Senin, 20 April 2026

Dampak Kenaikan Harga BBM di Babel

Pengepul Sawit di Babel Tercekik BBM, Codet Minta Sopir Truk Balik Kanan

“Seumur hidup saya pakai truk, ini kenaikan paling besar, sampai 100 persen. Dampaknya luar biasa,” kata Codet pengepul sawit di Bangka Belitung.

|
Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Petugas SPBU mengisi BBM kendaraan di SPBU 24.331.99 Desa Gadung, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (19/4/2026). Per tanggal 18 April 2026 terdapat tiga produk BBM non subsidi yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Handphone atau ponsel Susanto (35), warga Desa Pangkalbuluh, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tiba-tiba berdering, Sabtu (18/4/2026).

Panggilan telepon datang dari sopir yang membawa truk milik Codet, sapaan akrabnya, ke Stasiun Pengisian
Bahan Bakar Umum (SPBU).

Dia pun terkejut saat sang sopir mengabarkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Dexlite.

Baca juga: DPP APINDO Babel Menilai Dampak Kenaikan Harga BBM Paling Terasa bagi Sektor Industri

“Saya kira naiknya paling seribu dua ribu, ternyata langsung melonjak hampir dua kali lipat. Saya suruh sopir balik dulu karena masih ada sisa,” ujar Codet saat dihubungi Bangkapos.com, Minggu (19/4/2026).

lihat fotoGrafis pengepul sawit terdampak kenaikan harga BBM di Bangka Belitung.
Grafis pengepul sawit terdampak kenaikan harga BBM di Bangka Belitung.

Menurut Codet, lonjakan harga tersebut terjadi secara mendadak tanpa informasi yang memadai, sehingga mengacaukan perhitungan operasional yang telah disusun sebelumnya.

Baca juga: Akademisi: BBM Naik Picu Harga Barang dan Tarif Transportasi Melonjak

Baca juga: Harga BBM Terbaru 40 Provinsi Se-Indonesia, Segini Pertamax, Pertadex, Dexlite di Bangka Belitung

“Perasaan pertama jelas kaget dan marah. Tidak ada pemberitahuan, tibatiba naik tinggi. Mau tidak mau semua hitungan operasional harus diubah,” katanya.

Sebelum kenaikan, harga Dexlite berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per liter. Dengan dana sekitar Rp350.000, ia bisa mendapatkan 25 liter BBM untuk sekali pengisian.

“Biasanya sekali isi 25 liter cukup Rp350 ribu. Dalam sehari bisa habis 25 sampai 40 liter, tergantung jarak. Kalau jauh, biaya bisa sampai Rp600 ribu,” jelasnya.

Kini, harga Dexlite di Pertashop setempat mencapai sekitar Rp24.150 per liter. Dampaknya, biaya operasional harian melonjak signifikan.
 
“Sekarang 25 liter sudah sekitar Rp600 ribu. Kalau sehari habis 40 liter, bisa tembus Rp900 ribu lebih,
bahkan hampir Rp1 juta kalau antar sampai Bangka Barat. Modal BBM saja sudah dua kali lipat, jelas bikin stres,” ungkapnya.

Codet menilai kenaikan kali ini merupakan yang tertinggi selama ia menjalankan usaha angkutan sawit.

“Seumur hidup saya pakai truk, ini kenaikan paling besar, sampai 100 persen. Dampaknya luar biasa, terutama untuk usaha transportasi,” tegasnya.

Kesulitan Antre

Di sisi lain, penggunaan BBM subsidi bukan tanpa kendala. Ia mengaku kesulitan memperoleh solar bersubsidi karena antrean panjang dan keterbatasan stok.

“Kalau pakai subsidi sulit. Antre dari subuh, jam 9 pagi sudah habis. Sementara pekerjaan kami tidak bisa menunggu,” katanya.
 
Ia juga menyoroti bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya dirasakan kalangan tertentu, tetapi juga pelaku usaha kecil.

“Katanya untuk kendaraan tertentu, tapi kami yang kerja juga kena. Pendapatan tidak besar, tapi biaya operasional naik drastis. Ini sangat menekan,” ujarnya.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved