Curhat Keluarga Pasien dan Penjelasan Medis Dibalik Video Viral Dokter Dipaksa Buka Masker
Video dokter RSUD Sekayu dipaksa buka masker viral di media sosial. Keluarga pasien ungkap alasan kecewa, sementara dokter tegaskan SOP medis
Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri
BANGKAPOS.COM--Sebuah video berdurasi 41 detik yang memperlihatkan keluarga pasien memaksa seorang dokter membuka masker di ruang perawatan RSUD Sekayu, Sumatera Selatan, menjadi sorotan publik dan viral di media sosial.
Di balik ketegangan yang terekam, tersimpan kisah penuh emosi dari dua sisi keluarga pasien yang merasa kecewa dan dokter yang berpegang pada protokol medis.
Ismet Syaputra, keluarga pasien yang terekam dalam video, mengaku emosinya memuncak bukan tanpa alasan.
Ibunya, yang dirawat akibat diabetes komplikasi di ruang VIP, dinilainya tidak mendapat pelayanan yang sepadan dengan status perawatan umum berbayar.
Baginya, kejadian itu bukan sekadar ledakan emosi sesaat, tapi akumulasi dari pelayanan yang dinilainya jauh dari harapan.
“Kami datang hari Jumat, rujukan dari Klinik Smart Medica.
Ibu saya dirawat karena diabetes komplikasi.
Kondisinya membaik, sadar, demam turun, gula darah stabil setelah dirawat di RSUD Sekayu.
Tapi kami diminta menunggu dokter sampai hari Selasa,” tutur Ismet, Rabu (13/8/2025), mencoba menahan kecewa
Ismet merasa, penundaan itu mengancam kesehatan sang ibu.
“Kalau VIP saja pelayanannya seperti ini, apa bedanya dengan BPJS,” tambahnya.
Puncak kekecewaan Ismet terjadi saat ia mengetahui bahwa hasil pemeriksaan dahak sang ibu sudah tersedia sejak Sabtu, namun baru ditindaklanjuti pada hari Selasa.
“Bagaimana saya bisa bersabar melihat ibu saya terbaring sakit.
Saya tersulut emosi dan meminta dokter melepas masker untuk memastikan beliau benar dokter atau bukan,” ungkapnya dengan nada yang masih menyimpan amarah.
Apa yang terjadi selanjutnya menjadi momen paling dramatis dalam peristiwa itu.
Sorotan kamera menangkap bagaimana tangan keluarga pasien mencoba membuka masker sang dokter secara paksa—sebuah tindakan yang menuai kecaman luas dari publik.
Ismet, dalam keterangannya, berharap kejadian ini menjadi evaluasi besar bagi manajemen rumah sakit.
"Kalau statusnya VIP, mestinya penanganan dan fasilitasnya juga maksimal, bukan malah menunggu berhari-hari,” tegasnya
Penjelasan Dokter
Namun, di balik kejadian itu, dokter yang menjadi sasaran emosi, dr Syahpri Putra Wangsa, punya alasan kuat mempertahankan maskernya.
Menurutnya, pemakaian masker adalah Standar Operasional Prosedur (SOP) karena hasil pemeriksaan menunjukkan indikasi TBC pada pasien.
“Masker wajib digunakan demi keamanan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Saya sudah jelaskan, tapi keluarga tetap memaksa,” ungkap dr Syahpri.
Ia menegaskan, kehadiran dokter spesialis tidak bisa setiap saat berada di rumah sakit, terutama saat akhir pekan.
“Perawat dan dokter jaga yang menangani sementara, itu prosedurnya,” jelasnya.
"Saya meminta keluarga pasien bersabar dan menjelaskan alasan tetap memakai masker.
Kenapa saya memakai masker, karena dari hasil rontgen dan radiologi ditemukan bercak pada paru-paru pasien yang diindikasikan TBC, salah satu penyakit yang sulit ditangani.
Pemakaian masker itu SOP pemeriksaan indikasi penyakit TBC,” ujarnya, menekankan pentingnya protokol medis.
Tapi suasana semakin memburuk.
Melihat ketegangan yang mengarah ke intimidasi fisik, dr Syahpri segera mengambil langkah antisipatif.
“Dalam perjalanan medis, kami sering mendapat ancaman, jadi perlu antisipasi.
Keluarga pasien tetap meminta saya melepas masker, saya bilang kalau buka masker di luar saja sesuai SOP.
Tapi mereka tetap memaksa dan melepas masker saya,” kisahnya.
Merasa keamanan tenaga kesehatan terancam, ia pun segera meminta pengamanan.
"Saya minta petugas keamanan untuk menjaga perawat karena saat itu masih emosi, saya khawatir terhadap adik-adik nakes yang semuanya perempuan," tutupnya dengan nada prihatin.
Video Viral
Sebelumnya, beredar video seorang dokter tengah memeriksa pasien, namun mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keluarga pasien.
Dalam video, terlihat keluarga pasien meminta dokter melepas masker yang dikenakannya.
Dilansir Bangkapos.com melalui TribunSumsel.com, Dokter Syahpri Putra Wangsa menuai pujian karena begitu sabar menghadapi sikap arogan keluarga pasien.
Keluarga pasien terlihat emosi dan menyebut bahwa dokter Syahpri bertele-tele untuk merawat ibunya.
"Ini dokter ini, ibu saya disuruh tunggu dahak. Tiap hari tunggu dahak, dikit-dikit tunggu dahak. Hasil rontgen, hasil rontgen, kita masuk sini biar pelayanan layak. Kita sewa ruang VIP ini untuk pelayanan. Pelayanan yang bagus, pelayanan yang layak. Bukan sekadar disuruh nunggu. Kalau disuruh nunggu kita bisa pakai BPJS. Kita nggak mau pakai BPJS, nggak mau dimain-mainkan seperti kamu ini, kamu paham ya? Kamu harus paham ya," ujar pria perekam video tersebut, dikutip Tribunjabar.id, Rabu (13/8/2025).
Kemudian, pria itu mencecar dokter lantaran merasa pelayanan yang didapatkannya tidak sesuai dengan kamar VIP yang sudah disewa untuk perawatan.
"Ini nyawa, ini mak saya, ini nyawa, jangan kamu kayaknya kesannya main-main. Kamu berdalih dengan menjelaskan hasil rontgen, menunggu air ludah. Ada semua prosedur, saya juga orang sekolah. Ngerti nggak? Dengar nggak? Saya juga orang sekolah, cuma kalau hasil rontgen, hasil rontgen, bukan begitu. Saya minta tindakan yang pasti. Kamu bilang ini ruangan sangat layak, sangat bagus. Mana layaknya ini, ini plafonnya begini, kamu bilang layak ini," ujarnya.
Setelah melampiaskan kemarahan, dari belakang ada satu pria lagi yang langsung memaksa dokter tersebut membuka masker.
Dokter itu pun dipaksa untuk menjelaskan penyakit ibu dari pria tersebut.
Bahkan, ia dipaksa mengungkap identitasnya.
"Buka masker, ini nah dokternya. Dokter apa bagian apa, ngomong! Jelasin dekat ibu saya, jelasin sudah tiga hari ini kita masuk ruangan VIP cuma memperlihatkan hasil rontgen, ini dokter-nya ini. Pulang ke mana kamu?" ucap pria itu.
Kendati dimaki-maki oleh keluarga pasien, dokter itu tetap tenang menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
"Jadi, ibunya ke rumah sakit dengan kondisi tidak sadar. Dengan gula darah yang sangat rendah, kemudian tekanan darahnya tidak terkontrol. Kemudian kita lakukan pemeriksaan, didapatkan rontgen dan adanya gambaran indu trek atau gambaran pecah di paru-paru kanan," jelas dokter tersebut.
"Kamu tahu indu trak itu apa?" tanya perekam. "Gambaran khas dari penyakit TBC," jawab dokter.
Keluarga pasien itu tampaknya mash kurang puas setelah mendapatkan jawaban dari dokter.
Ia kembali marah-marah karena menilai tidak ada pelayanan perawatan yang cepat.
Sebab, setiap hari ibunya hanya pemeriksaan daha dan hasil rontgen.
"Ini dokter karena saya sudah berapa tahun hidup orang ngecek TBC harus dari apa?" tanya pria tersebut. "Dahak," jawab dokter.
Kasubag Humas RSUD Sekayu, Dwi, membenarkan insiden tersebut.
“Benar, itu dokter spesialis ginjal. Di video terlihat beliau dimarahi keluarga pasien dan tetap sabar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pihak rumah sakit akan menggelar rapat untuk memastikan kronologi dan motif kejadian.
Ia mengatakan, pihak RSUD Sekayu akan membahas masalah tersebut untuk mengetahui pasti kronologi kejadian.
"Masalah itu baru akan kami bahas dan rapatkan hari ini, untuk mengetahui kronologi kejadian dan motifnya. Jadi, harap tunggu info lebih lanjut ya," tuturnya.
Kini, sikap tenang dr. Syahpri dalam menghadapi situasi sulit menuai banyak pujian dari warganet.
Banyak yang menilai tindakannya mencerminkan profesionalisme seorang tenaga medis di tengah tekanan emosional keluarga pasien.
(Tribunjabar.id /TribunTrends.com/ TribunSumsel.com )
| Curhat Istri Yai Mim Usai Meninggal: Ungkap Pesan Terakhir hingga Fakta Kondisi Sebenarnya |
|
|---|
| VIRAL, Kakek 72 Tahun Tukang Parkir di Mentok Pasang Tarif Seiklasnya |
|
|---|
| DAS Jada Bahrain Hancur Lebur oleh Tambang Ilegal, Kades Jada Bahrin Menyerah Mundur dari Jabatan |
|
|---|
| Oknum Kades di Balangan Live Tiktok Diduga Mesum, Video Viral, Akui Kesalahan |
|
|---|
| Video : Perjuangan Guru Honorer di Pulau Lepar, Gaji Rp300 Ribu tapi Tetap Mengabdi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Dokter-Syafri.jpg)