Tribunners
Perempuan sebagai Role Model Literasi Digital
Menghadirkan tontonan atau memproduksi video yang dapat menggugah dan memotivasi perempuan untuk berliterasi digital
TEKNOLOGI digital terus masuk tanpa dapat dibendung pada semua lini kehidupan, termasuk kehidupan perempuan di dalam keluarga. Baik anak-anak, remaja, sampai perempuan dewasa menjadi pengguna media digital seperti komputer, telepon pintar, game, maupun internet.
Penggunaan media digital ternyata tidak serta-merta meningkatkan kualitas kehidupan perempuan, justru apabila salah dalam penggunaannya akan menimbulkan persoalan-persoalan besar seperti lemahnya bangunan interaksi dan komunikasi antara perempuan (ibu) dengan anggota keluarga lainnya. Maka para perempuan perlu mengembangkan kemampuan berliterasi dalam memanfaatkan teknologi digital ini dengan baik.
Kita pahami bersama bahwa salah satu wujud nyata kemajuan peradaban negara Indonesia ditopang oleh tingginya budaya literasi terutama perempuan. Peran perempuan sangat strategis dalam mendukung pertumbuhan industri sebagai penggerak perekonomian rumah tangga, dan pembentukan generasi berkarakter.
Namun sayangnya, tidak banyak perempuan memiliki budaya literasi dalam kehidupan kesehariannya, termasuk di dalamnya adalah perempuan-perempuan Indonesia yang notabene bekerja, baik sebagai karyawan, guru, maupun pekerjaan lainnya. Hal ini menyebabkan ketertinggalan negara Indonesia dari negara-negara di dunia.
Pada tahun 2019, Most Education Countries merilis tentang peringkat literasi negara Indonesia berada di peringkat 106 dari 197 negara, dan untuk minat baca, negara Indonesia menduduki posisi di ranking ke-2 terakhir sebagai negara yang berpendidikan di dunia. Adapun pada tahun 2020, kondisi Indonesia masih tetap sama dan tidak beranjak dari tempatnya.
UNESCO menilai minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan dengan persentase 0,001 persen. Dari 1.000 orang Indonesia yang disurvei, hanya ada satu orang yang rajin membaca.
Dalam penelitian Programmer for International Student Assessment (PISA), yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) pada tahun 2015 menjelaskan bahwa Indonesia berada di posisi 62 dari 72 negara yang diteliti dalam hal literasi. Skor literasi membaca Indonesia adalah 397, lebih rendah dari skor rata-rata 493.
Sementara itu, hasil penelitian World's Most Literate Nations Ranked yang digagas oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada tahun 2016 bahwa peringkat Indonesia berada tepat di atas negara Botswana. Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Walaupun dalam rilis beberapa lembaga survei tersebut tidak dipublikasikan secara eksplisit mengenai jumlah laki-laki dan perempuan dalam kategori rendah berliterasi, namun hasil penelitian ini memberikan gambaran secara umum bahwa perempuan merupakan bagian dari rendahnya literasi tersebut.
Teknologi informasi dan komunikasi serta digitalisasi saat ini berkembang sangat pesat di era industri 4.0 dan memberi pengaruh sangat besar pada perempuan Indonesia dan juga pada dunia kerja. Berdasarkan Sakernas BPS tahun 2010, jumlah pekerja pada sektor industri sebanyak 17.48 juta dengan proporsi pekerjaan perempuan sebesar 43,68 persen atau menunjukkan jumlah yang cukup tinggi. Hal ini berbanding luruh dengan jumlah perempuan di Indonesia secara keseluruhan.
Pada tahun 2020 jumlah penduduk di Indonesia adalah sekitar 270,20 juta jiwa, dengan jumlah perempuan 133,54 juta jiwa dan laki-laki 136,66 juta jiwa. Adapun pada tahun 2021, jumlah penduduk adalah sekitar 271,58 juta jiwa dengan jumlah perempuan mencapai 135,24 juta jiwa dan jumlah laki-laki adalah 136,34 juta jiwa. Tingginya proporsi pekerjaan dengan jumlah penduduk perempuan merupakan potensi bagi negara Indonesia dalam membangun kekuatan besar, dan mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lainnya salah satunya mengupayakan perempuan Indonesia cerdas dan terliterasi.
Pendidikan Literasi Digital
Kebebasan berliterasi digital telah menjadi fenomena sosial di seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali para perempuan di dalamnya. Berbicara perempuan tidak bisa dipisahkan dari perilaku dan pola pikir perempuan itu sendiri. Terbentuknya pola pikir yang baik tentunya tidak terlepas dari tingkat pengetahuan yang tinggi. Hal ini memiliki korelasi dengan perilaku giatnya berliterasi digital.
Menurut beberapa literatur yang terhimpun bahwa kompetensi perempuan dalam literasi digital memiliki hubungan erat dengan kecerdasan intelektual. Artinya perempuan akan mudah menyerap informasi yang bermanfaat dan melatih diri untuk berpikir global serta dapat menggunakan media digital dengan bijak dan sepositif mungkin.
Penggunaan teknologi digital seperti dua sisi mata pedang, di satu sisi bisa berdampak positif dan sisi lain berdampak negatif. Dampak positif adalah di mana kaum perempuan tidak terlalu sulit untuk mendapatkan informasi yang diinginkan. Informasi-informasi dengan mudah bisa didapati dengan hanya menggerakkan jari jemari untuk menjelajah semua informasi melalui internet, facebook, instagram, telegram, line maupun whatsapp. Selain mendapatkan informasi, kaum perempuan juga dengan mudah memberikan informasi dan menshare tentang banyak hal, termasuk memperbarui status pribadi sang pengguna secara bebas tanpa syarat di media sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220207_kartika-sari-guru-sma-muhammadiyah-pangkalpinang.jpg)