Tribunners
AI Bukan Saingan, Melainkan Pelecut
Peran jiwa penulis saat merangkai kata, peran nurani saat menjalin huruf demi huruf tidak akan mampu ditaklukkan AI.
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
"MEREKA tak bisa mengubah zaman. Tapi bisa menjadi penjaga api kecil yang tak padam." Demikian narasi yang dituliskan Denny JA dalam puisi esainya yang berjudul "Artificial Intelligence tak Membunuh Penulis, tapi Mengubahnya".
Api kecil itu wajib dinyalakan dengan semangat berkesadaran bahwa menulis bukan semata-mata demi uang, tetapi lebih kepada demi jiwa manusia dan masa depan generasi. Untuk peradaban dunia.
Menulis adalah bentuk zikir kepada peradaban. Bukan hanya sekadar mencari uang dan popularitas. Apalagi untuk pencitraan semata.
Menulis adalah upaya untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada peradaban zaman untuk para pewaris masa depan bangsa walaupun terasa kecil. Oleh sebab itu, tidak ada apologi yang lain, selain menulis adalah nutrisi untuk kebermajuan zaman dan peradaban manusia di masa mendatang.
Seperti diungkapkan Paulo Coelho, menulis berarti berbagi, yang merupakan bagian dari kondisi manusia untuk ingin berbagi sesuatu pemikiran, ide, dan pendapat.
Soal kurangnya perhatian dan rendahnya penghargaan baik dari pemerintah maupun masyarakat terhadap karya penulis, itu soal lain lagi.
Terpenting, penulis bisa memberikan manfaat bagi peradaban, memberikan energi bagi kehidupan masa depan manusia, menyebarkan kesadaran baru tentang jiwa manusia karena ditulis dari jiwa manusia, berasal dari hati manusia sebagai penulisnya.
Penulis bisa memberikan warna tersendiri bagi umat manusia melalui tulisannya. Menyebarkan kesadaran baru melalui rangkaian narasi dan bertutur kata yang indah untuk rohani kehidupan manusia yang ditulis dari dalam jiwa manusia sebagai penulis.
Menulis bermula dari jiwa sang penulisnya sehingga memiliki kekuatan yang kuat. Memiliki makna yang hakiki karena ditulis melalui hati sang penulisnya.
Jangan pernah berpikir untuk berhenti menulis dan menulis. Menyebarkan tulisan merupakan cara penulis mengontribusikan pikiran intelektual dan emosionalnya kepada dunia, meski secara materi ia tak berlimpah.
Dan jangan pernah berpikir untuk berhenti merajut kata-kata hanya musim "artificial intelligence" (AI) hadir menghampiri zaman. Teknologi akan terus lahir. Itu tidak bisa kita hentikan. Kita harus mampu mengimbangi zaman, membaca zaman, mengikuti kebermajuan zaman.
Bukan tidak mungkin setelah AI, akan lahir AI bentuk lainnya sebagai bagian dari produk teknologi. Pada sisi lain, pembaca membutuhkan santapan nutrisi untuk jiwa dari tulisan yang berasal dari jiwa para penulis pula, bukan yang berasal dari robot dan kawan-kawannya yang dilahirkan dari produk teknologi.
Makna menjadi elemen penting bagi penulis untuk terus menulis. Makna menjadi nutrisi penting bagi penulis untuk terus menulis dan menulis yang tidak dimiliki AI.
Seperti kata Denny JA, menulis bukan untuk pasar, tetapi untuk warisan spiritual dan budaya. Tak ada alasan untuk berhenti menulis hanya karena adanya kompetitor dari produk teknologi. Peran jiwa penulis saat merangkai kata, peran nurani saat menjalin huruf demi huruf tidak akan mampu ditaklukkan AI.
| Hamidah, “Kehilangan Mestika”, dan Urgensi Menata Ulang Makna Ibu di Pulau Bangka |
|
|---|
| Inovasi Hilirisasi Lada Putih sebagai Strategi Membangun Keunggulan Bersaing di Babel |
|
|---|
| Matahari sebagai Masa Depan Bangka Belitung |
|
|---|
| Banjir dan Rentannya Ketahanan Ekonomi Sumatra |
|
|---|
| Humanizing Science And Technology: Ketika Sains Perlu Kembali Pada Nilai-nilai Kemanusiaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250603_Rusmin-Sopian.jpg)