Sabtu, 16 Mei 2026

Berita Pangkalpinang

Radikalisme Masuk Lewat Game Online, Densus 88 Ungkap Modus Perekrutan Anak

Proses penyebaran ideologi ekstrem juga mulai merambah ke berbagai platform digital yang akrab dengan kehidupan anak-anak dan remaja

Tayang:
Penulis: Erlangga | Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Erlangga
PENCEGAHAN RADIKALISME - Densus 88 AT Polri Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung memberikan sosialisasi pencegahan paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan kepada pelajar di SMPN 7 Pangkalpinang pada Jumat (13/03/2026). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Penyebaran paham radikalisme kini tidak lagi terbatas pada pertemuan langsung atau forum diskusi tertentu.

Seiring perkembangan teknologi, proses penyebaran ideologi ekstrem juga mulai merambah ke berbagai platform digital yang akrab dengan kehidupan anak-anak dan remaja, salah satunya melalui game online.

Hal tersebut disampaikan oleh IPDA Hariyadi dari Densus 88 Antiteror Polri Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung saat memberikan sosialisasi pencegahan paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan kepada para pelajar di SMPN 7 Pangkalpinang, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, Bangka.

Dalam kegiatan tersebut, ia menjelaskan bahwa sejumlah kasus radikalisasi yang melibatkan anak-anak bermula dari interaksi sederhana melalui fitur komunikasi yang terdapat di dalam game online.

“Awalnya mereka berkenalan melalui chat room dalam game online. Dari situ pelaku biasanya mulai membangun hubungan pertemanan dengan anak-anak yang menjadi target,” jelas IPDA Hariyadi pada Jumat (13/03/2026).

Ia mengatakan pendekatan yang dilakukan biasanya berlangsung secara perlahan dan tidak menimbulkan kecurigaan. Setelah hubungan komunikasi tersebut mulai intens, pelaku kemudian mengarahkan percakapan ke platform komunikasi lain yang lebih privat.

“Biasanya setelah saling mengenal di game, komunikasi dilanjutkan melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp. Dari situ kemudian dibuat grup-grup kecil yang lebih tertutup,” ujarnya.

Menurutnya, proses tersebut dilakukan secara bertahap agar anak yang menjadi target tidak langsung menyadari arah pembicaraan yang sebenarnya.

“Di dalam grup itu biasanya mulai dibagikan berbagai konten yang bersifat provokatif. Mulai dari narasi kebencian terhadap kelompok tertentu, propaganda ideologi ekstrem, hingga ajakan untuk membenci pihak lain,” katanya.

Bahkan dalam beberapa kasus, materi yang dibagikan tidak hanya berupa narasi ideologi, tetapi juga konten yang berkaitan dengan tindakan kekerasan.

“Dalam beberapa kasus ada juga yang membagikan materi terkait cara membuat bahan peledak atau bentuk kekerasan lainnya,” ujar IPDA Hariyadi.

Ia menegaskan bahwa paparan konten semacam itu dapat memengaruhi pola pikir anak secara perlahan.

Menurutnya, jika paparan tersebut berlangsung dalam waktu yang lama tanpa adanya pengawasan atau pendampingan dari orang tua dan guru, maka dapat memicu perubahan sikap dan perilaku anak.

“Jika anak terus terpapar narasi kebencian dan kekerasan, lama-kelamaan bisa memengaruhi cara berpikirnya,” ujarnya.

Perubahan tersebut bisa terlihat dari sikap anak yang mulai menunjukkan perilaku intoleran terhadap orang lain, menolak bergaul dengan teman yang berbeda latar belakang, hingga menunjukkan sikap agresif.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved