Bangun Jaya: Molen, Tuhan Menegurnya, Kini Lebih Bijaksana dan Terbukti Bangun Pangkalpinang

Setiap manusia pasti pernah tergelincir. Kita bukan malaikat yang suci, bukan pula setan yang hanya membawa keburukan. Kita adalah manusia...

Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra
Ketua DPC Partai Gerindra Kota Pangkalpinang, Bangun Jaya. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Nama Maulan Aklil atau yang akrab disapa Molen, kembali jadi sorotan publik jelang Pilkada Kota Pangkalpinang 2024.

Sosoknya ramai diperbincangkan, mulai dari warung kopi hingga kalangan elite politik. Meski tak lagi diusung oleh partai sebelumnya, Molen kini justru dianggap sebagai anak emas oleh Partai Gerindra, yang ditandai restu Prabowo Subianto melalui Erzaldi Rosman sebagai Ketua DPD Gerindra Babel.

Ketua DPC Gerindra Pangkalpinang, Bangun Jaya, menyampaikan pandangan terbuka tentang perubahan karakter Molen pasca kekalahan dramatis dari “kotak kosong” di Pilkada sebelumnya.

Menurutnya, Molen setelah kalah saat Pilkada 2024, jauh berubah. Kesombongan dan ego Molen kini terkikis oleh pengalaman pahitnya.

"Setiap manusia pasti pernah tergelincir. Kita bukan malaikat yang suci, bukan pula setan yang hanya membawa keburukan. Kita adalah manusia, makhluk yang diciptakan dengan akal, rasa, dan pilihan. Dan di antara pilihan-pilihan itu, terkadang kita salah memilih," ungkap Bangun Jaya mengawali curhat dirinya tentang Molen.

Namun, lanjut Bangun Jaya, yang terpenting bukanlah kesalahan itu sendiri, melainkan keberanian untuk mengakuinya dan tekad untuk bangkit lagi.

"Saya ingat betul, dulu Molen berdiri dengan penuh keyakinan. Ia merasa kuat, percaya diri, dan nyaris tak tergoyahkan. Ia sempat jumawa. Tak sedikit yang mengatakan bahwa ia merasa tak terkalahkan. Tapi seperti pepatah lama, “kesombongan datang sebelum kejatuhan.” Dan Tuhan, dengan kasih sayangnya, memberi Molen sebuah teguran yang sangat keras, teguran dalam bentuk kekalahan yang begitu memilukan: kalah dari kotak kosong," ujar Wakil Ketua DPRD Pangkalpinang ini.

Namun, satu hal yang juga tidak bisa kita pungkiri adalah bahwa selama lima tahun masa kepemimpinannya, wajah Kota Pangkalpinang banyak mengalami perubahan. 

"Kita harus berani jujur dan mengakui, ada begitu banyak karya dan prestasi yang telah ditorehkan. Jalan-jalan kota yang dulu gelap kini terang benderang. Ruang publik tumbuh, kegiatan seni dan budaya mulai hidup, pelayanan publik perlahan membaik. Semua itu tidak bisa disangkal, tidak bisa disepelekan," kata Bangun Jaya.

Menurutnya, Molen memang pernah salah langkah, namun ia juga telah banyak melangkah maju membawa perubahan. 

Dan itu bukan sesuatu yang bisa diraih oleh mereka yang hanya baru ingin mencoba-coba. 

Bagi Bangun Jaya, pengalaman lima tahun menjadi wali kota adalah modal besar yang tidak dimiliki oleh calon lain. 

Ia telah merasakan susahnya memimpin, pahit-manisnya mengambil keputusan, dan kerasnya kritik dari rakyat. 

Semua itu membuatnya matang secara pribadi dan sebagai pemimpin.

"Kini saya melihat Molen yang berbeda. Ia lebih tenang, lebih dalam, lebih peka. Ia lebih memilih untuk mendengar daripada berbicara. Ia lebih ingin mengerti daripada dimengerti. Ia tidak lagi ingin terlihat pintar, ia ingin benar-benar menjadi pribadi yang bijaksana, yang “pintar merasa” daripada “merasa pintar”. Ia tidak tinggal dalam luka. Ia tidak meratap lama dalam kekalahan. Ia memilih jalan yang sulit, jalan introspeksi, jalan pertobatan, jalan untuk kembali menjadi manusia yang lebih baik. Dan jika rakyat kembali memberinya kesempatan untuk memimpin kota ini, ia tidak akan memulai dari nol. Ia tinggal melanjutkan apa yang sudah dibangun dan menyempurnakan yang belum sempat diselesaikan di periode sebelumnya. Itu akan membuat langkahnya jauh lebih efisien, lebih terarah, dan lebih terukur," bebernya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved