Rabu, 8 April 2026

Tribunners

Internet of Everything (IoE): Akankah Menggantikan Guru?

Guru justru harus bisa berdiri sejajar dengan generasi yang saat ini sangat melek teknologi.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Haiyudi, S.Pd., M.Ed. - Pengajar di Prabhassorn Vidhaya School, Chonburi, Thailand 

INTERNET of Everything (IoE) sangat populer di mesin pencarian Google akhir-akhir ini. Itu menandakan bahwa keingintahuan masyarakat terkait benda abstrak itu sangat tinggi. IoE sendiri merupakan pengembangan dari Internet of Thing (IoT) yang merupakan keterhubungan semua benda-benda ini melalui jaringan internet. Hal ini sangat erat kaitannya dengan keberadaan teknologi informasi yang makin canggih. Teknologi yang dapat menghubungkan orang dengan orang, benda satu dengan benda lain, data satu dengan data yang lain, serta interelasi serupa antar semua benda yang nyata dan abstrak.

Berbagai contoh IoT dalam kehidupan sehari-hari sering kali tidak kita sadari meskipun sebetulnya sudah kita gunakan. Salah satu yang sangat sering ditemukan adalah keterhubungan manusia melalui smartphone, smart-lock dalam rumah, jual beli secara tidak bertatap muka dan sejenisnya.

Cara kerja IoE yang bermula dari IoT ini sendiri disinyalir akan menghentikan proses berpikir manusia. Semua serba dimudah dengan adanya internet. Manusia dikatakan tidak akan menggunakan kemampuan berpikirnya secara maksimal dikarenakan semua telah tersedia secara instan. Mesin pencarian Google telah menyediakan berbagai informasi yang diperlukan.

Usaha brankas data telah tergantikan dalam bentuk database, serta hal serupa lainnya. Jika pun hal demikian tidak 100 persen kebenarannya, terdapat beberapa pertanyaan menarik jika dikaitkan dengan peran guru dalam memfasilitasi ruang berpikir bagi siswa dalam dunia pendidikan. Apakah peran guru akan tergantikan?

Berbicara perihal pendidikan, kaitannya dengan IoT dan IoE tentu sudah sangat familier didengar. Beragam tulisan terkait digitalisasi pendidikan sudah marak didengungkan akhir-akhir ini. Namun sebetulnya tentu ini merupakan hal yang jauh lebih kompleks dibandingkan perihal digitalisasi pendidikan.

Ada beberapa hal krusial yang harus menjadi pembahasan lebih fokus. Namun, dalam tulisan ini, penulis hanya ingin mengupas sedikit pernyataan dan pertanyaan bahwa IoE akan menghilangkan peran guru di masa yang akan datang (?).

Jamak ditemukan pernyataan bahwa guru akan digantikan oleh peran teknologi di masa yang akan datang, hal ini sedikit mengusik telinga saya. Bahwasanya penyampaian informasi bisa tergantikan oleh teknologi, itu sangat dibenarkan. Oleh karena itu, proses pembelajaran di era sekarang ini sudah seharusnya tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, namun bagaimana mengelola informasi yang didapat.

Ini sudah membantah pernyataan bahwa IoE dapat menghentikan proses berpikir manusia. Sebab jika hanya sebatas mendapatkan informasi, maka bisa jadi proses berpikir memang tidak akan dimanfaatkan secara maksimal, namun jika digunakan untuk mengelola informasi, maka sebaliknya bahwa proses berpikir akan lebih dikedepankan di era sekarang ini.

Banyak yang membuktikan bahwa saat ini kita gagap dalam menyikapi perkembangan teknologi yang begitu pesat, ini membuktikan bahwa proses berpikir masih sangat dibutuhkan jika orientasi kita adalah untuk hidup sejajar dengan perkembangan zaman. Namun, jika hanya berorientasi pada proses memudahkan pembelajaran, kita akan menjadi budak teknologi pada akhirnya nanti.

Begitu juga dengan guru, penulis ingin menegaskan bahwa peran guru tidak akan pernah digantikan teknologi dan jaringan interelasi menggunakan internet jika fokus pendidikan masih memegang muruah utamanya yaitu mengubah perilaku, tidak hanya meningkatkan pengetahuan saja. Dengan menguasai sistem informasi teknologi, proses meningkatkan pengetahuan akan sangat tertolong, namun bagaimana dengan domain pendidikan yang lain?

Keterampilan, jika menilik pada skill atau keterampilan abad ini, hampir semuanya bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi. Namun untuk mendekati sempurna, sepertinya peran teknologi sangat masih dikatakan jauh. Ada berapa banyak kita yang terhubung dengan rekan dari luar daerah dengan mudah? Menunduk seakan menyembah ponsel sementara lupa rumah tetangga kebakaran. Itu menandakan ada kecolongan salah satu keterampilan, katakan saja keterampilan sosial dalam dimensi yang nyata.

Ada banyak sekali lubang kecil yang menjadi celah ceroboh kita pada domain pengetahuan dan keterampilan hanya karena mendewakan teknologi dan interelasi berbasis internet. Akibatnya, lubang kecil itu menjadi besar pada domain pembelajaran yang lain yaitu attitude atau afektif (sikap).

Sikap di sini merupakan domain atau aspek penting terkait dengan emosi, perasaan, dan sikap manusia. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, IoE masih belum bisa terlalu banyak peran dalam meningkatkan dan menstabilkan emosi dan sikap pelajar, justru jamak ditemukan sebaliknya. Maka peran manusia (guru) yang memiliki perasaan sangat dibutuhkan.

Meskipun zaman terus berubah, namun falsafah Jawa yang mengatakan "guru itu digugu dan ditiru" masih dan akan sangat relevan sampai kapan pun. Sepertinya itu yang tidak bisa dilakukan oleh teknologi. Justru sebaliknya, guru harus berpikir bagaimana agar pelajar dapat menyikapi keberadaan teknologi atau semua hal yang dapat terhubung dengan internet dengan bijak. Guru harus melatih emosi dan sikap para pelajar dalam berselancar di dunia yang mana semua bisa terhubung melalui jaringan internet.

Contoh konkret, tidak sedikit pelajar yang pintar dan menguasai teknologi atau interelasi berbasis internet (IoE). Hari-harinya dihabiskan untuk berselancar di internet. Selanjutnya, dikarenakan tidak dapat mengontrol emosi dan sikap, mereka menyalahgunakan kemampuan tersebut dalam bentuk kejahatan dan kriminal.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved