibeli hingga tempat wisata yang ingin disambangi.

Di mesin pencari, akal imitasi juga membuat hasil pencarian. Terkadang, hasil pencarian bukan hanya berupa tautan dan alamat laman. Hasil pencarian juga berupa rangkuman dalam bentuk kalimat singkat dan padat. Bing Microsoft dan Google sudah menerapkan pola itu.

Sarannya, terkadang bisa jadi tidak selalu tepat. Sebabnya, saran itu didasarkan pada pola kebiasaan pengguna ponsel dan komputer.

Bayangkan kemudian bila akal imitasi sudah bisa mengakumulasi pola premis mayor, premis minor dan kemudian menghasilkan penalaran logis dari dua premis menjadi sebuah kesimpulan. 

Berbekal semantik, dan pola yang tersimpan di gudang data, hal itu bisa jadi bukan hal mustahil. Toh, akal imitasi sudah bisa merekomendasikan, walau terkadang belum sesuai saat ini.

Dan paradoks soal melimpahnya informasi, bisa jadi tak lagi menjadi hal yang ganjil. Dahulu semakin banyak kita tahu, lewat informasi yang cepat dan luas, semakin kita cepat lupa tentang apa yang kita tahu.

Tapi, berbeda dengan akal imitasi. Semakin cepat, semakin luas dan dalam, informasi terhimpun, semakin canggih kesimpulan dan rekomendasi tersaji.

"AI bisa membuat keputusan atas pola dan semantik yang mereka miliki," urai Dahlan.

Tiba-tiba saya gemetar. Timbul ketakutan, teringat pernyataan Fisikawan Stephen Hawking semasa hidup. Pernyataan itu diucapkan saat Hawking memberi sambutan pada acara Global Mobile Internet Conference (GMIC) Indonesi 2017 silam.

“Kecerdasan buatan akan berkembang dengan sendirinya,” ucap Hawking dalam video yang diputar GMIC di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang Selatan, Selasa, 26 September 2017.

Menurutnya, penelitian mengenai kecerdasan tumbuh sangat cepat dan diharapkan berfokus pada keuntungan yang dapat diraih bila menggunakan teknologi tersebut. 

Namun, ada dampak buruk yang bisa saja dihasilkan. Misalnya saja, penggunaan senjata otomatis, pesawat nirawak hingga mobil swakemudi.

CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk juga mengkhawatirkan pengembangan kecerdasan buatan yang makin masif. Sebabnya, pengembangan kecerdasan buatan tanpa pembatasan dapat memicu perang dunia ketiga.

Delapan tahun sejak kekhawatiran Hawking, cepat atau lambat, akal imitasi telah mengubah banyak aspek hidup manusia. Inovasi akal imitasi terus berkembang.

Polemik soal risiko dan tantangan mulai diantisipasi sejak awal. Dan kesiapan manusia berikut kebijakan pemerintah akan menjadi penentunya.

Harapannya, pemerintah dan pembuat kebijakan mesti memastikan teknologi kecerdasan buatan tidak membahayakan. Terutama, ketika akal imitasi beririsan dengan dinamika kekuatan. 

Bagaimanapun yang kuat, tentu memiliki kelebihan. Apalagi, saat bertemu dalam proses industrialisasi, bahasa yang ada hanya efesiensi dan efektivitas. Barulah irisan lain datang. Seperti pribahasa yang dikenang sejak sekolah dasar. "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya." 

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved