Tribunners
Kuasai Literasi, Taklukkan Dunia
Budaya literasi sesungguhnya sebagai salah satu tolok ukur kecerdasan seseorang.
Oleh: Yuernah, S.Pd.,Gr. - Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Belinyu
DALAM kehidupan sehari-hari sering kita mendengar ada statement seperti ini, ”Kamu tidak tahu ya? Ya, kurang literasi deh, Kamu! Coba baca sekali lagi, ya!” Manakala kita juga sering berkelahi/beradu argumen hanya karena sebuah kata yang kurang kita pahami. Bahkan kurang teliti dalam menyimak, apalagi membaca suatu informasi yang kita dengar. Bahkan sekilas kita dalam membaca sehingga sering terjadinya misunderstanding. Artinya apa? Alangkah penting sekali literasi dalam kehidupan kita agar tidak terjadi misunderstanding.
Nah, apa makna literasi yang sebenarnya? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV (2008), literasi memiliki beberapa arti yaitu kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. Misalnya, literasi komputer. Dan yang terakhir kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.
Dari pengertian di atas, makna literasi ialah kemampuan/keahlian yang dimiliki seseorang meliputi kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan baik lisan maupun tertulis yang diampu di sekolah formal maupun nonformal.
Adapun menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017:6-7) cetakan I mengatakan bahwa literasi di dalam konteks kekinian meliputi ilmu pengetahuan dan teknologi, keuangan, budaya serta kewarganegaraan, kekritisan pikiran dan yang terakhir kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
Sementara Lysay (2018:85) berpendapat bahwa literasi lebih dari sekadar kemampuan baca tulis, namun merupakan kemampuan dalam menggunakan suatu potensi seseorang maupun skill yang dimiliki.
Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando (www. perpusnas. go. id) juga mengatakan bahwa literasi mempunyai beberapa hal pokok yang meliputi pertama, literasi ialah suatu kemampuan seseorang di dalam mengumpulkan informasi dari berbagai sumber bacaan dan bahan lainnya. Kedua, kemampuan di dalam memahami hal yang tersirat maupun tersurat. Ketiga, kemampuan seseorang untuk mengemukakan ide.
Jika dilihat dari paparan beberapa pendapat tokoh di atas, jelas sekali literasi itu sangat penting yang harus dimiliki seseorang. Terlebih lagi dalam mengungkapkan ide/gagasan pikiran bernalar kritis baik lisan maupun tertulis. Kenapa demikian? Karena literasi merupakan kunci awal menuju kesuksesan seseorang apakah dari segi akademik maupun nonakademik.
Seperti penjelasan dari masyarakat modern sekarang ini menilai literasi sangatlah penting bagi diri kita, seperti kutipan pendapat Tisna (2017:126) bahwa dengan adanya literasi dalam artian membaca dan menulis masyarakat tidak akan ketinggalan informasi yang penting dalam kehidupannya serta mereka tidak akan mudah untuk hilang ditelan oleh perubahan zaman sesuai.
Tjahjadarmawan (2017:1) mengatakan bahwa “Siapa yang menguasai informasi, maka dia yang akan menguasai dunia”. Memang sekarang ini pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan gerakan budaya literasi di sekolah yang terbagi ke dalam beberapa hal pokok seperti literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewarganegaraan.
Sekolah sebagai pusat pendidikan formal memiliki peran vital dalam membangun budaya literasi di tengah rendahnya kemampuan literasi nasional. Pemerintah telah mengirimkan buku berkualitas ke sekolah, namun dukungan lebih lanjut tak akan pernah lepas dari sekolah dan masyarakat sangat diperlukan.
Perlu diingat, bahwa rendahnya budaya literasi di sekolah bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga soal produktivitas pemikiran nalar kritis peserta didik. Sekolah harus memastikan bahwa budaya literasi merupakan bagian dari proses pendidikan. Siswa dapat memahami dan mengakses informasi, mampu mengolah, menerapkannya dan mencari serta memecahkan setiap masalah yang dihadapi secara kritis dalam kehidupan sehari-hari.
Nah, sekarang kita kembali dalam lingkungan sekolah. Pertanyaannya adalah bagaimana kita sebagai pendidik/warga sekolah membangun ekosistem budaya literasi di sekolah, terutama di lingkungan pelajar SMA yang notabene pelajar seusia mereka asyik dengan bermain game.
Dengan kerja sama dan saling mendukung semua warga sekolah bukan hal yang mustahil dengan melibatkan upaya sistematis untuk menciptakan dan meningkatkan lingkungan yang mendukung kegiatan membaca, menulis, dan berpikir kritis sehingga berbagai program dan kegiatan yang melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari pendidik/guru, siswa, hingga staf sekolah, serta dukungan dari orang tua/komite sekolah dan masyarakat sekitarnya sangat diharapkan agar dapat berjalan dengan baik.
Berikut ini adalah beberapa langkah dan strategi yang dapat diterapkan untuk membangun ekosistem budaya literasi di sekolah, yaitu perencanaan dan persiapan yang matang dalam membentuk tim literasi. Untuk membentuk tim literasi itu harus melibatkan mulai dari pendidik/guru, siswa, komite sekolah untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program literasi sekolah. Dalam penyusunan program literasi sekolah kita harus merancangkan program literasi yang terstruktur dan berkelanjutan, mencakup kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230207_Yuernah-Guru-SMAN-1-Riau-Silip.jpg)