Bangka Pos Hari Ini

Densus 88: Ada Anak Terpapar Radikalisme di Babel, Situasi Tetap Kondusif

Densus 88 Anti Teror mengonfirmasi ada anak terpapar paham radikal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, namun masyarakat diminta ...

Bangka Pos
Bangka Pos Hari Ini, Kamis (27/11/2025). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Seorang anak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) diketahui terpapar paham radikalisme. Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik karena situasi keamanan di Babel hingga saat ini masih dalam kondisi kondusif.

Hal tersebut disampaikan Kasubdit Kontra Radikal Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri, AKBP Joko Dwi Harsono usai kuliah umum bertema “Peran Kampus sebagai Ruang Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme (IRET): Upaya Antisipasi Kerentanan Mahasiswa dan Keterlibatan Anak Muda dalam Jaringan Ekstremisme Kekerasan” di kampus Universitas Bangka Belitung (UBB), Balunijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Babel, Rabu (26/11).

Kuliah umum itu merupakan kegiatan kolaborasi antara Densus 88 Anti Teror Polri dan pemerintah daerah melalui Bakesbangpol, serta lingkungan kampus UBB.

“Jadi memang ada radikalisme di Babel, tapi masyarakat tidak perlu panik. Situasi tetap kondusif,” kata Joko Dwi Harsono.

Menurutnya, Satuan Tugas Kewilayahan (Satgaswil) Densus 88 Anti Teror Bangka Belitung telah melakukan pembinaan terhadap anak yang terpapar radikalisme tersebut. 

Pembinaan itu meliputi penanaman kembali nasionalisme serta menghilangkan paham paham yang menyimpang.

“Mereka (anak terpapar radikalisme-red) diberikan pelatihan untuk kembali ke masyarakat sehingga mereka setelah dilakukan pembinaan langsung berbaur kembali ke masyarakat” ucapnya.

“Mereka seperti diajarkan servis AC, berkebun dan yang lainnya sehingga setelah dibina mereka tidak pengangguran yang membuat mereka kembali kejalan yang lama” tambah Joko Dwi Harsono.

Dia menjelaskan anakanak dan remaja memang berada pada fase pencarian jati diri sehingga lebih rentan terhadap pengaruh negatif. Oleh karena itu, diperlukan daya cegah dan daya tangkal yang kuat dari berbagai lingkungan.

“Yang paling penting adalah kepedulian. Mulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, kemudian masyarakat, lingkungan pendidikan, hingga lingkungan yang lebih luas di tingkat kabupaten sampai provinsi,” ujarnya. 

Joko Dwi Harsono juga mengingatkan bahwa paham radikal, intoleransi, ekstremisme hingga terorisme saat ini banyak masuk melalui gawai atau gadget yang digunakan anak-anak.

Konten kekerasan dan ajaran menyimpang dapat diakses secara bebas tanpa diketahui orang tua.

“Itu seperti guru yang datang ke rumah tanpa mengetuk pintu. Mereka mengajarkan teknik kekerasan dan informasi-informasi kekerasan lewat gadget,” ungkapnya. 

Jika masyarakat menemukan indikasi penyebaran paham radikal di lingkungan sekitar, mereka diminta segera melapor melalui jalur resmi, mulai dari RT, RW, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Bhabinkamtibmas, hingga Polres atau Polsek terdekat.

“Nanti laporan tersebut akan dikoordinasikan dengan Satgaswil Densus 88 di wilayah setempat. Dan identitas pelapor pasti dirahasiakan serta dilindungi,” pungkasnya.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved