Selasa, 19 Mei 2026

Berita Bangka Selatan

Cerita Ridwan Mudik Lewat Jalur "Cepat", Lebih Murah Tapi Penuh Risiko

Speedboat dari Pelabuhan Marzuki. Lebih cepat, lebih praktis. Perjalanan yang biasanya terasa panjang kini ditempuh dalam satu hingga dua jam

Tayang:
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
DERMAGA MARZUKI - Aktivitas bongkar muat penumpang dan barang di Dermaga Marzuki, Sukadamai, Selasa (17/3/2026). Momentum Mudik Lebaran masyarakat banyak memanfaatkan pelabuhan tradisional untuk pulang ke kampung halaman. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Panas terik matahari menyengat kulit sejak pagi belum benar-benar meninggi. Cahaya putihnya memantul di permukaan laut, berkilau tajam hingga membuat mata harus menyipit.

Di Pelabuhan Marzuki, Sukadamai, Kelurahan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung hiruk-pikuk pemudik mulai terasa. Bercampur dengan suara mesin speedboat yang meraung tak sabar memecah tenang air.

Ridwan (23) berdiri di tepi dermaga, mengusap keringat yang mulai mengalir di pelipisnya. Mengenakan kaos panjang berwarna merah marun bergaris putih, ia meniti setiap pijakan di atas kapal, sembari menatap laut lepas. Laut biru yang luas itu adalah jalan pulangnya hari ini.

“Kalau lewat Tanjung Kalian, pasti sudah penuh antrean,” katanya kepada Bangkapos.com, Selasa (17/3/2026).

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya membuatnya tak ingin mengulang hal yang sama. Berjam-jam menunggu kapal, berdesakan dengan penumpang lain, sementara waktu terus berjalan. Lebaran terasa semakin dekat dan ia tak ingin terlambat sampai di rumah.

Itulah sebabnya ia memilih jalur berbeda tahun ini, speedboat dari Pelabuhan Marzuki. Lebih cepat, lebih praktis. Perjalanan yang biasanya terasa panjang kini bisa ditempuh dalam satu hingga dua jam saja. Ongkosnya pun masih masuk akal baginya, Rp200 ribu untuk satu kali penyeberangan.

Bagi Ridwan, itu harga yang pantas untuk waktu yang dihemat. Sementara jika melewati Pelabuhan Tanjung Kalian, Muntok, Kabupaten Bangka Selatan biaya yang dikeluarkan justru lebih besar bahkan bisa mencapai Rp700 ribu sekali jalan.

Angin laut berembus pelan, namun tak cukup mengusir panas yang menggantung di udara. Beberapa penumpang lain tampak sibuk, ada yang menata barang, ada pula yang sekadar duduk diam, menatap jauh seperti dirinya.

Semua membawa tujuan yang sama, pulang. Ridwan menarik napas dalam. Dalam benaknya terbayang Sungai Pedada, Desa Simpang Tiga Jaya, Kecamatan Tulung Selapan, tempat ia dilahirkan. 

Di Toboali, ia menjalani hari sebagai nelayan bersama kakak iparnya. Laut sudah menjadi bagian hidupnya. Namun kali ini, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan jalan untuk kembali ke kampung halaman.

Sebuah panggilan memecah lamunannya. Penumpang diminta bersiap naik. Ridwan melangkah mendekat, sembari menyerahkan ongkos kepada nahkoda kapal.

Lalu naik ke dalam speedboat. Mesin sudah menyala, getarannya terasa sampai ke bangku yang ia duduki. Namun di balik keyakinannya, terselip rasa was-was yang tak bisa dihindari.

“Kalau cuaca buruk, ombak bisa besar,” ujarnya

Ia tahu betul bagaimana laut bisa berubah. Dalam sekejap, tenang bisa menjadi gelombang tinggi yang menguji nyali. Terlebih dengan perahu kecil seperti ini. Ridwan kembali menatap langit. Matahari masih bersinar terik, sementara awan tipis bergerak perlahan di kejauhan.

“Mudah-mudahan cuaca hari ini bagus,” harapnya.

Tak lama, suara mesin meninggi. Speedboat mulai bergerak, perlahan meninggalkan dermaga. Air terbelah di belakangnya, membentuk jejak putih yang memanjang.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved