Rabu, 22 April 2026

Bangka Pos Hari Ini

Bahan Awet dan Tahan Lama, Program Gentengisasi Pertahankan Ciri Khas Lokal

Genteng pertama digunakan di Pulau Bangka pada bangunan Gudang Tempilang, Bunut, Biat, Bendul, dan Rambat sekitar 1769–1770 atas perintah

Editor: Hendra
Bangka Pos/Capture
Bangka Pos Cetak Kamis 12/2/2026 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Suasana asri menyelimuti Kampung Ulu, Mentok, Kabupaten Bangka Barat, pada Rabu (11/2) pagi.

Aliran sungai yang tenang, kicauan burung, dan hembusan angin sepoi-sepoi berpadu dengan sinar matahari cerah, menghadirkan ketenangan khas perkampungan tua.

Kampung Melayu ini tampak lengang. Beberapa warga sibuk di dalam rumah, sementara sebagian sudah berangkat bekerja.

Keistimewaan Kampung Ulu terletak pada rumah panggungnya yang berdinding papan dan beratap genteng, arsitektur tradisional yang tetap dijaga selama ratusan tahun.

Atap genteng membuat interior rumah lebih sejuk, ditunjang banyak jendela di dinding rumah. Sejak dulu, percetakan genteng di wilayah itu menjadi alasan masyarakat menggunakan material ini untuk hunian mereka.

RUMAH KAYU--Kampung Ulu dikenal sebagai Kampung Melayu yang memiliki ciri khas rumah berdinding papan dan beratap genteng di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, foto diambil, Rabu (11/2/2026).
RUMAH KAYU--Kampung Ulu dikenal sebagai Kampung Melayu yang memiliki ciri khas rumah berdinding papan dan beratap genteng di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, foto diambil, Rabu (11/2/2026). (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Ahmad Repilianto, Ketua RW 07 Kampung Ulu yang akrab disapa Okto, ditemui saat menyapu halaman rumahnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar rumah tua di kampung ini telah berusia lebih dari 100 tahun dan masih menggunakan genteng pepeh, tipis dan ringan.

“Sejak awal dibangun, rumah-rumah di sini pakai genteng karena lebih adem. Sekarang sebagian sudah diganti karena rusak,” ujarnya, Rabu (11/2).

Dulu hampir seluruh rumah beratap genteng, tetapi sebagian warga kini beralih menggunakan asbes atau seng karena harga genteng relatif tinggi dan genteng lama mulai rapuh.

Meski begitu, masih ada rumah yang mempertahankan atap genteng, termasuk rumah almarhum Parhan Ali, mantan Bupati Bangka Barat.

“Sekitar 40 persen warga masih menggunakan genteng,” tambah Okto.

Genteng tersebut diproduksi lokal, dahulu dicetak di pabrik Desa Air Belo yang kini sudah tidak beroperasi lagi.

Okto menyambut positif wacana program gentengisasi Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai dapat mempertahankan ciri khas rumah tradisional sekaligus membuat hunian lebih sejuk dan nyaman.

“Dari segi kenyamanan, genteng tetap pilihan terbaik,” katanya.

Sejak Abad ke-18

Pengamat sejarah Bangka sekaligus Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat, M. Ferhad Irvan, menjelaskan penggunaan genteng di Mentok dan sekitarnya telah berlangsung sejak abad ke-18.

Genteng awalnya identik dengan bangunan permanen yang stabil, umumnya berdinding bata. Produksi awal diperkirakan sejak masa Kesultanan Palembang.

Genteng pertama digunakan di Pulau Bangka pada bangunan Gudang Tempilang, Bunut, Biat, Bendul, dan Rambat sekitar 1769–1770 atas perintah Tumenggung Dita Manggala.

Ciri khasnya tipis menyerupai bambu bertangkup, dikenal sebagai genteng bambu. Jejak bangunan beratap genteng masih terlihat di Kota Panji Belinyu, Tempilang, hingga Pangkal Rambat. Bangunan tua umumnya menggunakan dinding beton atau bata dan atap genteng.

Saat Mentok menjadi pusat pemerintahan kolonial Inggris, bangunan awal masih dominan kayu. Produksi genteng diduga berkembang di Ranggam dan Belo Laut.

Masuk era kolonial Belanda, penggunaan bata dan genteng semakin meluas, terlihat pada Kantor Syahbandar Mentok dan rumah dinas camat Mentok. Bahkan warga kaya memiliki pabrik bata sendiri.

“Di Kampung Ulu, hampir seluruh rumah lama beratap genteng. Namun penggunaan genteng lokal mulai meredup sejak 1990-an karena masyarakat lebih memilih seng atau asbes, harganya lebih murah dan pemasangannya praktis,” kata Ferhad. Tantangan penghidupan industri genteng lokal antara lain keterampilan perajin yang menipis, biaya produksi tinggi, dan ketersediaan kayu bakar yang terbatas.

Tersisih di Pasar Modern

Di toko material modern, istilah genteng pepeh atau genteng laki-bini nyaris tak terdengar lagi. Rini, penjaga toko di Air Itam, Pangkalpinang, mengatakan mereka kini hanya menjual genteng orange, berbahan tanah liat lokal dengan stok terbatas, harga sekitar Rp6.000 per keping.

“Genteng memang lebih mahal, sekarang orang lebih banyak pilih spandek,” kata Rini.

Spandek dijual sekitar Rp40.000 per meter, lebih ringan, cepat dipasang, dan efisien untuk pembangunan rumah modern.

Kondisi serupa ditemui di toko bangunan kawasan Semabung Lama. Yani, penjaga toko, menyebut permintaan genteng tanah liat menurun drastis.

“Yang mencari genteng sudah jarang, paling untuk bangunan lama atau orang tertentu yang memang lebih suka genteng,” katanya.

Hampir seluruh rumah baru di Pangkalpinang menggunakan spandek karena pemasangannya cepat dan lebih hemat biaya.

Meski tren modern menggeser penggunaan genteng, Kampung Ulu tetap mempertahankan tradisi rumah panggung dengan atap genteng.

Program gentengisasi diharapkan dapat menghidupkan kembali penggunaan genteng lokal, menjaga ciri khas budaya, sekaligus menghadirkan hunian yang lebih sejuk dan nyaman di tengah modernisasi. (t2/riu)

Representasi Budaya Bangka

DI tengah wacana nasional program gentengisasi yang kembali mengemuka sebagai solusi hunian layak rakyat di era Presiden Prabowo Subianto, Bangka Belitung menyimpan sejarah panjang penggunaan genteng tanah liat yang melampaui fungsi teknis.

Bagi masyarakat lokal, genteng bukan sekadar penutup atap, tetapi simbol kearifan lokal, nilai budaya, dan filosofi hidup yang melekat pada kehidupan sehari-hari.

Budayawan Kepulauan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, menyebut arsitektur tradisional Bangka lahir dari adaptasi panjang terhadap lingkungan tropis yang lembap dan curah hujan tinggi.

“Arsitektur vernakular Bangka adalah hasil pemikiran adaptif terhadap tantangan alam. Dari atap, kita mengenal istilah bubung, yang bermakna menyambung satu atap dengan atap lain hingga membentuk kampung,” ujar Elvian kepada Bangka Pos, Senin (9/2).

Di bawah bubung itu, kehidupan sosial terjalin. Atap bukan sekadar pelindung panas dan hujan, tetapi simbol keterhubungan antarrumah, antarkeluarga, bahkan antara manusia dan Sang Pencipta. Dalam konstruksi tradisional, elemen seperti alang dan tiang arsy merepresentasikan relasi vertikal spiritual dalam struktur bangunan masyarakat Bangka.

Sebelum tanah liat dijadikan genteng terakota, masyarakat Bangka menggunakan daun, ilalang, ijuk, hingga kulit kayu sebagai penutup rumah. Seiring berkembangnya teknik, tanah liat yang melimpah di pulau ini diolah menjadi genteng tahan panas sekaligus hujan tropis.

“Tanah liat tersedia melimpah di Bangka. Genteng terakota cocok untuk iklim tropis basah, meredam panas sekaligus tahan hujan tinggi,” jelas Elvian.

Genteng itu kemudian berkembang menjadi bentuk khas yang dikenal sebagai genteng laki-bini. Bentuknya berbeda, namun dipasang berpasangan, saling mengunci dan menutup celah. Sistem interlocking ini bukan hanya teknik konstruksi, tetapi sarat makna budaya.

“Genteng laki-bini adalah simbol kesetaraan gender. Bentuknya berbeda, tetapi saling melengkapi dan menutupi. Seperti peran suami dan istri dalam rumah tangga,” kata Elvian. Ia menambahkan, “Ketika laki dan bini menyatu, atap menjadi kuat. Itu metafora rumah tangga orang Bangka.”

Filosofi itu terasa nyata ketika memandang atap rumah-rumah lama di Bangka, seperti bangunan beratap merah tua yang masih bertahan di tengah kepungan arsitektur modern. Genteng-genteng itu mungkin tak lagi mengilap, tetapi susunannya tetap rapi, menjadi saksi bisu peralihan zaman dari rumah panggung kayu hingga bangunan kolonial peninggalan Gemeente.  (t2)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved