Selasa, 14 April 2026

Tribunners

Ponsel di Tangan Siswa: Belajar atau Sekadar Bermain?

Handphone bisa jadi guru tambahan, bisa pula jadi perusak konsentrasi.

Editor: suhendri
Dokumentasi Ameliana Tri Prihatini Novianti
Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si. - Guru Kompetensi Keahlian Multimedia/DKV SMKN 1 Simpangkatis 

Oleh: Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si. - Guru Kompetensi Keahlian Multimedia/DKV SMKN 1 Simpangkatis

ALANGKAH mudahnya sebuah benda kecil bernama ponsel (handphone) berpindah tangan, dari saku ke meja, dari meja ke genggaman, lalu tak lepas lagi seharian. Tetapi, betapa sulitnya kita membedakan, apakah ia alat bantu belajar, atau justru candu yang membelenggu. Sesungguhnya, batas antara alat pendidikan dan alat pengalih perhatian sangatlah tipis.

Fenomena global yang tak terelakkan

Teknologi bukanlah barang asing lagi. Siswa di Bangka Belitung, sama halnya dengan siswa di kota besar, kini terbiasa membawa ponsel pintar ke sekolah. Hampir setiap sudut halaman, lorong, bahkan kelas, bisa kita temukan layar yang menyala. Ada yang sibuk bermain gim daring, ada yang berswafoto, ada pula yang menyelami dunia maya dengan obrolan tak putus-putus.

Apakah itu salah? 

Jawaban tidaklah sesederhana hitam dan putih. UNESCO pernah menyinggung bahwa teknologi digital, termasuk handphone, merupakan peluang besar bagi pendidikan abad ke-21. Namun, UNESCO pula yang mengingatkan, tanpa regulasi dan literasi yang matang, ponsel bisa menjadi musuh senyap bagi proses belajar.

Bangka Belitung, dengan segala kekhasannya, tidak terlepas dari arus global itu. Bahkan di sekolah menengah di pelosok desa, kita dapati murid yang telah fasih berselancar di media sosial, meski mungkin masih terbata-bata membaca teks panjang dalam buku.

Apa gerangan kegunaannya? 

Jelas kita punya definisi masing-masing. Guru melihat ponsel sebagai ancaman kedisiplinan. Siswa menilai ponsel sebagai “sumber kehidupan.” Orang tua kerap menganggapnya sebagai sarana keamanan: anak bisa segera dihubungi.

Tetapi, tunggu dulu. Ponsel pintar memang menyediakan seribu manfaat. Ia bisa menjadi kamus instan, perpustakaan berjalan, bahkan ruang kelas tambahan. Melalui video edukasi, siswa bisa memahami cara membuat packaging kemasan custom dengan cara yang tak mereka temukan di papan tulis. Dengan aplikasi belajar daring, mereka bisa berlatih soal tanpa batas.

Namun, fakta di lapangan berkata lain. Sebuah survei kecil yang saya lakukan menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen siswa menggunakan ponsel di jam sekolah bukan untuk belajar, melainkan untuk hiburan. Menonton konten lucu, bermain gim, atau sekadar bergulir di media sosial.

Bagaimana dampaknya?

Rupa-rupa. Ada dampak positif, tetapi tidak sedikit pula dampak negatif yang meresap pelan-pelan.

Di satu sisi, ada siswa yang berhasil memanfaatkan ponsel untuk mengembangkan kreativitas. Mereka membuat konten edukasi, mempelajari desain grafis, atau berjualan kecil-kecilan secara daring. Inilah sisi terang teknologi.

Namun di sisi lain, muncul generasi yang cepat lelah belajar. Ponsel memberi kepuasan instan: like, komentar, dan notifikasi yang jauh lebih cepat ketimbang proses panjang membaca buku atau menulis esai. Akibatnya, konsentrasi menurun, daya tahan belajar menyusut.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved