Berita Bangka Selatan
Cuaca Ekstrem Picu Lonjakan ISPA di Bangka Selatan, Kasus Influenza Naik 30 Persen
Slamet Wahidin, mengatakan kondisi cuaca dingin dan lembap akibat hujan berkepanjangan menjadi faktor utama meningkatnya kasus influenza
Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Hendra
BANGKAPOS.COM, BANGKA – Intensitas hujan yang tinggi dalam tiga bulan terakhir di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, berdampak pada meningkatnya kasus penyakit saluran pernapasan, khususnya influenza.
Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat sepanjang Desember 2025, seiring cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, mengatakan kondisi cuaca dingin dan lembap akibat hujan berkepanjangan menjadi faktor utama meningkatnya kasus influenza di tengah masyarakat.
Selama satu bulan terakhir, pihaknya mencatat lonjakan kasus ISPA, terutama influenza, sebesar 30 persen atau sebanyak 187 kasus.
Secara keseluruhan, jumlah kasus ISPA pada Desember 2025 tercatat sebanyak 837 kasus. Angka ini meningkat dibandingkan November 2025 yang mencapai 650 kasus.
“Ini karena pengaruh cuaca ekstrem dengan intensitas hujan yang semakin tinggi. Perkembangan bakteri dan virus akan lebih cepat ketika cuaca dingin,” kata Slamet Wahidin kepada Bangkapos.com, Senin (5/1/2026).
Meski demikian, Slamet menyebutkan kenaikan kasus ISPA tersebut masih dalam batas yang dapat dikendalikan dan belum mengkhawatirkan.
Pihaknya terus melakukan pemantauan perkembangan kasus di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit.
Ia menjelaskan kelompok yang paling rentan terpapar influenza adalah anak-anak, khususnya usia 1 hingga 10 tahun.
Anak-anak dinilai lebih mudah terserang influenza karena sistem kekebalan tubuh yang belum matang serta belum banyak terpapar virus, sehingga antibodi belum terbentuk secara optimal.
“Selain itu, kebiasaan anak-anak yang sering menyentuh wajah, kurang menjaga kebersihan, serta sering bermain di lingkungan ramai turut mempermudah penularan virus influenza, baik melalui percikan droplet maupun benda yang terkontaminasi,” jelasnya.
Tak hanya anak-anak, lanjut Slamet, kelompok lanjut usia (lansia) dan masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala influenza yang lebih berat.
“Lansia serta masyarakat yang memiliki penyakit komorbid seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit menahun lainnya memiliki risiko lebih tinggi terpapar influenza,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah daerah mengintensifkan upaya pencegahan melalui peningkatan edukasi kepada masyarakat. Salah satu langkah utama yakni mengajak masyarakat menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, masyarakat diimbau menjaga daya tahan tubuh dengan berolahraga secara rutin, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menambah asupan vitamin. Slamet juga menyarankan vaksinasi atau imunisasi bagi kelompok rentan, terutama lansia, ibu hamil, anak-anak, serta masyarakat dengan penyakit komorbid.
| Dua ASN Basel Susul Justiar Noer, Tersangka Skandal SP3AT Fiktif Bertambah, Ini Jabatan dan Perannya |
|
|---|
| Ikut Buat SP3AT Fiktif dan Pemetaan, Staf Bappelitbangda Bangka Selatan jadi Tersangka Tipikor |
|
|---|
| Kajari Basel Beberkan Peran Dua ASN Bersama Bupati Dalam Dugaan Korupsi Penerbitan Surat Tanah |
|
|---|
| Dua ASN Bangka Selatan Ditetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Penerbitan Surat Tanah Fiktif |
|
|---|
| Polsek Lepar Pongok Panen Raya Jagung Pipil, Hasilnya Belum Memuaskan Cuma 500 Kg |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Slamet-Wahidin-Dinkes-Bangka-Selatan.jpg)