Minggu, 19 April 2026

Tribunners

Hari Kartini: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Sosok Raden Ajeng Kartini menjadi simbol perubahan yang melampaui zamannya dan hingga kini, pemikirannya tetap relevan.

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Tonghari
Oleh: Tonghari (Yaknan) - Pranta Humas IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung 

Oleh: Tonghari (Yaknan) - Pranta Humas IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Ibu kita Kartini
Putri Sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

LAGU karangan WR Supratman tersebut tentulah sangat familier di telinga anak-anak Indonesia, juga kita yang beranjak remaja, bahkan orang tua sekalipun. Saat masih di bangku sekolah, lagu itu sering kita dengar, atau bahkan kita nyanyikan dengan penuh semangat.

Di tengah kemajuan zaman yang pesat, sosok Raden Ajeng Kartini tetap menjadi simbol perjuangan perempuan Indonesia yang tak lekang oleh waktu. Setiap tanggal 21 April, kita
memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap pejuang emansipasi wanita
yang telah membuka jalan bagi kemajuan perempuan Indonesia.

Kartini terlahir dari keluarga ningrat Jawa. Figur yang mempunyai pemikiran yang sangat modern, seorang pembelajaran, berani, santun, kritis, agamis sekaligus pemikir membuat Kartini dikenal dengan sosok sangat penting dalam sejarah kebangkitan semangat kaum perempuan pribumi. Karenanya bukanlah suatu hal yang berlebihan apabila tanggal kelahiran Kartini, 21 April yang dikenal sebagai Hari Kartini, sangat diapreasiasi oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan.

Sosok Raden Ajeng Kartini menjadi simbol perubahan yang melampaui zamannya dan hingga kini pemikirannya tetap relevan. Pikiran-pikiran ini kemudian dikumpulkan dan dibukukan dalam karya legendaris berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Masa lalu 

Pada masa Kartini hidup, perempuan berada dalam keterbatasan besar: akses pendidikan sempit, kebebasan berpendapat dibatasi, dan peran sosial dikekang oleh adat. Kartini hadir sebagai suara yang menggugat ketidakadilan tersebut. Melalui surat-suratnya, ia menyalakan kesadaran bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Masa lalu ini adalah fondasi perjuangan masa di mana keberanian berpikir saja sudah merupakan bentuk perlawanan.

Dalam hampir setiap peringatan Hari Kartini, ada banyak lomba digelar, mulai dari lomba baju kebaya, sanggul terbaik, fashion show, baca puisi, lomba memasak, dan seterusnya. Dan seingat penulis, bukan hanya anak sekolahan yang sibuk di hari itu, namunjuga para orang tua, khususnya ibu, yang semenjak pagi buta sudah mendandani putrinya dengan sanggul ataupun pakaian kebaya. 

Dan tidak hanya itu, berbagai organisasi kewanitaan juga ikut memperingati Hari Kartini melalui sejumlah perlombaan atau kegiatan-kegiatan kewanitaan lainnya. Pokoknya, semangat kebangsaan di setiap tanggal 21 April itu kembali dirajut melalui tema peringatan Hari Kartini.

Menjadi Kartini masa kini

Melihat zaman yang makin berkembang dan telah memasuki era 4.0, bahkan 5.0 di mana masyarakat dilimpahkan dengan hidangan iptek seperti media digital yang makin canggih, perempuan juga dihadapkan pada peluang dan hambatan yang tidak bisa disepelekan. Peluang untuk terus menempuh pendidikan setinggi mungkin serta bebas untuk menentukan karier sebaik mungkin tanpa adanya diskriminasi dari siapa pun. Adapun hambatannya berupa penindasan ataupun kekerasan seksual dan paham patriarki yang masih saja membudaya di kalangan masyarakat secara umum.

Menjadi Kartini masa kini bukan sekadar mengenang sosok pahlawan perempuan di masa lalu, tetapi juga tentang melanjutkan semangat perjuangan yang relevan dengan tantangan zaman sekarang. Jika dahulu Kartini berjuang untuk akses pendidikan dan kesetaraan perempuan, hari ini perjuangan itu hadir dalam bentuk yang lebih luas, yakni melawan stereotipe, memperjuangkan kesempatan yang adil, dan berani bersuara di tengah perubahan sosial yang cepat.

Perempuan masa kini hidup di era yang penuh peluang, tetapi juga tekanan. Di satu sisi, akses pendidikan dan karier makin terbuka. Namun di sisi lain, ekspektasi sosial sering kali masih membatasi perempuan diharapkan sukses di karier, tetapi juga sempurna dalam peran
domestik. Menjadi Kartini masa kini berarti berani mendefinisikan pilihan hidup sendiri tanpa harus tunduk pada standar yang tidak realistis.

Selain itu, Kartini masa kini juga hadir dalam keberanian untuk berpikir kritis dan mandiri. Di era digital, informasi begitu mudah diakses, tetapi tidak semuanya membawa kebaikan. Perempuan perlu cerdas memilah informasi, berani menyuarakan pendapat, dan tidak takut berbeda. Suara perempuan hari ini memiliki ruang yang lebih besar dan itu adalah peluang yang harus dimanfaatkan untuk membawa perubahan positif.

Sepatutnya semangat juang RA Kartini perlu diaplikasikan dalam kehidupan modern ini, membentuk diri menjadi implementasi Kartini masa kini yang memiliki peran besar dalam revolusi peradaban bangsa. Untuk mempersiapkan diri menjadi Kartini masa kini, bisa dimulai sejak dini dan semuda mungkin. Peluang berpendidikan tanpa batasan sudah terbuka lebar, tinggal bagaimana perempuan menghadirkan kemauan tinggi untuk menjadi perempuan terdidik yang siap untuk mendidik putra putri bangsa.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved