Tribunners

Belajar dari Sang Rasul

Staf yang dimiliki Nabi Muhammad melekat pada diri beliau sendiri, yaitu sifat-sifat beliau yang sering disebut sifat wajib.

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Syamsul Bahri
Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali 

Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
 
TIDAK terbantahkan lagi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang patut dijadikan role model dalam segala aspek. Beliau adalah seorang nabi dan rasul yang diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tidak heran jika dalam daftar buku Michael H Hart diakui bahwa Nabi Muhammad sebagai pemimpin tersukses sepanjang sejarah, ini karena pola kepemimpinan beliau sesuai tatanan etis, moral, dan kapasitas, serta integritas beliau. Beliau dilahirkan pada bulan Rabiulawal.

Maka sudah seharusnya jika umat Islam sangat gembira ketika bulan Rabiulawal tiba, karena akan memperingati hari kelahiran manusia yang paling mulia di antara makhluk ciptaan Allah. Berbagai kegiatan dan tradisi akan dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad tersebut, mulai dari ceramah agama, pembacaan selawat kepada beliau sampai kepada perlombaan-perlombaan yang bersifat Islami. 

Dalam detik.com disebutkan tradisi-tradisi di Indonesia yang dilakukan, antara lain, grebek maulid di Yogyakarta dan Surakarta, buat ketupat di Madura Jawa Timur, baayun maulid di Banjar Kalimantan Selatan, masak kuah beulangong di Aceh, panjang mulud di Provinsi Banten, membaca Al-Banzanji di Jepara, dan sebar udikan di Dusun Sukarejo Desa Kedondong Kecamatan Kebonsari, Madiun. 

Lalu timbul pertanyaan, kenapa kita memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau peringatan maulid? Pertanyaan tersebut bisa terjawab lewat satu riwayat, bahwa Abu Lahab, paman Nabi yang kafir setiap hari Senin mendapatkan keringanan dari siksaan yang diterimanya. Semua itu didapatkan oleh Abu Lahab, karena dia telah memerdekakan budaknya tepat pada hari kelahiran keponakannya yang menjadi nabi akhir zaman itu. Abu Lahab sangat bergembira dengan kelahiran beliau.

Nah, jelaslah sekarang kenapa kita memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Karena Abu Lahab saja yang jelas-jelas menentang nabi itu mendapatkan anugerah seperti itu ketika gembira dalam menerima kelahiran Nabi Muhammad SAW, apalagi kita selaku umat sang nabi, tentulah Allah Swt akan menganugerahkan pahala yang lebih besar lagi. 

Selain keistimewaan yang disebutkan di atas, ada banyak hal yang bisa kita contoh dan kita jadikan teladan pada diri beliau. Hal ini dibenarkan oleh Al-Qur’an dalam surah Al-Ahzab:21 “Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat contoh teladan yang baik bagi kamu”. Di antara pelajaran yang dapat kita ambil yaitu:

Pertama, Nabi Muhammad itu seorang suami dan kepala rumah tangga yang baik. Dari sejarah disebutkan bahwa rumah beliau tidak besar, tidak megah dan mewah seperti rumah-rumah kita pada zaman sekarang, namun walaupun rumah beliau sangat memprihatinkan tetap saja dari mulut beliau keluar ucapan “baiti jannati”. 

Jika kita semua bisa meneladani beliau sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga yang baik, tentunya tidak akan ada yang namanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan tidak ada ayah yang tega menyakiti bahkan membunuh anaknya sendiri.

Kedua, Nabi Muhammad mempunyai akhlak mulia sehingga ketika seseorang bertanya kepada Aisyah bagaimana akhlak beliau, Aisyah menjawab “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an”. Akhlak adalah pangkal dari semua kebaikan atau keburukan di muka bumi ini, karena jika seseorang memiliki akhlak yang baik walaupun dia orang biasa niscaya akan baik, namun jika akhlak seseorang sudah jelek, walaupun memiliki ilmu yang banyak, pangkat yang tinggi, jabatan yang hebat niscaya akan jelek pada akhirnya. 

Ketiga, Nabi Muhammad merupakan pemimpin (kepala pemerintahan) yang hebat. Hal ini juga sudah terbukti dalam sejarah betapa hebatnya beliau ketika memimpin tentara di medan pertempuran melawan musuhnya, beliau disegani oleh kawan maupun lawan. Beliau adil dalam memimpin, tidak mementingkan kepentingan pribadi, kelompoknya ataupun golongannya, tetapi beliau mementingkan kepentingan umum. 

Ketika menjadi khalifah (kepala pemerintahan), beliau tidak takabur, tidak mau menang sendiri dan lebih memperhatikan rakyatnya. Nabi Muhammad menjadikan pemerintahan sebagai badan yang efektif menjamin kebahagiaan manusia, memberikan kekuasaan kepada rakyat untuk mengontrol pelaksanaan tugas-tugasnya dan mengkritiknya bila diperlukan. Dia mencela otokrasi yang begitu banyak mendapat dorongan dari kerajaan-kerajaan Byzantin dan Persia pada zamannya. 

Makanya dalam Ensiklopedia Britanica (1982) pernah menyebutkan bahwa dari semua personalitas agama di dunia, Nabi Muhammad-lah yang paling sukses. Selain itu, Nabi Muhammad membersihkan pemerintahan dari kegiatan-kegiatan yang mubazir, ketidakjujuran, dan kesewenang-wenangan. Dia menolak setiap macam pemberian atau suap. 

Stafnya Nabi Muhammad SAW

Jika semua pemimpin mempunyai staf yang mengiringi setiap kegiatannya, maka Nabi Muhammad juga mempunyai staf. Namun antara staf yang dimiliki pemimpin pada umumnya dengan staf yang dimiliki Nabi Muhammad SAW mempunyai perbedaan mencolok. 

Jika staf yang dimiliki pemimpin pada umumnya berupa orang-orang pilihan yang dilengkapi persenjataan lengkap dan keahlian khusus, selalu siaga untuk melindungi sang pemimpin, namun staf yang dimiliki Nabi Muhammad melekat pada diri beliau sendiri, yaitu sifat-sifat beliau yang sering disebut sifat wajib.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved