Opini
Tambang llegal, Alam Hancur, Negara Absen
Penggundulan hutan dan penggerukan tanah yang meninggalkan lubang-lubang bekas tambang yang bisa membahayakan keselamatan warga
Penulis Ikvan Dimas Triatmoko
Mahasiswa Universitas Bangka Belitung
Pertambangan illegal telah menjadi ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Aktivitas tambang tanpa izin terus berlangsung di berbagai daerah.
Merusak hutan, mencemari lingkungan, bisa membuat bencana alam dikarenakan ulahnya tambang illegal, dan menghancurkan ekosisten yang buat kerberlangsungan hidup.
Ditengah kerusakan alam dan lingkungan yang kian parah, negara justru terlihat absen.
Dampak Pertambangan ilegal tidak bisa dipandang sebagai kerusakan sementara.
Penggundulan hutan dan penggerukan tanah yang meninggalkan lubang-lubang bekas tambang yang bisa membahayakan keselamatan warga setempat serta memicu terjadi bencana seperti banjir dan longsor.
Sungai harusnya menjadi sumber air bersih tetapi kenyataannya berubah menjadi jalur limbah dari aktivitas tambang yang tidak terkendali.
Alam dikorbankan untuk segelintir pihak/perusahaan.
Ironisnya praktik tambang ilegal ini sering berlangsung waktu lama tanpa penindakan tegas.
Lemahnya pengawasan dan penengak hukum menimbulkan kesan bahwa pelaku pertambangan ilegal memiliki “ruang aman” untuk beroperasi.
Ketika kerusakan lingkungan dibiarkan berlarut-larut, negara kehilangan wibawanya sebagai pelindung kepentingan publik.
Absennya negara dalam menghadapi pertambangan ilegal bukanlah persoalan teknis semata, melainkan masalah tanggung jawab.
Negara memiliki kewajiban untuk menjamin hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan teratur.
Pembiaran terhadap tambang ilegal sama artinya dengan mengabaikan hak tersebut sekaligus membiarkan kehancuran alam terus menjadi.
Sudah saatnya negara hadir secara nyata melalui penegak hukum yangblonsisten dan berkeadilan.
Tanpa langkah tegas pertambangan ilegal akan terus merajalela meninggalkan luka ekologis yang sulit dipulihkan.
Jika alam terus hancur dan negara hanya tetap absen, maka yang dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, tetapi masa depan bangsa. (*/E3)
| Dialektika Hukum dan Keadilan dalam Praktik Penegakan Hukum |
|
|---|
| Dunia Anak Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan: Belajar dari Film Na Willa |
|
|---|
| Waspada Lonjakan Kasus Campak di Indonesia: Alarm Kesehatan di Tengah Rendahnya Cakupan Imunisasi |
|
|---|
| Mengapa Organisasi Global Harus Berhenti Bergantung pada Pendekatan Satu Ukuran untuk Semua |
|
|---|
| Inklusi di Dunia Kerja Global: Antara Retorika dan Realitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ikvan-Dimas-Triatmoko.jpg)