Senin, 13 April 2026

Berita Bangka Selatan

Cuaca Ekstrem Dongkrak Hasil Tangkapan Nelayan, Harga Ikan di Basel Justru Turun

Cuaca ekstrem yang melanda perairan Bangka Selatan justru membawa berkah bagi nelayan dengan meningkatnya hasil tangkapan ikan. ..

Bangkapos.com/Cepi Marlianto/Cepi Marlianto
RAPIKAN JARING -- Beberapa orang nelayan merapikan jaring usai melaut di pesisir pantai Batu Perahu, Senin (5/1/2026). Di tengah cuaca barat laut yang cenderung ekstrem, aktivitas nelayan tetap berlangsung karena kondisi tersebut justru membawa peningkatan hasil tangkapan ikan, terutama ikan bawal hitam, meski harga jual ikan di pasaran sedang mengalami penurunan. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Cuaca ekstrem yang melanda perairan Kepulauan Bangka Belitung dalam beberapa bulan terakhir tidak sepenuhnya membawa dampak negatif bagi nelayan. Di tengah angin barat laut dan gelombang laut yang kerap tinggi, hasil tangkapan ikan nelayan justru mengalami peningkatan.

Namun, melimpahnya hasil laut tersebut belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan nelayan. Dalam sepekan terakhir, harga ikan di tingkat nelayan justru mengalami penurunan, sehingga pendapatan nelayan belum meningkat secara signifikan.

Kondisi ini dirasakan Fatur (45), seorang nelayan di kawasan Batu Perahu, Kelurahan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Saat ditemui di pesisir Pantai Batu Perahu, Senin (5/1/2026), Fatur tampak sibuk merapikan jaring tangkap bersama rekan-rekannya untuk persiapan melaut.

Nelayan di sisi kiri mengenakan jaket abu-abu berpenutup kepala untuk melindungi diri dari terik matahari, sambil membentangkan jaring yang kusut agar siap digunakan kembali. Sementara nelayan di sisi kanan mengenakan kaus lengan pendek berwarna merah muda kusam dan celana panjang gelap, tampak tersenyum sambil membantu mengurai jaring dengan tangan kosong. 

Di sekitar mereka terlihat karung, wadah plastik, serta perlengkapan melaut lainnya yang berserakan di pasir. Di latar belakang, beberapa perahu kayu nelayan berlabuh di tepi laut dengan bendera kecil terpasang di tiang kapal, serta seorang nelayan lain yang juga tengah menyiapkan jaring. 

Menurutnya bahwa cuaca ekstrem yang terjadi saat ini justru menjadi kondisi yang dinantikan oleh para nelayan, khususnya bagi mereka yang menangkap ikan bawal hitam. Jenis ikan tersebut memang banyak muncul pada musim cuaca barat laut seperti sekarang.

“Memang di tengah cuaca ekstrem saat ini hasil tangkapan ikan justru meningkat,” kata dia kepada Bangkapos.com, Senin (5/1/2026).

Fatur menjelaskan, di tengah cuaca barat laut, hasil tangkapan ikan bisa mencapai 60 hingga 100 kilogram per hari. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan kondisi cuaca normal. Di mana hasil tangkapan nelayan rata-rata berada di kisaran 50 kilogram per hari. Meski demikian, Fatur menegaskan bahwa nelayan tetap mengutamakan keselamatan. 

RAPIKAN JARING -- Beberapa orang nelayan merapikan jaring usai melaut di pesisir pantai Batu Perahu, Senin (5/1/2026). Di tengah cuaca barat laut yang cenderung ekstrem, aktivitas nelayan tetap berlangsung karena kondisi tersebut justru membawa peningkatan hasil tangkapan ikan, terutama ikan bawal hitam, meski harga jual ikan di pasaran sedang mengalami penurunan.
RAPIKAN JARING -- Beberapa orang nelayan merapikan jaring usai melaut di pesisir pantai Batu Perahu, Senin (5/1/2026). Di tengah cuaca barat laut yang cenderung ekstrem, aktivitas nelayan tetap berlangsung karena kondisi tersebut justru membawa peningkatan hasil tangkapan ikan, terutama ikan bawal hitam, meski harga jual ikan di pasaran sedang mengalami penurunan. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto/Cepi Marlianto)

Ia bersama rekan-rekannya tidak memaksakan diri untuk melaut apabila angin bertiup terlalu kencang dan gelombang laut membahayakan. Pasalnya, ia mengaku biasa melaut hingga jarak sekitar 30 mil dari garis pantai. Namun jarak tempuh tersebut disesuaikan dengan kondisi cuaca yang terjadi setiap harinya.

“Kalau angin kuat dan ombak cukup tinggi, kami juga tidak akan berani melaut. Keselamatan tetap yang utama,” ujar Fatur.

Di sisi lain, meningkatnya hasil tangkapan tidak sepenuhnya membawa kabar baik bagi nelayan. Harga ikan bawal di tingkat nelayan justru mengalami penurunan. Saat ini, ikan bawal dibanderol sekitar Rp36.000 per kilogram, turun dari harga sebelumnya yang mencapai Rp45.000 per kilogram. Penurunan harga tersebut, kata dia, baru dirasakan dalam satu minggu terakhir. 

Namun hingga kini, nelayan belum mengetahui secara pasti penyebab turunnya harga ikan di pasaran maupun bagaimana perkembangan harga pada bulan-bulan mendatang. Fatur mengaku tidak memahami secara detail mekanisme pasar yang menyebabkan harga ikan turun. Persoalan tersebut lebih berkaitan dengan sistem bisnis dan rantai distribusi hasil tangkapan ikan.

“Saya tidak tahu kenapa harga ikan turun, karena ini masalahnya bisnis. Karena banyak nelayan yang menjual ke PT,” katanya singkat.

Kondisi ini membuat nelayan harus lebih berhitung dalam mengelola hasil tangkapan mereka. Meski harga jual menurun, Fatur menyebut pihaknya tetap berupaya agar pendapatan dari hasil melaut masih dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ia berharap harga ikan ke depan kembali stabil, sehingga peningkatan hasil tangkapan yang diperoleh nelayan di musim cuaca ekstrem ini dapat berdampak langsung terhadap kesejahteraan mereka.

Di tengah cuaca laut yang sulit diprediksi, nelayan seperti Fatur terus bergantung pada pengalaman dan naluri dalam membaca kondisi alam. Cuaca ekstrem memang membawa risiko, tetapi bagi nelayan yang memahami pola musim, kondisi tersebut juga menjadi peluang untuk mendapatkan hasil laut yang melimpah, meski tantangan harga jual masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

“Kalau bilang cukup atau tidak untuk memenuhi kebutuhan hari dengan harga jual ikan saat ini kita upayakan cukup,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved