Tribunners
Anak-anak Merana, Orang Tua Harus Tanggap
Kekerasan pada anak adalah luka yang menyentuh hingga ke jiwa mereka, meninggalkan bekas yang tak mudah hilang
Oleh: Lexi Anggal - Penggiat Isu-isu Sosial, tinggal di Boncukode, Cibal Manggarai, Flores
KEKERASAN terhadap anak bukanlah sekadar masalah fisik yang dapat disembuhkan dengan waktu atau pengobatan medis. Lebih dari itu, kekerasan pada anak adalah luka yang menyentuh hingga ke jiwa mereka, meninggalkan bekas yang tak mudah hilang. (Rekoleksi tahunan Paroki Ri’i bersama RD Beben Gaguk Imam Keuskupan Ruteng 19 Desember 2024).
Kekerasan ini hemat saya bukan hanya merusak tubuh, tetapi juga menghancurkan mentalitas, membentuk karakter yang penuh dengan kecemasan dan ketakutan, serta menghalangi potensi mereka untuk tumbuh menjadi individu yang sehat, bahagia, dan produktif.
Pengaruh kekerasan pada mentalitas anak
Buku Anak dan Psikologi Perkembangannya yang ditulis oleh Dr. Djuwita L. Susanti (2018) menjelaskan bahwa kekerasan pada anak, baik fisik, emosional, maupun verbal, dapat memengaruhi perkembangan mental anak secara signifikan. Anak-anak yang menjadi korban kekerasan sering kali mengalami gangguan dalam pengelolaan emosi, kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat, dan kecenderungan untuk mengembangkan pola pikir yang destruktif. Trauma yang mereka alami tidak hanya terbatas pada masa kanak-kanak, tetapi bisa berlanjut hingga mereka dewasa, menghambat mereka dalam berinteraksi sosial dan berfungsi secara optimal dalam masyarakat.
Menurut penelitian yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA) pada tahun 2021, anak-anak yang sering mengalami kekerasan fisik atau emosional cenderung lebih mudah terjerat dalam masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua dan lingkungan sekitar dalam memberikan perlakuan yang penuh kasih sayang, perlindungan, dan perhatian terhadap perkembangan anak.
Tanggung jawab orang tua dalam mengawasi perkembangan anak
Orang tua bukan hanya menjadi figur yang memberi nafkah atau memenuhi kebutuhan materi anak-anak mereka. Lebih dari itu, mereka adalah guru pertama yang memberikan pembelajaran tentang kehidupan, moralitas, dan etika. Tugas orang tua dalam mendidik anak bukan sekadar mengajari mereka membaca dan menulis, tetapi juga membentuk karakter yang baik dan kuat, siap menghadapi tantangan hidup yang ada di depan mereka.
Pengawasan orang tua menjadi hal yang sangat penting dalam membimbing anak untuk memilih jalan yang benar, terutama di tengah perkembangan teknologi yang pesat seperti sekarang. Ketergantungan anak-anak terhadap perangkat digital, media sosial, dan berbagai platform teknologi bisa berisiko menciptakan ruang bagi pengaruh negatif yang merusak.
Buku Keluarga sebagai Pilar Pendidikan Karakter karya Prof. Dr. Ali Alhabsyi (2020) menekankan bahwa keluarga adalah fondasi utama dalam membangun karakter anak, yang harus dibangun dengan pengawasan yang bijaksana. Dalam bukunya tersebut, Ali Alhabsyi mengingatkan bahwa pengawasan bukan berarti membatasi kebebasan anak, melainkan memberikan arahan yang tepat agar mereka bisa memilih hal-hal yang baik bagi diri mereka sendiri. Orang tua harus hadir dalam setiap langkah anak, mendampingi mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari, mengontrol penggunaan gadget, serta menjaga mereka dari pengaruh buruk yang bisa merusak moral dan psikologinya.
Pendidikan sejak dini sebagai kunci
Pendidikan karakter pada anak seharusnya dimulai sejak dini, dan keluarga adalah tempat pertama untuk membentuknya. Sejak anak lahir, mereka mulai belajar dari lingkungan sekitar mereka, dan keluarga adalah sekolah pertama mereka. Pengaruh orang tua dalam memberikan teladan yang baik sangat besar dalam membentuk pandangan hidup anak-anak. Oleh karena itu, hemat saya penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa mereka adalah figur sentral dalam kehidupan anak-anak mereka.
Dr. Suyanto dalam buku Pendidikan Karakter di Sekolah dan Keluarga (2019) menulis, “Pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keluarga, karena keluarga adalah tempat anak-anak pertama kali menerima ajaran tentang nilai-nilai yang baik.” Pengajaran yang diberikan oleh orang tua di rumah akan menjadi fondasi yang kuat bagi anak dalam menjalani pendidikan formal di sekolah. Jika pendidikan di rumah sudah memberikan dasar yang kokoh tentang kejujuran, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab, maka pendidikan di sekolah akan lebih mudah untuk dilaksanakan dan diserap oleh anak.
Seiring dengan perkembangan zaman, peran sekolah dan orang tua dalam mendidik anak makin besar. Sistem pendidikan yang baik harus dapat mendukung perkembangan karakter anak, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. Dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, anak-anak perlu dibekali dengan nilai-nilai moral yang kuat, yang hanya bisa diperoleh melalui kerja sama antara keluarga dan sekolah.
Tantangan teknologi bagi anak-anak masa kini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250106_Lexi-Anggal.jpg)