Jumat, 17 April 2026

Jejak Baru Sejarah di Kota Kapur

Harta Peradaban Tersembunyi di Kota Kapur, Artefak Candi, Keramik hingga Struktur Benteng Kuno

Juru pelihara Situs Kota Kapur, Ali Akbar mengatakan kawasan situs yang membentang sekitar 154 hektare itu menyimpan banyak titik bersejarah

|
Editor: Hendra
IST/Koleksi Balar Palembang
Struktur candi di Situs Kota Kapur 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sejumlah artefak berharga menguatkan posisi Situs Kota Kapur di Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai salah satu pusat penting peradaban maritim Kerajaan Sriwijaya.

Dari gelang emas hingga puluhan mangkuk keramik kuno, temuan-temuan tersebut menegaskan bahwa kawasan ini bukan sekadar permukiman kuno, tetapi juga simpul aktivitas keagamaan dan jalur perdagangan internasional pada abad lampau.

Juru pelihara Situs Kota Kapur, Ali Akbar, mengatakan kawasan situs yang membentang sekitar 154 hektare itu menyimpan banyak titik bersejarah, mulai dari struktur candi, benteng tanah, dermaga kuno, hingga lokasi ditemukannya prasasti Kota Kapur—salah satu bukti paling awal kekuasaan Sriwijaya di Pulau Bangka.

Ali Akbar menyebut, untuk memudahkan penelitian, diberikan penamaan pada titik-titik situs bersejarah di Situs Kota Kapur. Penamaan tersebut cukup sederhana yaitu hanya menyebutkan Candi 1, Candi 2, dan Candi 3.

Di Candi 3, yang kini tampak sebagai gundukan tanah setinggi lutut, Ali Akbar mengatakan penelitian tahun 2007 mengungkap temuan penting berupa gelang-gelang emas polos. Artefak ini ditemukan tersimpan di dalam lapisan tanah candi, memperkuat hipotesis bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat aktivitas elite pada masa itu.

“Di dalam area Candi 3 pernah ditemukan perhiasan emas. Bentuknya gelang emas polos,” ujar Ali Akbar yang bertugas sebagai Juru Pelihara Situs Kota Kapur sejak 2011.

Meski struktur bangunan di lokasi ini tidak lagi utuh, hasil ekskavasi memastikan bahwa gundukan tersebut merupakan bagian dari konstruksi candi. Saat ini area Candi 3 dikelilingi perkebunan karet dan jalur setapak yang dilalui warga setiap hari, tanpa banyak yang menyadari bahwa tanah yang mereka pijak pernah menyimpan jejak emas Sriwijaya.

62 Mangkuk Keramik

Temuan yang tak kalah menonjol hadir dari Candi 1, sekitar 200 meter dari Candi 3. Di titik ini, struktur candi terlihat lebih jelas, termasuk bagian menyerupai anak tangga. Namun yang paling menarik adalah penemuan 62 buah mangkuk keramik berwarna putih kecoklatan yang ditemukan dalam satu area penggalian.

“Di Candi 1 ditemukan mangkuk sebanyak 62 biji. Semua berada di kawasan sekitar struktur candi,” jelas Ali.

Keramik tersebut diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi periode, asal produksi, dan fungsi dalam ritus keagamaan atau aktivitas masyarakat masa lalu. Seperti halnya Candi 3, seluruh temuan di Candi 1 dilapisi pelindung dan ditimbun kembali untuk memastikan kelestariannya.

Artefak Lain

Selaras dengan temuan gelang emas dan mangkuk keramik, penelitian Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi sebelumnya juga mengungkap keberadaan fragmen arca, potongan emas, botol kaca kuno, hingga tumpukan keramik China di kawasan situs.

Prasasti kota kapur. Batu dengan tinggi satu meter lebih ini bertuliskan aksara kuno, dengan terjemahan disampingnya, prasasti ini pertama kali ditemukan oleh seorang pegawai pamong praja tahun 1892, J.K. VAN DER MUELEN. Berkat penemuan inilah ditemukan kerajaan Sriwijaya di Kota Kapur.
Prasasti kota kapur. Batu dengan tinggi satu meter lebih ini bertuliskan aksara kuno, dengan terjemahan disampingnya, prasasti ini pertama kali ditemukan oleh seorang pegawai pamong praja tahun 1892, J.K. VAN DER MUELEN. Berkat penemuan inilah ditemukan kerajaan Sriwijaya di Kota Kapur. (Dokumentasi/Bangka Pos)

Keberadaan artefak emas dan keramik asing ini memperkuat dugaan bahwa Kota Kapur dulu menjadi pusat perputaran barang berharga dalam jalur perdagangan Sriwijaya, serta interaksi dengan jaringan dagang Asia Timur.

Selain artefak, Situs Kota Kapur juga menyimpan struktur besar berupa Benteng Tanah sepanjang sekitar 1,5 kilometer, dengan tinggi 4–5 meter dan ketebalan sekitar 10 meter. Berbeda dengan kawasan candi, benteng ini tidak menyimpan artefak di bagian dalam, menguatkan fungsi utamanya sebagai sistem pertahanan kerajaan dari ancaman perairan Selat Bangka.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved