Tribunners
Menghidupkan Kembali Warisan Bahari dari Baskara Bakti
Menghidupkan kembali warisan bahari berarti menghidupkan kembali jati diri bangsa sebagai negeri maritim yang besar.
Oleh: Randi Syafutra - Ketua Tim Dosen PMM Desa Baskara Bakti, Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
TIDAK ada yang lebih berharga bagi sebuah bangsa selain ingatan kolektifnya terhadap laut. Air asin yang mengelilingi Nusantara ini bukan sekadar bentangan biru yang memisahkan pulau dari pulau, melainkan juga tali pengikat peradaban. Sejak berabad-abad lalu, laut menjadi jalur niaga, ruang migrasi, tempat pencarian nafkah, sekaligus sumber lahirnya kearifan lokal. Namun, ironisnya, di tengah jargon Indonesia sebagai poros maritim dunia, kita masih sering lupa bahwa laut bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang budaya dan identitas.
Di Bangka Belitung, ada satu kisah yang dapat menjadi cermin betapa pentingnya menghidupkan kembali warisan bahari agar tidak tercerabut oleh arus modernisasi yang begitu deras, yakni kisah di Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, yang menjadi rumah bagi komunitas Suku Sekak.
Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung di Desa Baskara Bakti memberi kita secercah harapan bahwa warisan bahari tidak harus ditinggalkan di ruang nostalgia, melainkan bisa dihidupkan kembali dengan cara-cara kreatif yang menyatukan literasi, konservasi, dan kearifan sosial.
Suku Sekak yang selama ini dikenal sebagai suku laut, atau sering disebut dengan sebutan “Orang Sekak”, sebenarnya adalah wajah asli dari keterhubungan manusia Indonesia dengan samudra. Mereka tidak lahir dari daratan, melainkan dari riak-riak gelombang yang mengajari cara membaca angin, menafsirkan arus, dan menjaga laut sebagai rumah.
Tetapi kini, sebagaimana banyak komunitas adat pesisir lain, Suku Sekak berada di persimpangan jalan. Modernisasi, ekspansi tambang, dan tekanan ekonomi telah membuat mereka kehilangan sebagian ruang hidup, sekaligus identitas kultural yang diwariskan leluhur.
Kegiatan mahasiswa di Baskara Bakti tidak bisa kita pandang sebagai rutinitas pengabdian semata. Apa yang mereka lakukan merupakan bentuk perlawanan kultural yang sangat halus, sebuah upaya untuk menegaskan kembali bahwa warisan bahari Suku Sekak tidak boleh hilang begitu saja di hadapan logika pembangunan yang hanya melihat laut sebagai tambang pasir timah atau sebagai kawasan real estate wisata.
Program seperti Pojok Literasi Sekak, Kelas Kreatif Foto Cerita, hingga kampanye Laut Bersih adalah cara sederhana namun efektif untuk membangun kesadaran bahwa laut adalah warisan, bukan barang dagangan semata. Dengan melibatkan karang taruna dan pokdarwis, mahasiswa memperlihatkan bagaimana generasi muda bisa menjadi jembatan antara tradisi dengan masa depan, antara kearifan lokal dengan teknologi digital.
Apa yang terjadi di Baskara Bakti sesungguhnya mengingatkan kita pada ironi yang sedang berlangsung di banyak wilayah Indonesia. Di satu sisi, pemerintah pusat gencar berbicara tentang ekonomi biru, ekowisata bahari, dan transformasi sektor kelautan. Tetapi di sisi lain, kita masih sering melihat praktik perusakan ekosistem laut, pencemaran pantai, reklamasi yang menyingkirkan nelayan, serta tambang pasir laut yang merusak ekosistem pesisir.
Baru-baru ini, wacana izin ekspor pasir laut kembali menjadi sorotan nasional. Alasan yang dikemukakan adalah untuk menopang devisa dan kebutuhan pembangunan pulau-pulau kecil, namun masyarakat sipil dan akademisi banyak yang mengingatkan bahwa praktik ini dapat merusak ekosistem laut secara permanen.
Kasus reklamasi di berbagai kota besar, dari Jakarta hingga Makassar, telah menunjukkan betapa mudahnya ekosistem pesisir dikorbankan atas nama pembangunan. Suara komunitas nelayan kecil, termasuk kelompok-kelompok adat pesisir, sering kali tenggelam dalam perdebatan politik yang lebih berpihak pada kepentingan industri besar.
Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali warisan bahari, bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai tawaran solusi. Warisan bahari bukan sekadar tari-tarian tradisional atau cerita rakyat, melainkan cara pandang hidup yang menempatkan laut sebagai ruang ekologi, sosial, sekaligus spiritual.
Suku Sekak dengan segala pengetahuannya tentang arus, musim, hingga keanekaragaman hayati adalah bukti nyata bahwa bangsa ini sejak lama memiliki kearifan ekologis yang sebanding dengan pengetahuan ilmiah modern. Jika pengetahuan itu dirawat, bukan tidak mungkin ia menjadi fondasi bagi pengelolaan laut yang lebih berkelanjutan.
Pemberdayaan masyarakat di Baskara Bakti memperlihatkan bagaimana warisan itu bisa diterjemahkan dalam bentuk baru. Literasi bahari yang diajarkan lewat buku, cerita visual, atau film pendek membuka ruang bagi generasi muda untuk memahami kembali jati diri mereka.
Konservasi yang dilakukan dengan aksi bersih pantai atau peta wisata digital menjembatani tradisi menjaga laut dengan kebutuhan ekonomi masa kini. Sementara itu, kearifan sosial yang dirawat lewat seni dambus atau kriya tradisional mengingatkan bahwa kebudayaan pesisir bukan hanya tentang ikan dan perahu, melainkan juga tentang nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan pada alam.
Randi Syafutra
Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Desa Baskara Bakti
Kecamatan Namang
Bangka Tengah
Bangka Belitung
Suku Sekak
| Hamidah, “Kehilangan Mestika”, dan Urgensi Menata Ulang Makna Ibu di Pulau Bangka |
|
|---|
| Inovasi Hilirisasi Lada Putih sebagai Strategi Membangun Keunggulan Bersaing di Babel |
|
|---|
| Matahari sebagai Masa Depan Bangka Belitung |
|
|---|
| Banjir dan Rentannya Ketahanan Ekonomi Sumatra |
|
|---|
| Humanizing Science And Technology: Ketika Sains Perlu Kembali Pada Nilai-nilai Kemanusiaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250905_Randi-Syafutra.jpg)