Tribunners
Kecerdasan Buatan dan Banalitas Media Sosial
Banalitas media sosial, yang makin didorong oleh algoritma, berkontribusi pada penurunan kualitas komunikasi publik.
Oleh: Arief Azizy - Bergiat Literasi Jaringan GusDURian di Kediri
PERKEMBANGAN teknologi digital kini makin tak terelakkan. Salah satu inovasi terbesar dalam dunia digital adalah kecerdasan buatan (AI), yang mulai memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, dari cara kita bekerja hingga cara kita berinteraksi dengan sesama.
Media sosial, yang merupakan arena interaksi publik terbesar saat ini, tak luput dari pengaruh AI. Namun, kemajuan teknologi ini membawa kita pada dilema baru: apakah AI justru memperburuk banalitas media sosial yang makin mengarah pada penyebaran informasi dangkal dan sensasional?
Hannah Arendt, dalam bukunya The Origins of Totalitarianism (1951), menjelaskan bahwa banalitas tidak hanya terjadi dalam konteks kejahatan besar, tetapi juga dalam ketidakpedulian terhadap kebenaran dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia digital, banalitas ini tercermin dalam cara kita mengonsumsi informasi.
Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang untuk pertukaran ide dan informasi yang bermutu, kini makin penuh dengan konten yang lebih mengedepankan sensasi dan reaksi emosional daripada kedalaman dan kualitas diskursus. Kecerdasan buatan—terutama algoritma yang digunakan oleh platform media sosial—justru memperburuk fenomena ini dengan mengutamakan penyebaran konten yang menarik perhatian, terlepas dari kebenaran atau nilai informasinya.
Penelitian yang dilakukan oleh The Oxford Internet Institute menunjukkan bahwa algoritma media sosial, yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna, lebih cenderung menonjolkan konten yang provokatif dan kontroversial. Konten semacam ini lebih cepat mendapatkan perhatian dan dibagikan, karena ia mampu membangkitkan emosi negatif seperti kemarahan atau kebencian.
Dalam buku #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media (2017), Cass Sunstein menulis bahwa kecenderungan ini menciptakan efek polarisasi yang makin tajam, di mana masing-masing individu atau kelompok hanya terpapar pada pandangan yang mereka setujui, memperburuk ketegangan sosial yang sudah ada. Fenomena ini makin nyata dengan munculnya apa yang disebut echo chamber, di mana orang hanya berinteraksi dengan kelompok atau individu yang memiliki pandangan yang sama. Algoritma media sosial mendukung pembentukan ruang ini dengan cara terus-menerus menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, mengabaikan informasi atau pandangan yang berlawanan. Hal ini, menurut Sunstein, menurunkan kualitas debat publik dan mengurangi kemampuan kita untuk memahami perspektif orang lain.
Namun, apakah kita dapat sepenuhnya menyalahkan kecerdasan buatan dalam hal ini? Tidak sepenuhnya. AI hanyalah alat yang digunakan oleh manusia. Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh MIT Technology Review, disebutkan bahwa penyebaran informasi yang salah atau berita palsu di media sosial bukan semata-mata akibat algoritma, melainkan juga akibat preferensi kita sebagai pengguna.
Kita lebih cenderung untuk berbagi konten yang mengundang perhatian emosional atau yang memperkuat pandangan kita sendiri, daripada konten yang bersifat objektif atau berimbang. Dalam hal ini, kita sebagai konsumen informasi turut berperan dalam menciptakan banalitas media sosial.
Namun, algoritma yang didorong oleh AI memiliki peran penting dalam memperburuk situasi ini. Mesin-mesin ini bekerja dengan mengidentifikasi pola perilaku kita, dan kemudian menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi tersebut.
Hal itu tentu menguntungkan dalam konteks pemasaran dan meningkatkan keterlibatan pengguna, tetapi dalam konteks masyarakat yang ingin menciptakan ruang diskursus yang sehat, hal ini justru memperburuk banalitas. Sebagaimana ditulis oleh Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2019), kita makin terbiasa dengan konsep “pengawasan yang disamarkan,” di mana perilaku kita dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem komersial yang tak terbatas pada transaksi barang, tetapi juga pada perilaku sosial kita.
Banalitas media sosial, yang makin didorong oleh algoritma, juga berkontribusi pada penurunan kualitas komunikasi publik. Media sosial seharusnya menjadi tempat di mana ide-ide baru dan perspektif berbeda bisa ditemukan dan dibahas.
Namun, kenyataannya, banyak platform yang lebih menonjolkan konten yang bisa memicu perasaan atau memecah belah, daripada konten yang mendalam dan mengedukasi. Proses ini mendorong kita untuk lebih banyak berinteraksi dengan yang sudah kita kenal, daripada membuka diri terhadap hal-hal baru yang menantang cara pandang kita.
Lebih jauh lagi, AI yang memanfaatkan data pribadi kita untuk menyajikan konten yang relevan, tidak hanya menciptakan ruang gelembung informasi, tetapi juga memperburuk fenomena polarisasi dan radikalisme. Dalam sebuah studi oleh The Pew Research Center yang mengamati perilaku pengguna di platform seperti Facebook, ditemukan bahwa algoritma yang didorong oleh AI sering kali membuat pengguna terjebak dalam siklus yang memperkuat pandangan ekstrem mereka. Konten yang lebih ekstrem dan berpotensi merusak harmoni sosial lebih cepat tersebar, karena algoritma berfokus pada keterlibatan yang tinggi, bukan kualitas informasi.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa meskipun AI memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, ia juga membawa kita pada paradoks baru. Di satu sisi, AI memberi kita akses yang lebih mudah dan cepat terhadap informasi, tetapi disisi lain, ia juga memperburuk banalitas media sosial dengan memprioritaskan konten yang lebih mudah dicerna dan lebih mengundang emosi, daripada konten yang lebih mendalam dan berbobot.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230815_Arief-Azizy-Penggiat-Jaringan-GusDurian-Kediri.jpg)