Tribunners
Perjuangan Panjang Hidayat Arsani sebagai Pemimpin Babel
Tentu saja dengan rekam jejak dan pengalamannya selama ini, kita optimistis Babel mampu bangkit dan berkibar di bawah kepemimpinan Hidayat Arsani.
Oleh: Irwanto - Mantan Wakil Ketua PWI Babel
PADA 21 Agustus 2025 ini, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani memasuki usia 62 tahun. Hidayat lahir di Pangkalpinang, 21 Agustus 1963. Pada Kamis (17/4/2025) lalu, Hidayat dilantik sebagai Gubernur Babel oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 39P Tahun 2025.
Sebelum menjabat gubernur, Hidayat telah melalui perjuangan panjang dan berliku sebagai pemimpin, termasuk untuk menjadi seorang gubernur. Namun, perjuangan Hidayat Arsani menuju kursi Gubernur Babel mulai mulus setelah Mahkamah Konstitusi (MK) melalui amar putusan Nomor 266/PHPU.GUB-XXIII/2025 menolak gugatan pasangan Erzaldi Rosman dan Yuri Kemal Fadlullah.
Dengan demikian, pasangan Hidayat Arsani dan Hellyana yang meraup 299.591 suara dalam Pilgub Babel 2024 dipastikan sebagai pemenang. Setelah melalui serangkaian proses di KPU Babel dan pemerintah pusat serta beberapa kali sempat tertunda, maka akhirnya Hidayat pun dilantik secara resmi sebagai Gubernur Babel.
Nama dan sosok Hidayat Arsani sebetulnya sudah tak asing lagi di Kepulauan Bangka Belitung. Selain sebagai pengusaha sukses, pria yang akrab disapa Panglima ini dikenal sebagai mantan Wakil Gubernur Babel. Hidayat pernah menjabat sebagai wakil gubernur dari 12 Mei 2014 hingga 12 Mei 2017.
Di luar sebagai pengusaha dan mantan wakil gubernur, ternyata Hidayat dikenal pula sebagai tokoh pers Babel. Bahkan Hidayat pernah terpilih menjadi Ketua PWI Cabang Babel periode 2010-2015. Hal ini tak terlepas dari sosok Hidayat sebagai pemilik media massa Rakyat Pos.
Awalnya Rakyat Pos berbentuk Surat Kabar Mingguan (SKM) Rakyat Pos. Terbit edisi perdana pada Sabtu 10 Mei 2003. Saat mendirikan media ini, Hidayat dibantu oleh para sahabatnya yang berprofesi sebagai jurnalis, antara lain, Welly Suhaili, Eka Mulya Putra, Irwanto, Azwari Helmi, Imam Kusni, Effendi, Junaidi, Jefri Agap, Agus Hendrayadi, dan jurnalis lainnya.
Sebagai konseptor, perancang, dan penanggung jawab guna menyiapkan penerbitan sekaligus bertindak sebagai pemimpin redaksi ditunjuklah Irwanto mantan wartawan dan redaktur Harian Suara Bangka serta redaktur pelaksana (redpel) SKM Bangka Ekspres yang juga Wakil Ketua PWI Babel.
Saat pertama kali terbit SKM Rakyat Pos dicetak di percetakan milik Bangka Pos. Hal ini dapat terwujud karena salah satu faktor adanya hubungan baik antara pemimpin redaksi Bangka Pos Agus Ismunarno (kemudian hari memimpin media Laskar Pelangi/Laspela) dengan Irwanto dan Hidayat yang sama-sama pengurus PWI Babel.
Kantor redaksi dan perusahaan Rakyat Pos sementara waktu menumpang di bekas garasi mobil rumah pribadi Hidayat Arsani di kawasan Jalan Keranji, Bukit Baru, Pangkalpinang, tak jauh dari Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT).
Ternyata respons publik cukup baik, membuat Rakyat Pos berencana berubah menjadi koran harian. Kemudian, Hidayat Arsani pun memindahkan kantor ke sebuah rumah tua namun lumayan besar di kawasan Jalan Sungai Selan atau Jalan Solihin GP. Tak lama kemudian dibeli pula mesin cetak. Setelah siap segalanya, maka Rakyat Pos pun berubah menjadi koran harian.
Sebagai pemilik Rakyat Pos, Hidayat dikenal sangat perhatian dan peduli pada pegawainya, baik di bagian redaksi maupun bagian perusahaan (manajemen, percetakan, iklan, dan sirkulasi). Pernah Hidayat membeli atau memborong sekitar 20 unit sepeda motor merek Jialing untuk digunakan pegawainya. Kebetulan Jialing lagi “naik daun” saat itu.
Khusus isi berita atau redaksional, Hidayat tak pernah intervensi atau ikut campur. Hanya saja pesan Hidayat, Rakyat Pos harus lebih kritis, berani, dan tajam ketimbang media lainnya. Sehingga tak heran sering ada rekan bisnis Hidayat komplain lantaran “terusik” oleh berita di Rakyat Pos. Namun, uniknya mereka tetap bersahabat baik dengan Hidayat.
Kendati telah dikenal sebagai pengusaha dan pemilik media, namun Hidayat tetap sederhana dan apa adanya. Sering penulis diajak Hidayat makan pantiaw atau mi kuah ikan di warung pinggir jalan langganannya yang terletak persis di depan SD Negeri 6 Gabek Pangkalpinang. Warung sempit milik seorang kakek tua itu hanya berdinding papan dan beratap seng.
Pada saat pemilihan kepengurusan PWI Babel masa bakti 2010-2015 yang digelar di Gedung Hamidah, Hidayat terpilih sebagai ketua. Sedangkan penulis dipercaya Hidayat untuk kembali menjabat salah satu wakil ketua. Pelantikan dilakukan oleh Ketua PWI Pusat Margiono dan turut disaksikan mantan Ketua PWI Pusat yang juga putra Babel, Tarman Azzam.
Saat memimpin PWI Babel, Hidayat banyak melakukan pembenahan dan peningkatan program kerja. Kepengurusan pun makin aktif dan dinamis. Sampai suatu ketika saat lagi maraknya masyarakat hobi bersepeda, Hidayat memborong sepeda yang mereknya lumayan bergengsi untuk diberikan secara gratis kepada pengurus/anggota. Pembagiannya berlangsung di halaman Rakyat Pos yang sudah pindah ke kantor baru di kawasan Lembawai, Jalan Jenderal Sudirman.
Lantaran terpilih sebagai Wakil Gubernur Babel, maka pada 2014 Hidayat harus mundur dari jabatan Ketua PWI Babel sesuai aturan organisasi. Namun, karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang concern pada perkembangan pers di daerah, maka Hidayat mendapat apresiasi dan penghargaan dari PWI Pusat berupa Kartu Tanda Anggota (KTA) Luar Biasa. Penyerahan KTA ini dilakukan secara langsung oleh Ketua PWI Pusat Atal S Depari.
Tak hanya itu, dalam kepengurusan PWI Cabang Babel periode 2022-2027, Hidayat Arsani masih dipercayakan juga sebagai ketua Dewan Penasihat. Kepercayaan ini diberikan lantaran Hidayat dianggap tokoh senior yang telah banyak memberikan kontribusi pada PWI Babel, baik pemikiran maupun materi seperti merehab kantor PWI Babel yang terletak di kawasan Jalan Jenderal Sudirman Pangkalpinang.
Usai menjadi Ketua PWI Cabang Babel, Hidayat makin berkibar di dunia bisnis lokal. Bisnis ini di bawah bendera Arsani Grup yang menaungi berbagai usaha, termasuk di bidang pertambangan, perikanan, perhotelan, kesehatan, hingga pendidikan.
Lantaran usaha atau bisnisnya dirasakan telah memberikan kontribusi pada pembangunan daerah, termasuk penyediaan lapangan pekerjaan, maka Hidayat banyak diganjar penghargaan oleh berbagai organisasi/lembaga dan pemerintah daerah.
Penghargaan itu antara lain Maha Karya Pembangunan dari Gubernur Babel Eko Maulana Ali pada 2012. Sehingga sejak saat itu julukan Bapak Pembangunan pun tersemat pada Hidayat yang pada masa kecilnya pernah berjualan minyak tanah dengan pikulan keliling kampung seputaran Kota Pangkalpinang.
Usaha yang dibangun Hidayat makin meluas saat ia mendirikan beberapa hotel di Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Begitu juga bisnis yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat seperti beberapa rumah sakit, antara lain, RS Arsani di Sungailiat dan RS Ibu dan Anak Muhaya di Kota Pangkalpinang.
Selain di bidang kesehatan, di bidang pendidikan pun Hidayat ikut merintis pendirian Sekolah Islam Al-Azhar di Pangkalpinang. Bahkan rumahnya yang megah di kawasan Kampak Kota Pangkalpinang disulap sebagai kompleks sekolah ini. Hidayat pun rela “mengalah” dengan pindah dan mendirikan rumah baru tak jauh dari kawasan Bandara Depati Amir.
Di bidang sosial budaya, kiprah Hidayat pun tak diragukan lagi. Pada 2013, ia dianugerahi gelar Datuk Radindo Panglima Bumi Bertuah oleh pemangku adat Suku Jerieng di Setana Melayu Jerieng Bangka Barat. Gelar ini kian membuktikan status Hidayat sebagai salah satu tokoh populer yang dihormati di kawasan Kepulauan Bangka Belitung.
Uniknya selepas menjadi wakil gubernur, Hidayat aktif masuk dan keluar pelosok kampung. Di beberapa kampung ia aktif melibatkan masyarakat dalam upaya pengembangan gula aren. Pasalnya, usaha gula aren ini sangat menjanjikan jika dikelola secara sungguh-sungguh. Makanya tak heran, kini setiap berpantun, gula aren atau gula kabung acapkali disebutnya.
Begitu pula usaha tambak udang yang memiliki prospek cukup bagus dioptimalkan Hidayat sehingga berkembang cukup pesat di Babel. Lantaran bergelut di sektor tambak udang ini, maka Hidayat dipercaya sebagai ketua umum Asosiasi Petani Tambak Indonesia Nusantara (APTIN).
Di luar bisnis, Hidayat juga dikenal sebagai politisi senior Partai Golkar. Hidayat pernah menjabat sebagai ketua DPD Partai Golkar Kepulauan Bangka Belitung 2013 hingga 2017. Hidayat pun sekarang masih menjabat sebagai ketua Dewan Pertimbangan DPD Partai Golkar Babel.
Kini, nasib jutaan masyarakat Negeri Serumpun Sebalai berada di pundak Hidayat. Berbagai persoalan pembangunan di tengah kondisi ekonomi global yang terpuruk sekarang ini mesti dituntaskan sejalan dengan visi “Mewujudkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang Berdaya Saing, Berbudaya, Mandiri, dan Sejahtera.”
Tentu saja dengan rekam jejak dan pengalamannya selama ini, kita optimistis Babel mampu bangkit dan berkibar di bawah kepemimpinan Hidayat Arsani. Semoga. (*)
| Sensus Ekonomi 2026: Fondasi Kebijakan Berbasis Data |
|
|---|
| Menyeimbangkan Target dan Mengelola Stres demi Kinerja Berkelanjutan |
|
|---|
| HUT Ke-260 Sungailiat : Menjaga Warisan, Meramu Masa Depan |
|
|---|
| Sosok Haji Batin Sulaiman: Penyebar Islam di Tanah Jerieng |
|
|---|
| Anak Bukan Mesin Prestasi: Dilema Parenting Modern dan Krisis Kesehatan Mental |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250821_Hidayat-Arsani-bersama-Irwanto.jpg)